Permintaan dan Lelucon

1088 Words
Flashback, 2017 “Maaf, Kak … tapi pendaftaran sudah ditutup lima belas menit tadi.” Keringat mengalir di seluruh wajah Anya, napasnya terputus-putus, kakinya terasa nyeri setelah terpaksa berlari 10 km untuk sampai di tempat ini. “Tapi, Kak, saya serius ingin ikut lomba ini. Saya tadi telat karena ….” Ada kecelakaan di jalan yang Anya lewati, macet total tak terelakan. Ojek yang Anya pesan, tak mau mengantar Anya. Buruknya lagi tak ada satu pun angkutan umum yang mau melewati satu-satunya rute yang Anya tuju. “Tadi macet dan hujan …” gumam Anya, tak begitu jelas, terdistraksi sekitar, ekornya matanya mendapati beberapa orang melirik ke arahnya, menghardik keadaan Anya. Wajah cantiknya sebagian tertutup rambut pirang yang tergerai kusut, sebagian basah, sebagian lagi lepek. Gaun selututnya, di bagian depan dan belakang, dipenuhi noda cokelat bekas cipratan air got di jalan. Di ujung sepatunya, gumpalan lumpur mengering, sementara bau lembab perlahan menyeruak dari tubuhnya. Beberapa orang yang ada di sekitarnya mengambil langkah menjauh, beberapa lagi menggeleng pelan setelah menatapnya, beberapa nampak berbisik pelan, lalu pergi sembari diam-diam tertawa. Orang gila mana yang masih punya malu untuk berada di tempat umum dengan kondisinya sekarang? Hanya Anya! Demi keinginan orang yang bahkan tak tahu dia hidup. Wanita yang duduk di meja pendaftaran menatap Anya, sorot matanya tak menghakimi, lembut dan dalam, ia nampak tersenyum hangat, meski kepalanya menggeleng tegas, tak bisa melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. “Maaf … saya tidak bisa membantumu.” ujarnya lagi, meruntuhkan satu-satunya harapan Anya. Terlambat tetap terlambat. Semiris apapun kondisimu! Anya keluar dari gedung dengan sisa tenaga yang ada, langkahnya lunglai, ia tak begitu peduli dengan tatapan orang yang menyorotinya bagai makhluk astral atau jijik padanya. Jangan tanya apa yang ada di kepala Anya sekarang? Tidak lain hanya ada bayangan wajah sedih Adam, penuh, hingga membuat dadanya sesak, matanya memburam, air mata meleleh dari sudut mata, Anya tak punya fokus untuk memperhatikan langkahnya dengan benar hingga tiba-tiba … dari arah yang tak Anya duga, sebuah motor hilang kendali. Brak! Tubuh ringkih Anya terlempar jauh, dadanya terbentur ujung keras pembatas jalan, seketika ia kesulitan bernapas, napasnya tersenggal, putus-putus, rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhnya, tubuhnya tak bisa digerakkan, darah segar mengalir dari pelipis wajahnya, pandangannya kabur saat orang-orang berlari ke arahnya, mengeruminya bagai pertunjukkan tragis. Kesadaran Anya melemah, seiring rasa sakit di area dadanya yang makin mencekik, sakit, lemah. Seketika semua gelap. Anya meraih ponselnya. Menekan nomor yang sejak tadi ada di kepalanya, tangannya tertahan di udara lama, menatap kolom chat yang belum ia masukkan teks. Maryam, apa pulpen ini darimu? Kirim. . . “Adam, ada yang ingin saya katakan,” ujar Anya pelan. Adam melihat ponselnya, raut wajahnya tak berubah, ia mencodongkan tubuhnya ke arah Anya, menautkan bibirnya ke bibir Anya sesaat, lalu kembali menarik tubuhnya menjauh. Rapih. Cepat. Tak ada emosi. “Adam!” henti Anya. Kali ini Anya dengan cepat menahan lengan Adam— dua kali lipat besar dari tangannya. “Sebelum kamu berangkat kerja, saya ingin menyampaikan pesan darinya.” Adam jelas tahu siapa -nya yang Anya maksud, mulut Adam nampak bergumam tanpa suara melafadzkan kata ‘Maryam?’ “Dia meminta saya untuk membuang semua barang yang dia pernah kasih padamu,” lanjut Anya. Adam tidak beraksi. Sudut matanya tertuju pada tangan Anya yang masih bertengger di lengannya. Anya segera melepas tangannya dari lengan Adam. “Bagaimana menurutmu?” tanya Anya. “Jika kamu tak percaya ucapan saya, saya bisa langsung menghubunginya sekarang.” Anya mengangkat ponselnya, sibuk mencari nomor Maryam, tapi Adam melangkah melewatinya. “Dia ingin kamu melupakannya. Dia ingin kamu tidak lagi mengganggu hidupnya!” sambung Anya satu kali napas, kali ini Anya tak ingin menutupi apa pun. Adam harus tahu jika Maryam tak mengingingkannya, sama seperti Adam yang tak pernah mengingingkannya! Lagi. Adam tak memberi respon apa pun. Tetap melangkah. “Adam—” suara Anya tertahan. Dada Anya bergemuruh, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia berdiri kaku, matanya menatap punggung Adam yang makin menjauh. . . “Anya!” Suara berat Adam memecah hening panjang di rumah, disusul derap langkah kaki cepat, berat, tergesa-gesa. Anya yang sejak tadi duduk di sofa, hanya mengerjap menatap Adam yang datang menghampirinya. Ekspresi datar yang biasanya selalu bertengger di wajah Adam, hilang seketika, berganti raut wajah penuh kerut, kepalanya menoleh kanan kiri, matanya berkelana, dua tangannya mengepal keras. “Apa kamu yang membuang semua barang di kamar saya?” Deru napas Adam memburu, berat, cepat. Anya bangkit, balas menatap Adam, tak gentar. “Ya.” “Anya—” Rahang Adam mengeras. Mata cokelat Adam mengunci mata Anya. Tajam, dingin. Menusuk. “Tadi pagi saya sudah memberitahumu, apa kamu pikir saya bercanda?” “Apa hakmu melakukan itu!” Deru napas Adam makin berantakan, urat lehernya menonjol. “Jangan melewati batasmu!” “Batas apa? Selama saya masih menjadi istrimu, apa pun barang milikmu adalah milik saya juga! Saya punya hak untuk menyimpan atau membuangnya!” “Anya!” “Dia yang menyuruh saya. Jika kamu tak suka, protes saja padanya. Apa kamu berani?” Tangan Adam terkepal, urat di tangannya makin terlihat jelas. “Di mana kamu buang semua barang itu?” “Di tong sampah—” Belum selesai Anya berbicara, Adam sudah lebih dulu mengambil langkah lebar, tergesa-gesa keluar rumah. “Tukang sampah baru saja mengambil sampahnya tadi sore,” sambung Anya. Tong sampah di hadapan Adam sudah kosong. Tubuh Adam membatu. “Barang-barang itu bukan lagi milikmu. Kamu sudah kehilangannya!” Seketika kilatan kemarahan memenuhi mata Adam, guyuran hujan tak mampu meredam nyalak membara pada mata Adam. Tanpa mengabaikan kehadiran Anya, Adam melangkah cepat ke garansi, menyambar kunci motor yang tergantung di sana. Begitu cepat. Seolah tak boleh ada satu detik pun yang terlewatkan. “Tidak akan saya biarkan rencana licikmu kali ini berhasil!” tekad Adam. “Kamu mau ke mana?” Anya langsung mencegat motor Adam yang sudah menyala. “Kamu tidak boleh pergi!” “Minggir!” “Tidak!” Anya menggeleng keras. “Kamu tidak boleh pergi, Adam. Kamu belum memberi saya ciuman malam ini!” “Minggir!” “Tidak!” “Minggir!” “Hanya demi barang-barang itu, kamu sampai melanggar perjanjian kita?!” teriak Anya sejadi-jadinya, suaranya bias ditelan hujan yang makin deras. Adam tak bergeming dari motor. “Minggir!” “Tidak akan! Selama saya masih hidup, kamu tidak bisa mengingkari janji yang sudah kita sepakati!” “Kamu tidak boleh pergi!” Adam tiba-tiba menggember kencang motornya, memekakan telinga Anya, tubuh Anya gemetar, beraksi cepat, menepi ketakutan. Motor Adam melaju, pergi, menerobos hujan. Tanpa menoleh. Sedikit pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD