Malam Kelam

1094 Words
Langkah Anya mendadak melambat begitu pupil matanya mendapati Adam sudah berada di sofa, duduk diam, pakaiannya masih menggunakan kaos polos biasa, ia memejamkan matanya, bersandar pada sofa. Anya melirik jam yang ada di ruang tengah, memastikan jam di kamarnya sedang tidak eror. Di jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh, sama seperti jam di kamarnya. Tapi kenapa Adam sudah berada di sofa? Dalam hal ini, selalu Anya yang menunggu. Tidak biasanya Adam lebih dulu menunggu Anya— biasanya Adam hanya akan melakukan itu jika dia terburu-buru berangkat kerja, atau harus berangkat lebih awal. “Tapi, penampilannya tidak menunjukkan dia akan berangkat kerja cepat,” gumam Anya. Anya terus memperhatikan Adam hingga aksinya itu menarik insting Adam yang spontan membuka mata lalu menoleh ke arahnya. Anya menahan wajahnya agar tak berpaling membiarkan Adam menatapnya sampai Adam berpaling, melepaskan tatapannya dari Anya. “Baru bangun?” tanya Adam. Anya spontan berdehem pelan— buru-buru menyembunyikan ekspresi kagetnya. Jelas seingat Anya, Adam tak pernah mencoba basa-basi sebasi ini, hingga membuat Anya jadi bertanya-tanya nyaris gila. Begitu langkah Anya semakin dekat, Adam bangkit, mengambil langkah panjang, yang seketika langsung mengikis jarak di antara mereka. Adam menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah Anya, lalu mengecup pelan bibir Anya. “Saya harus siap-siap untuk berangkat ke kampus sekarang,” ujar Adam setelah melangkah mundur, menghadirkan jarak kembali di antara mereka. Lagi-lagi, Anya tak siap merespon perkataan Adam. Ia hanya mengerjap pelan, lalu mengangguk tanpa suara. Semua benar-benar diluar pola yang biasa Adam jalankan. Seharian Anya mempertanyakan sikap normal Adam yang malah aneh jika itu terjadi dalam hubungan mereka—Adam tak mencintainya, lebih-lebih nyaris membencinya sampai ke tulang, fakta utama yang Anya ingat jelas. Anya tak ingin menghibur dirinya dengan hipotesis, mungkin Adam mulai mencintainya? Atau berharap ini negeri dongeng yang akan berujung dari benci ke cinta semudah membalikan telapak tangan. “Apa kepala Adam kepentok pintu? Atau dia diracun seseorang? Tapi tak ada orang lain di rumah ini selain saya. Saya tidak mungkin meracuninya saat tidur bukan?” gumam Anya entah sudah keberapa kalinya. Saat Adam pulang, Anya masih sibuk dengan semua pertanyaan di benaknya, dan hanya ingin langsung ke kamar begitu rutinitas ciuman malam telah dilakukan, tapi tiba-tiba Adam menahan lengan Anya. “Temani saya makan malam.” Mata Anya tak berkedip menatap tak percaya tangan kekar Adam bertengger pada lengannya. Jangan-jangan benar, karena kemarahan saya, saya tanpa sadar menaruh racun di kamar Adam… pikiran itu makin nyaring di kepala Anya. “Ada yang ingin saya bicarakan,” sambung Adam. Anya berjalan mengekor di belakang Adam. Untuk pertama kalinya, mereka makan malam atas permintaan Adam. Biasanya Anya yang selalu memaksa Adam untuk menemaninya makan. Setengah jam berlalu. Bagi Anya, waktu seperti meregang tanpa ujung. Ia menatap melirik Adam yang sangat fokus dengan makananya, Anya menghentikan sendiknya, meletakkannya di sisi piring. Ruangan tetap hening, kini hanya bunyi sendok Adam yang sesekali beradu dengan piring, memantul pelan, lalu tenggelam lagi dalam sunyi. “Bicara apa?” tanya Anya tak lagi sanggup membendung rasa penasarannya. Adam mengangkat kepalanya kecil, meletakkan sendoknya, sebelum menatap Anya. “Pihak kampus mengadakan gathering di alam selama sepekan untuk merayakan liburan semester.” Anya diam, tak merespon. Di dalam kepalanya kembali riuh oleh banyak suara. Adam akan pergi. Selama sepekan. Jadi, itu alasan dia sedikit berbuat baik hari ini? “Tidak masalah.” Anya kembali melanjutkan makannya yang belum habis. “Kamu bisa mengganti semua ciumannya saat kembali. Hitung saja.” Tiba-tiba suasana kembali hening. Anya tak berniat mengangkat kepalanya, tapi instingnya menarik matanya naik ke atas dan mendapati Adam menatapnya. “Ada apa? Apa kamu ingin saya bantu membereskan pakaianmu?” Anya melirik Adam yang mendadak tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Tidak.” Sudut bibir Anya sedikit terangkat, sudah ia duga, Adam tak sudi ia masuk kamarnya, apalagi menyentuh barangnya. Kalimatnya barusan hanya basa-basi. Flashback, 2017 “Jika harus mati, maka harus mati di tempat menyenangkan ini!” Anya mencondongkan tubuh ke depan. Suara dipaksa keluar dari tenggorokan, mentah dan tak terkontrol. Otot lehernya menegang, uratnya mencuat saat suara nyaring dilemparkan ke ruang yang bising, lalu dihantam balik oleh musik yang menggelegar tanpa ampun. Tubuh Anya terhuyung-huyung mencoba mengikuti dentuman musik, tapi langkahnya malah bergerak sembarang. Di sampingnya Angga, nampak asik dengan dunianya sendiri. “Kenapa saya harus ada di tempat menyedihkan itu? Kenapa saya harus meringkuk kesepian sendirian di sana?” Anya menunduk, menahan kepalanya yang terasa nyeri, pandangnya semakin buram diterpa sorot lampu warna warni yang digemari semua orang di klub. Tubuh Anya bergerak tak tentu arah. “Ini baru namanya hidup!” teriak Angga pada Anya. Anya mengangguk-ngangguk cepat, telingannya mulai menikmati setiap musik kencang yang dulu amat ia benci. “Kamu benar! Musik ini ternyata tak semenyebalkan saat melihat dia bersama wanita itu!” “Sudahlah Anya, tak perlu pikirkan pria yang bahkan tak tahu apa itu dunia malam! Dia pria membosankan.” “Kamu benar!” Anya tertawa kencang, lebih kencang dari yang ia duga, namun sedetik berikutnya, air mata menetes di ujung matanya. Bayangan Adam dan Maryam muncul di kepalanya membuat Anya kewalahan menghentikan kepalanya. “Sial! Kenapa harus dia orang yang saya sukai!” pekik Anya, lagi, lagi dan lagi sampai tubuhnya lelah, nyaris tersungkur ke lantai. “Anya?” Angga buru-buru membantu Anya untuk duduk di sofa, kemudian memberikan Anya segelas air lemon untuk membantu meringankan kondisi mabuknya. “Di pengalaman pertama, tidak seharusnya kamu minum sebanyak ini,” ujar Angga. “Saya capek. Saya capek nangis terus. Saya cuma pengen hidup bahagia.” “Apa ini masih tentang pria itu? Siapa pria itu? Kenapa kamu sulit melepaskannya?” Anya meringis kecil. “Tentang semuanya! Tentang kehidupan saya yang mendadak sekacau ini.” “Apa maksudmu? Kacau apa? Beri tahu saya siapa pria itu. Biar saya yang memperkenalkan kamu dengannya.” “Buat apa?” Anya tertawa pelan, lirih dan hampa. “Dia dan saya bagai langit dan neraka. Dia terlalu baik untuk saya yang bahkan sekarang kecanduan dunia malam.” “Anya—” “Tidak ada yang berharga lagi dalam hidup saya. Sekarang, saya hanya ingin menikmatinya dan tak masalah mati.” “Kenapa kamu selalu mengatakan mati? Apa maksudmu?” “Saya hanya ingin datang ke sini setiap hari.” Angga menatap Anya lama, lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu saya akan selalu menemanimu.” Kali ini Anya benar-benar tersenyum, matanya terhimpit senyumnya lebar di wajahnya. “Kemarin kamu bilang sedang krisis uang dan butuh pekerjaan yang menghasilkan banyak uang.” “Kebetulan ada seorang pria yang ingin berkenalan denganmu.” “Pria itu pasti bisa membantumu menghadapi krisis keuanganmu.” “Namanya Bryan.” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD