Tak Cukup Layak

1184 Words
Sejak pagi, Anya sudah berkutik di dapur dengan penampilan bagai astronot jadi-jadian, setengah wajahnya ditutupi masker, lalu dibungkus helm besar yang kacanya diturunkan—langsung berembun saat terkena aroma panas dari masakkan, yang membuat Anya kerepotan, tapi semua itu jauh lebih baik ketimbang ia harus mencium aroma rempah yang membuatnya mual. Anya hanya ingin membuatkan bubur hangat tomat kesukaan Adam. Resep ini Anya pelajari dari ibu mertuanya, Maya. Maya bilang, saat Adam sakit, napsu makannya menurun, tapi Adam selalu menghabiskan bubur hangat tomat yang dibuat. Satu jam berhasil Anya lewati tanpa mual dan muntah, satu mangkuk sup hangat pun sudah jadi. Anya tak sabar ingin memberikan bubur ini untuk Adam. Namun, begitu Anya hendak mendorong pintu kamar Adam yang setengah terbuka, tangannya terhenti di udara saat mendengar perkataan Adam di telepon, “Adam baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit tidak enak badan. Ibu dan ayah tenang saja.” “Tapi ….” Adam menjeda kalimatnya. Dari celah pintu yang setengah terbuka, Anya melihat Adam mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. “Apa ibu dan ayah bisa datang ke sini? Setidaknya menginap satu atau dua hari di sini agar Anya tidak mendekat.” “Yah….” Adam menghela napas panjang. Matanya bergerak gusar. “Tidak seperti Ayah duga. Adam dan Anya … hem seperti biasa.” Kalimat akhir Adam ucapkan dengan cepat dan datar. “Adam hanya butuh istirahat. Anya sedang hamil, takut tertular.” Jika saja Anya tak melihat ekspresi Adam—yang nampak lega, mengepal tangannya ke atas macam atlet yang menang lomba, lantas mengakhir telepon dengan kedua sudut bibir yang tertarik tinggi, kalimat itu sudah pasti membuat Anya tersentuh, Suaminya mengkhawatirkan kondisinya… wanita mana yang hatinya tidak terbang? Tapi, Anya melihat semuanya dengan jelas, Adam tidak hanya takut menularkan penyakit, tapi ingin Anya menjauh darinya, atau mungkin tak ingin menciumnya? “Janji tetap janji,” gumam Anya. Ia buru-buru berbalik, membawa kembali sup yang sudah susah payah ia buat kembali ke dapur, “Sup ini sudah dingin, tak layak untuk Adam!” Flashback, 2017 “Sudah satu pekan ….” Anya meraih pulpennya, mencoret tanggal yang ada di kalender. Garis silang berjejer di tujuh hari membuat sudut bibir Anya terangkat, ia memberi tepukan pelan pada pundaknya sembari berbisik, ‘kamu pasti bisa melupakan Adam …’ “Adam ….” Sedetik berikutnya, Anya terdiam, memandang kosong kalender yang sudah penuh coretan garis dan kalimat semangat yang dibuatnya. Anya memandang sekitar kamar kecil yang ia sewa dengan harga murah sesuai dengan tabungannya, di mana-mana tertulis nama Adam, di tembok, di kertas yang sudah ia remukan, di noted kecil dan bahkan di dalam casing ponselnya. Semua kalimat yang Anya tulis, selalu berakhir dengan nama Adam. Tiba-tiba Anya merasakan sakit menusuk di dadanya. Setelah insiden kecelakaan itu, Anya sering kali mengalami rasa sakit semacam ini, sebelumnya dokter pernah menyarankan Anya untuk melakukan ronsen tapi jelas Anya tak punya biaya dan waktu—ia hanya mahasiswa miskin yang menyambung hidup dengan kerja serabutan. Biasanya Anya hanya menahan rasa sakitnya dengan obat pereda nyeri, tapi kali ini rasa sakitnya berbeda, Anya tidak kuat menahannya. Ia memutuskan untuk ke dokter, untungnya bos Anya mau berbaik hati memberikan gajinya di awal. Anya juga membawa sapu tangan yang diberikan anak kecil waktu itu padanya, berniat mengembalikan, Anya percaya diri tak akan menangis setelah menjauh dari Adam. Namun … semua diluar rencana, anak kecil itu meninggal dua hari sebelumnya. Anya terlambat. “Saya turut berduka cita atas wafatnya anak sebaik, putri Ibu.” “Saya datang ke sini untuk memberikan benda yang pernah putri ibu pinjamkan pada saya.” Anya mengeluarkan sapu tangan itu dari tasnya. Wanita yang matanya masih sembab itu, menatap sejenak sapu tangan yang Anya berikan. “Itu bukan milik putri saya. Sebaiknya kamu mengembalikannya ke pemilik aslinya.” “Memangnya siapa pemilik aslinya?” Wanita itu memberikan secarik alamat lokasi pada Anya. Anya membatalkan niatnya untuk memeriksa kondisinya, dan memutuskan mencari alamat rumah itu. Belum sempat Anya bertanya pada satpam setelah sampai di depan gerbang rumah yang sesuai dengan alamat, tiba-tiba seorang pria yang sangat Anya kenal, keluar dari dalam rumah. Beberapa menit, Anya tertegun menatapnya tanpa kedip. Pria itu sama sekali tak melihat keberadaan Anya. Saat pria itu tiba-tiba hendak menoleh ke arah Anya, Anya buru-buru menarik langkahnya bersembunyi, menjauh, sembari mengenggam erat sapu tangan di tangannya, langkahnya yang cepat dan nyaris seperti berlari membuat dadanya tiba-tiba sesak. Langkah Anya melambat, napasnya terputus-putus, saat dia hendak melanjutkan kembali langkahnya, pandangannya buram dan seketika tubuh Anya terhuyung, jatuh. “Jantungmu mengalami kebocoran karena kecelakaan waktu itu. Kamu harus cepat melakukan operasi transplasti jantung.” Hari itu menjadi hari paling menyakitkan bagi Anya. Anya tak tahu kapan, air matanya mulai menetes, memikirkan jalan hidupnya yang terasa seperti jalan buntu. Ia tak bisa maju, atau mundur, semua tertutup. Sakit adalah momok paling menakutkan bagi orang miskin macam Anya. Modal hidupnya adalah kesehatan, jika itu pun tak ada, lantas bagaimana dengan hidupnya? “Sapu tangan ini spesial. Kakak harus balikin ke pemiliknya kalau sudah gak nangis lagi.” Kalimat itu mengiang di telinga Anya, mengiringi setiap tangis malamnya. “Anya!” Adam tersentak dari tidurnya saat mendapati Anya sudah berada di depan wajahnya. “Perjanjian kita tetap harus jalan meski kamu sakit,” ujar Anya datar, tanpa perasaan bersalah. “Ibu pasti marah jika tahu kamu datang ke kamar saya! Saya sakit, kamu bisa tertular!” “Karena itu saya datang ke sini diam-diam. Jika kamu tidak memberi tahu ibu dan ayah, mereka tidak akan tahu.” “Jangan bertingkah seperti anak kecil!” “Apanya yang seperti anak kecil? Memangnya ada anak kecil yang sudah menikah dan berciuman?” “Saya datang ke sini hanya menangih apa yang menjadi hak saya.” Anya lantas mengeluarkan masker dari balik tangannya. “Jika menurutmu sapu tangan saja tidak cukup, maka saya tidak masalah menggunakan masker dan sapu tangan.” “Anya—” “Cium saya! Saya ingin segera tidur.” Adam memalingkan wajahnya saat Anya mencodongkan wajah ke arahnya. “Kamu takut saya tertular penyakit, atau kamu hanya mencari alasan?” “Buat apa?” Adam tergagap. “Itulah yang sejak tadi saya pikirkan. Kenapa orang sebaik Tuan Adam, berniat mengingkari janjinya.” Adam kehilangan kata-kata. Anya kembali mendekatkan wajahnya pada Adam. “Apa karena kamu takut menyukai saya?” Mata Adam membesar, raut wajahnya seketika mengeras. “Itu tak mungkin!” “Apa yang tidak mungkin di dunia ini?” Anya bergumam, tapi lebih terdengar seperti ejekan. “Kalau begitu, cium saya. Saya ingin segera pergi dari hadapanmu.” “Anya—” “Adam!” Potong Anya cepat, matanya tak berkedip menatap Adam. “Saya datang ke sini bukan untuk meminta, tapi mengambil hak saya.” Adam kembali kehilangan kata-kata, menyerah, menghela napas panjang, dengan gerakan enggan, Adam memajukan wajahnya, mendekat pada Anya yang sudah memakain masker, dan bersiap dengan sapu tangannya. Begitu Adam mendaratkan bibirnya pada bibir Anya, tiba-tiba dari luar terdengar suara Maya memanggil Adam. Adam bergumam bahwa Anya akan ketahuan, Anya seketika langsung menjauh dari Adam, buru-buru mengambil langkah cepat. “Jangan sampai ibu dan ayah tahu!” ucap Anya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Adam. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD