Pulpen Berharga

1080 Words
Flashback 2017 “Sebenarnya ….” Hanum tertegun, ia makin menunduk dalam saat Anya menyentuh pundaknya, suaranya terbata, pundaknya bergetar. “Kak Adam berharap saya bisa ikut lomba literasi itu, tapi …” Suaranya mendadak hilang, ia mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. “Orang tua saya melarang saya untuk ikut … katanya itu buang-buang waktu. Ngabisin uang. Saya gak boleh ikut. Harus cari uang.” Tak tahu harus berkata apa, Anya hanya mampu menggenggam tangan Hanum yang gemetar, berusaha menenangkan gadis belia itu. Dua hari berikutnya, Anya tak sengaja melihat Adam yang tiba-tiba di cegat dua orang berbadan besar di depan gerbang Yayasan, saat hendak pulang, satunya membawa seperti tongkat bisbol dari besi, yang satunya mengancam Adam dengan sesuatu yang ada di balik jaketnya., “Oh kamu orangnya!” kata orang yang membawa tongkat besi. “Gara-gara kamu, anak saya jadi ngebantah apa yang saya suruh!” “Hari-hari kerjaannya hanya baca buku gak penting itu!” “Saya gak mau tahu! Kalau tempat ini gak mau ditutup, usir orang ini!” “Kalau gak … liat aja, tempat ini bakal saya hancurin!” Setelah keributan itu, wanita paruh baya yang Anya kenal sebagai salah satu pendiri Yayasan Literasi, keluar, menghampiri Adam. Mereka bercakap-cakap lama, raut wajah wanita paruh baya itu nampak serius, tegang lalu menunduk pelan, sialnya Anya tidak dapat mendengarnya percakapan mereka dengan jelas. Saat Anya berhasil mendapatkan tempat yang pas untuk mendengar percakapan mereka, percakapan itu telah berakhir. Yang berhasil Anya dengar hanya, “Saya harap Yayasan Literasi tetap bisa mengirimkan orang untuk ikut lomba itu … lomba ini bisa jadi cara agar Yayasan ini bisa tetap beroperasional,” tutup Adam. Wanita paruh baya itu hanya berdehem pelan, tak mengangguk atau pun menjawab. “Nak, ternyata kamu masih sekecil ini ….” Anya tersenyum memandangi ukuran janin sebesar kacang walnut yang ada di dalam rahimnya, hasil kedua USG-nya. USG pertama, janinya terlihat hanya seukuran kacang merah kecil. Kini, kehamilan Anya sudah memasuki 8 minggu awal, detak jantungnya makin terdengar, dan yang terpenting kondisi bayinya berkembang dengan baik. “Ayahmu pasti juga ingin melihat foto pertamamu ini.” Anya tak dapat menahan senyumnya, pikirannya terbang jauh menerkah reaksi Adam saat melihat foto ini, sudut bibir Adam yang terangkat, rona wajahnya, seri pada matanya, alisnya yang terangkat … Semua ekspresi itu, ingin Anya lihat secara langsung. Anya sangat bersemangat. “Tapi … ibu rasa foto ini kurang jelas…” gumam Anya, menimbang-nimbang, lalu mengangguk pelan. “Butuh sentuhan sedikit seni ….” Anya buru-buru ke kamarnya mencari pulpen. Ia berencana memberikan lingkaran merah pada gambar janinnya, agar Adam bisa melihat dengan jelas bakal anak mereka. “Gak ada yang warna merah …” Anya kecewa mendapati ia tak pernah suka mengoleksi pulpen dengan tinta selain berwarna hitam. Saat Anya nyaris menyerah, hendak menggunakan pulpen hitam, tangannya terhenti di udara, sudut matanya melihat pulpen di atas meja di samping tempat tidurnya. Pulpen milik Adam yang tertinggal kemarin. “Surat Adam kemarin pake tinta warna merah!” seru Anya nyaris melompat. Ia langsung mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja kamarnya. Untuk sesaat Anya berharap bisa memiliki pulpen seindah milik Adam. Pulpen itu terasa dingin saat disentuh, bentuknya ramping, ringkas, berwarna silvernya mendekati abu-abu. Di dekat penjepitnya, terukir nama lengkap Adam dengan huruf kecil dan rapih, tampak permanen, seolah pulpen itu memang diciptakan hanya untuk Adam. Saat ujung pulpen menyentuh foto USG, tinta merah mengalir halus, tanpa jeda, tak bergumpal, lingkaran merah terbentuk sempurna. Tidak lupa Anya menambahkan emot senyum sederhana di sampingnya. Di belakang gambar Anya menambah catatan singkat, “delapan pekan. Perjalanan panjang menuju dunia.” “Cantik!” Anya makin tak bisa berkedip memandangi USG anaknya, berjam-jam waktu berlalu, d**a Anya dipenuhi gemuruh tak sabar, jarinya spontan memutar-mutar kecil pulpen yang di tangannya. “Kapan Adam pulang?” seru Anya tertahan, tangannya spontan meremas pulpen, greget melihat jarum jam yang terlihat malas-malasan bergerak. Hingga … Krek! Anya tersadar. Ujung penjepit pulpen milik Adam patah di tangannya. “Anya …” panggil Adam dari luar. Anya buru-buru beranjak dari meja kamarnya. Anya kaget mendapati Adam sudah berdiri tidak jauh dari ambang pintu kamarnya. Adam mengambil satu langkah kecil, lalu berhenti, matanya berkelana, singgah sebentar lalu menjauh, sementara bibirnya nampak turun, alisnya bertaut tipis. “Apa kemarin saya meninggalkan pulpen berwarna silver dengan tulisan nama saya di kamar kamu?” tanya Adam dalam satu tarikan nafas. Anya tertegun sesaat, menimbang-nimbang, ia harus mengatakan apa? Meminta maaf karena tanpa sengaja merusak pulpen milik Adam, atau menunjukkan hasil USG-nya? “Sepertinya saya meninggalkan pulpen itu di kamarmu,” lanjut Adam. Anya memilih opsi yang pertama terlebih dahulu, memberitahu Adam. “Ya, ada …” Raut wajah Adam seketika berubah, otot-otot di mendengur, rileks. “Mana?” tanya cepat. Anya mengeluarkan pulpen itu dari dalam genggaman tangan kirinya. “Tapi, tadi saya tidak sengaja sedikit merusakannya, jepitnya patah—” Belum sempat Anya merampungkan kalimatnya, Adam dengan cepat berjalan ke arahnya, langkahnya sama sekali tak ragu mendekat sepeeti sebekumnya, ia mengambil atau lebih tempatnya merampas pulpen itu dari tangan Anya. Anya tertegun sesaat, kaget melihat respon Adam. “Itu hanya kerusakan kecil. Saya akan membawanya ke toko untuk diperbaiki,” lanjut Anya, hendak meraih pulpen itu dari tangan Adam, tapi Adam dengan cepat menjauhkan pulpen itu dari jangkauan tangan Anya. Tanpa mengatakan apa pun, Adam berbalik, melangkah pergi. Anya buru-buru menyusul langkah Adam. Ia belum menunjukkan hasil USG anak mereka. “Adam tunggu …” Setelah sepuluh langkah berjalan cepat, Adam menghentikan langkahnya, berbalik sepenuhnya pada Anya yang ikut menghentikan langkahnya, cepat-cepat mengatur napas yang sedikit berantakan. Tiga detik berikutnya, tanpa jeda, Adam mencodong wajahnya, lalu mengecup pelan bibir Anya. Rutinitas wajib telah dijalankan. Tapi, bukan itu yang Anya maksud, tapi tak masalah.. Anya lantas menarik pelan tangan kanan yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya, senyum di wajah Anya sudah siap mengembang. Namun, belum sempat Anya mengangkat kertas itu, Adam tiba-tiba berkata. “Pergi dari hadapan saya!” Anya mengerjap, bingung. Baru ia sadari sendari tadi tangan kiri Adam mengempal keras. “Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba marah? Apa karena pulpen itu? Itu hanya kerusakan kecil, tak berarti—” “Bagi saya pulpen ini jauh lebih berarti, bahkan dibandingkan apa pun yang ada padamu!” Anya menarik kembali tangan kanannya, kebahagiaan semu yang sejak tadi memenuhi kepalanya seketika runtuh. Bahkan dirinya tak lebih berharga dari sebuah pulpen? Bagaimana dengan anaknya? Saya harap perkataan itu hanya untuk saya saja. Anya mengusap perutnya. Ayahmu tak mungkin membencimu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD