Impas

1411 Words
Langkah Adam kembali tertarik mundur begitu ia membuka pintu dan mendapati Anya yang dengan cepat menerobos masuk. Tanpa ingin repot-repot menjelaskan, Anya langsung melonggong ke kolong ranjang Adam. “Apa jatuh di sini ya?” gumamnya sibuk sendiri. Lalu berpindah pada sofa, membalik semua bantal di kasur dan dan nyaris melucuti semua sarung bantal yang baru saja Adam pasang. Kamar Adam yang semula rapi, mendadak seperti habis terkena amukan gajah. Semua berantakan. Saat Adam bertanya, Anya hanya menjawab singkat, “Setelah benda yang saya cari ditemukan, saya janji akan langsung membereskan semuanya.” Namun, sudah hampir seperempat jam berlalu, Anya tidak menemukan apa pun. Adam langsung menghentikan tangan Anya yang kini beralih ke lemari pakaiannya. “Tidak ada apa-apa di lemari saya!” “Mungkin ada di dalam lemari.” ucap Anya tak sabar ingin memeriksa satu-satunya benda di kamar yang belum ia periksa. Adam langsung menghalangi tangan Anya dengan tubuh besarnya. “Biarkan saya periksa sebentar saja. Saya janji akan merapikan semuanya setelah benda itu ketemu,” ujar Anya lagi. “Benda apa yang sebenarnya kamu cari di kamar saya? Tidak ada bendamu di sini.” “Sapu tangan polos yang ada sulaman huruf A di ujungnya.” “Sapu tangan?” Adam mengingat-ngingat, fokusnya terbagi, Anya menggunakan kesempatan itu untuk langsung membuka lemari Adam dan mengecek di dalamnya. “Anya—” Perkataan Adam telat. “Tetap gak ada!” gumam Anya setelah nyaris mengeluarkan semua pakaian Adam dari lemari. “Sudah saya katakan tidak ada sapu tangan itu di sana!” Mata Adam menyalak menatap Anya yang nampak tak terpengaruh, Anya hanya diam, sibuk dengan pikiran sendiri. “Tapi seingat saya, terakhir kali sapu tangan ini di sini. Tapi kenapa di sini tidak ada?” gumamnya. Adam segera memunguti baju-bajunya yang berserakan di karpet akibat ulah Anya. “Ibu dan ayah sudah pulang. Itu artinya, setelah hari ini, peraturan lama akan berlaku lagi. Kamu tidak boleh mendekati kamar saya dalam radius 10 meter,” ucap Adam mutlak. Lagi, Anya tak memperdulikan perkataan Adam. Ia dengan pikiran yang jauh, mengubah posisi, duduk di ujung kasur Adam. “Kalau jatuh atau gak ke bawa seharusnya sapu tangannya jatuh di sini,” gumam Anya. Adam sudah selesai memasukan sembarang bajunya di lemari. Adam tak punya banyak waktu, jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan. “Saya harus pergi sekarang.” Adam mendekat ke arah Anya—yang masih berada diposisi yang sama, berkutik dengan pikirannya sendiri, memberi isyarat singkat agar Anya berdiri untuk melakukan ciuman pagi. Anya menghela napas panjang, nampak enggan, tapi tubuhnya bangkit. Saat Adam mencium bibir Anya, Anya tiba-tiba membuka mulutnya, “Adam apa kamu yakin tidak melihat sapu tangan itu? Sapu tangan yang kita gunakan saat berciuman malam hari itu …” Helaan napas hangat Anya langsung mengenai wajah Adam. Adam tersentak kecil. Matanya refleks menatap Anya yang tanpa perasaan bersalah balas menatap. “Ingatkan?” tanya Anya lagi, saat Adam menarik langkahnya mundur dari Anya. “Sapu tangan putih polos itu? Kemarin saya buang saat mengantarkan ibu dan ayah pulang,” sahut Adam. “Apa? Kamu buang!” Anya menarik belakang kemeja yang Adam gunakan. Langkah Adam tertahan. “Berani sekali kamu membuang barang itu!” Nada suara Anya meninggi, tangannya semakin kencang menggenggam belakang kemeja yang Adam kenakan. Seperti berniat ingin merobeknya. “Anya, saya harus berangkat kerja sekarang! Lepaskan tanganmu dari kemeja saya!” “Kamu harus cari sapu tangan itu sampai ketemu!” “Itu tidak mungkin. Sapu tangan itu entah sudah ada di tempat pembuangan sampah mana.” “Cari! Bahkan jika kamu harus mengobok semua tempat pembuangan, kamu harus mendapatkannya.” “Saya harus berangkat kerja sekarang. Saya bisa telat karena kelakuanmu ini!” Jam di pergelangan tangan Adam terus bergerak. Adam tak ingin meladeni drama Anya. Hanya perlu satu gerakan kecil, tangan mungil Anya terlepas dari kemejanya. “Saya harus pergi sekarang.” “Adam!” “Jangan kekanakan Anya!” “Bagi saya sapu tangan itu—” “Itu hanya sapu tangan biasa yang sudah kotor!” sentak Adam. Anya terdiam, butuh waktu lama bagi Anya kembali membuka mulutnya. “Kamu benar!” Anya mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat, tapi sorot matanya menyalak. “Lalu bagaimana dengan pulpen milikmu itu? Pulpen yang katanya lebih berharga dari nyawa saya? Itu hanya pulpen tua yang jelek! Kenapa benda itu bisa berarti untukmu?” Adam tidak langsung menanggapi. Rahangnya mengeras tipis, tapi tak satu pun kata keluar, tak menduga jika Anya akan membawa percakapan ini ke arahnya. “Tapi kamu benar, sapu tangan itu memang pantas di tempat sampah!” Anya meringis, rahangnya mengeras. “... tak menyangka jika akhirnya kamu yang membuangnya.” Anya berjalan cepat keluar kamar, menerobos tubuh Adam yang masih diam di posisinya. “Anggap saja sekarang kita impas!” Flashback 2017 “Mau ke mana kamu?” Seorang suster mencegat Anya yang hendak berjalan lurus, tidak menghiraukan instruksi dokter yang meminta Anya di antar ke ruang perawatan. “Saya mau pulang, Sus. ” Anya menahan langkahnya agar tetap seimbang, meski dadanya terasa nyeri setiap kali ia melangkah. “Saya tidak punya uang untuk membayar perawatan di sini.” “Tapi di sini, biaya perawatanmu sudah dibayar.” Anya tersentak kaget. Orang baik mana yang tiba-tiba menolongnya? “Dokter bilang, tadi ada pemuda baik yang tidak sengaja mendengar percakapan kamu dan dokter. Pemuda itu sudah membayar perawatanmu hari ini dan juga memberikanmu kartu ini. “Pemuda itu bersedia membantumu untuk mengajukan permohonan bantuan ke lembaga asosiasi sosial agar penyakitmu bisa segera ditangani.” Seluruh tubuh Anya seketika bergetar, matanya berembun tak lagi jelas saat suster muda itu memberikan selembar kartu asosiasi pada Anya. “Suster apa pemuda baik itu masih ada di rumah sakit ini?” tanya Anya cepat. “Mungkin dia masih ada di taman belakang rumah sakit. Dia pakai jaket hitam dan membawa sebuket bunga.” “Saya harus mengucapkan terima kasih padanya!” Anya langsung mengambil langkah cepat, suster di belakangnya berseru meminta Anya kembali, Anya hanya menjawab pelan, “saya akan kembali setelah mengucapkan terima kasih.” Sesampainya di taman rumah sakit, langkah Anya melambat, lalu terhenti. Pemuda baik yang ingin ia temui sedang bersama seorang wanita yang Anya kenal, memberikannya sebuket bunga merah dan berkata, “Setelah kamu menyelesaikan S2-mu, apa boleh saya membawa orang tua saya bertemu dengan orang tuamu?” “Tentu boleh, Adam.” Anya segera mundur, berbalik dan lari secepat yang dia bisa. Rasanya nyeri di dadanya mendadak kalah dengan rasa nyeri yang ia rasakan. Ini kutukan! hidup Anya terus berputar pada pria yang mati-matian ingin ia jauhi. Air mata Anya terus jatuh, entah jatuh keberapa kali hingga tubuhnya ikut jatuh ke lantai yang dingin. “Nona Anya, tolong secepatnya untuk mendatangi asosiasi itu agar kamu bisa mendapatkan biaya untuk operasi jantungmu.” Anya meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang tak karuan. Langkahnya gontai, air mata terus mengalir di pipinya, pikirannya terasa kosong, tapi ingatannya dipenuhi tentang Adam yang melamar Maryam, tentang kondisinya dan tetap apa pun yang tidak pernah Anya duga akan hadir dalam hidupnya. Semua itu membuat Anya muak! “Anya, ada undangan pesta di klub! Kali ini kamu wajib datang.” “Sudah lama sekali kamu tidak lagi datang ke klub dan sudah dua hari lebih kamu hanya berdiam diri di kos.” “Apa kamu ingin mati konyol dalam nestapa?” “Ayolah. Anya buat apa kamu bersedih macam ini? Sedangkan orang yang bertahun-tahun kamu suka itu, dia tengah tersenyum bahagia merangkai masa depan bersama wanita pilihannya.” “Sedangkan kamu? Kamu terpuruk di sini.” “Kamu benar!” Anya langsung menghapus sisa air mata di ujung matanya, rahangnya mengeras. “Mari kita berpesta sampai mati!” . . Adam menghampiri Anya yang sudah lebih dulu duduk diam menunggunya di sofa ruangan tengah. “Saya pulang lebih awal, hari ini tidak terlalu banyak kerjaan yang harus diselesaikan.” Anya tak merespon. Begitu Adam berada di depannya, ia bangkit dari sofa, melipat tangan di d**a, lalu melangkah mendekat. Tatapan Adam terkunci pada raut wajah Anya, mencoba menerka apa arti dari tatapan datar itu? Apakah masih ada kemarahan sisa tadi pagi? Sikap Anya membuat Adam melangkah ragu. Saat Anya menghentikan langkahnya. Adam ikut berhenti. Napasnya tertahan sesaat sebelum kembali mengalir pendek. Anya membiarkan Adam mengambil satu langkah terakhir. Adam mengabaikan mulutnya yang tak berani menanyakan pertanyaan yang terus muncul dibenaknya, ia menatap wajah Anya yang begitu dekat dengan wajahnya. Tatapan Anya seolah mengusirnya untuk menjauh bahkan saat bibir mereka masih bersentuhan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD