Anya langsung bangkit dari sofa begitu telingannya mendapati suara motor mendekat, disusul derap pintu terbuka lalu tertutup lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Anya sudah tiga kali tertidur, lalu terbangun, tertidur lagi dan akhirnya memutuskan untuk terjaga.
Anya melihat Adam menyeret kakinya, tangan dan tatapan matanya kosong, sorot matanya enggan naik, terus jatuh pada keramik yang dilewati, tiap langkahnya bagai detik pelan yang lambat, baju dan celannya terlihat lembab, bagian depan bajunya seperti kering di badan men8nggalkan bekas, di rambutnya tersisa air hujan yang membuat rambut hitam Adam makin mengkilap.
Tanpa menoleh, Adam melewati Anya begitu saja, mengabaikan keberadaan Anya yang sendari tadi menatapnya cemas.
“Wajahmu merah sekali!” Anya mengejar langkah Adam. Ia tanpa peduli, langsung menanggarkan tangannya pada wajah Adam.
Begitu kulit mereka bertemu, tangan Anya bagai tersengat p****t panci yang baru saja di angkat dari bibir kompor.
Anya mengerjap, spontan menarik kecil tangannya, menatap Adam yang enggan melihatnya.
“Kamu sakit!” seru Anya terdengar seperti tuduhan.
“Berapa lama kamu hujan-hujanan di luar?” sengit Anya lagi, tak peduli setidak peduli apa Adam mengabaikannya.
“Kenapa kamu melakukan hal konyol seperti ini ?”
Anya mengambil selimut yang ada di sofa—selimut miliknya yang dari tadi menjaganya agar tak kedinginan. Selimut itu tebal, hangat dan beraroma khas Anya, buah peach.
Adam bergeming saja, tak bergerak atau menolak, tubuh Adam yang jauh lebih tinggi dari Anya— mungkin selisih 20 cm, menyulitkan pergerakan tangan Anya yang terbatas saat mencoba membuat seluruh tubuh Adam tertutupi selimut.
“Tak ada orang waras yang rela hujan-hujanan seperti ini!” Anya menjijit. Tangannya berhasil sampai di pundak Adam. “Kecuali mereka yang di kepalanya hanya ada cinta tak berguna!”
“Kamu tak akan pernah paham apa yang saya rasakan!” sahut Adam. Hembusan napas hangatnya menyapa telinga Anya. Anya tertegun sesaat, sebelum otaknya mengambil alih.
“Saya berharap dalam hidup tidak akan pernah merasakan hal sebodoh itu! Lari menerobos hujan, seluruh tubuh basah, kotor dan lembab! Orang gila mana yang akan melakukan itu! Sekali pun saya gila, saya tidak ingin melakukannya lagi,” sahut Anya, datar dan cepat.
“Lagi?” Adam bergumam, menunduk kecil.
Nada suaranya terdengar seperti ejekan untuk Anya.
Saat mata Adam mendapati mata Anya menatap lekat ke arahnya, ia hendak menepis pelan tangan Anya, tapi Anya terlebih dahulu membuat gerakan, menarik lengan Adam untuk duduk di sofa.
Tanpa mengatakan apa pun, Anya mengambil segelas air hangat dan handuk. Adam hanya menatap handuk itu dengan pandangan enggan, tangannya tak kunjung bergerak, sorot matanya seolah berkata ‘aku tak butuh semua itu’.
“Jangan sakit! Jika kamu sakit itu pasti akan mempengaruhi perjanjian kita! Saya tidak ingin kamu mencari alasan apa pun untuk tidak mencium saya!”
“Bahkan kamu masih hutang satu ciuman malam ini pada saya!” lanjut Anya.
Adam mendengus, tertawa sumbang akan penyataan Anya barusan. “Saya sakit! Apa kamu masih mau saya cium?”
“Kenapa tidak?” Anya langsung mencodongkan wajahnya ke arah wajah Adam.
Adam tak menduga, spontan mengelak begitu hembusan pelan napas Anya menyapa wajahnya.
“Dasar gila!” umpat Adam pelan.
Anya balas mendengus, tangannya kembali meraih handuk, menjatuhkan handuk itu di tepat kepala Adam, belum sempat Adam bereaksi, Anya dengan cepat mengosok rambut Adam yang basah. Adam menolak. Anya memaksa.
“Ini sudah malam. Saya ingin tidur,” ujar Anya setelah jeda panjang yang terjadi.
Suhu tubuh Adam tak sepanas tadi setelah setelah tubuhnya hangat dan kering.
Adam tak menjawab, matanya melirik kecil ke arah Anya yang telah duduk di sampingnya, tangannya baru saja lepas dari mengosok kepalanya dengan paksa.
“Ayo cium saya,” ujar Anya.
Mata Adam membulat, ia pikir sebelumnya Anya hanya berusaha menantangnya saja, tidak benar-benar berpikir Anya mau dicium orang yang tengah sakit, apalagi dia sedang hamil.
“Kamu—”
“Tak perlu banyak cacian!” sekat Anya cepat.
“Baiklah, jika kamu takut ada virus atau bakteri yang tertular, maka kita bisa melakukannya dengan pembatas,” ucap Anya. Ia tanpa ragu mencodongkan wajahnya makin dekat dengan Adam, lalu menarik sapu tangan dari saku baju tidurnya, meletakkannya di tengah wajah mereka.
Adam nampak bingung sesaat, tak habis pikir, ciuman bertiraikan sapu tangan? Anya tak menghiraukan kebingunan Adam, yang dia mau hanya jatah ciumannya.
Adam menyerah, akhirnya menautkan bibirnya pada bibir Anya di balik sapu tangan.
Dua detik sudah cukup untuk Anya. Anya langsung menarik wajahnya menjauh dari Adam. Menyimpan sapu tangannya kembali ke saku. Ujung bibirnya sedikit naik tanpa ia sadari saat melihat sapu tangan itu.
“Habiskan air hangatnya sebelum tidur.”
Flashback 2017,
Anya terbangun dari tidur panjangnya, entah sudah berapa lama, berapa hari, atau mungkin berapa bulan? Tak ada orang di sisinya. Anya tak menyalahkan siapa pun, saat kecelakaan itu terjadi ia memang tak membawa apa pun mengenai identitasnya, bahkan ponsel pun tak dibawa.
Anya merasa bersalah pada pihak rumah sakit, dan mungkin orang yang menabraknnya, pasti selama tidurnya, mereka frustasi hendak menghubungi siapa, dan sialnya saat Anya bangun pun, ia tak bisa memberikan jawaban yang mereka tunggu.
Tak ada yang bisa mereka hubungi.
Satu-satunya yang mungkin akan cemas mendengar kecelakaan yang menimpanya hanya Angga, sahabatnya— tapi jelas Anya tak ingin merepotkannya. Yang Anya punya hanya dirinya sendiri.
Dia bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Anya sempat punya keluarga, yang ia pikir akan menjadi jawaban atas penantian panjangnya di panti asuhan, tapi … mereka meninggalkannya, pergi, membuangnya, sama seperti orang tua kandungnya yang entah di mana, mungkin sudah dimakan hantu—begitu cara Anya berdamai dengan nasibnya.
Untungnya, Anya tidak tidur selama yang ia duga. Anya melihat kalender di atas meja samping ranjangnya, masih di tahun dan bulan yang sama, hanya lewat dua hari dari kecelakaan itu.
Tak lama setelah Anya siuman, orang yang menabrak Anya masuk. Remaja pria tanggung dan sepasang orang tua paruh baya, menatap takut-takut pada Anya, lalu menunduk.
“Maafkan anak kami,” ujar mereka lirih. “Tolong jangan hukum dia. Ini semua kesalahan kami.”
Selama di rumah sakit, Anya berusaha untuk pulih secepatnya. Semua biaya rumah sakit di tanggung orang tua remaja yang menabraknya. Anya tak bisa menuntut lebih pada mereka. Mereka sama menyedihkannya dengan kehidupan Anya, sama-sama tak punya uang dan hanya mengandalkan sedikit tabungan darurat yang mereka punya.
Saat berjalan-jalan sendirian di taman, Anya tak sengaja melihat Adam, berjalan cepat menyusuri lorong, di kedua tangannya, penuh dengan kantong kresek transparan yang menampilkan banyak permen di dalamnya. Anya diam-diam mengikuti langkah Adam dari jauh.
Ternyata Adam berjalan menuju bangsal anak-anak, langkah Anya mendadak memelan, ragu, sebelumnya, Anya sangat menghindari bangsal ini. Di sana banyak pejuang kecil tangguh dan orang tua hangat yang selalu berusaha tersenyum di hadapan buah hati mereka.
Anya takut ketegaraan mereka terusik akan ketidakmampuanya menahan tangis. Namun, saat Anya hendak berbalik, mata Anya mendapati Adam menghentikan langkahnya, setelah terdengar suara ringan seorang wanita memanggilnya dari kejauhan.
Wanita itu menggunakan jas putih, di samping saku jasnya terlihat name tag bertuliskan namanya “Maryam”, Dokter Anak.
Keduanya bercakap-cakap sejenak, tak lama Maryam mengangguk dan meraih satu kantong kresek dari tangan Adam, mengarahkan langkah Adam untuk mengikutinya.
Dari kaca-kaca yang ada dan terbatas, Anya melihat Adam dan Maryam, nampak serasi, membagikan permen pada anak-anak, senyum tulus, sorot mata teduh dan kebaikan keduanya mampu menular ke semua orang, fakta yang berusaha Anya lawan, tapi otaknya menghardik, hatinya meringis dan langkahnya perlahan mundur menjauh, makin jauh, hingga Anya tak dapat melihat keduanya lagi.
Anya terduduk di sebuah kursi, sendirian, entah kapan, pundaknya mulai bergetar, air mata mulai meleleh dari kelopak matanya. Suara yang berusaha dia tahan, perlahan keluar.
“Sapu tangan ini buat Kakak aja.”
Tangis Anya terhenti saat tiba-tiba tangan kecil menjulurkan sapu tangan putih polos dengan jahitan kecil huruf A di ujung sudutnya, yang dilipat rapih, ke arah Anya.
“Biar Kakak gak sedih lagi.”
Anak perempuan kecil itu tersenyum, yang ajaibnya langsung menular begitu saja di wajah Anya.
“Sapu tangan ini spesial. Kakak harus balikin ke pemiliknya kalau sudah gak nangis lagi.”
***