Chapter 4

1134 Words
Kanaya berhasil pergi dari rumahnya dengan baju yang dia inginkan setelah berdebat dengan kedua orang tuanya. Sikapnya ini tidak patut ditiru tapi Kanaya tidak bisa melewatkan kesempatan untuk menghabiskan malam liar dengan teman-temannya—walaupun mereka tidak begitu dekat untuk dikatakan teman. Tapi tenang saja, tujuan Kanaya malam ini hanyalah bersenang-senang. Dia tidak akan memedulikan apapun lagi selain itu. Malam yang bebas di mana dia tidak memikirkan apapun. Kanaya masuk ke dalam club tersebut. Di club itu, terdapat empat lantai. Lantai pertama biasanya untuk umum, semua orang bebas keluar masuk di sana, lantai kedua dikhususkan untuk kamar-kamar pribadi tempat orang-orang yang ingin menginginkan suasana yang lebih tenang dan privat, lantai ketiga adalah ruangan VIP, sama seperti lantai satu tapi hanya untuk orang-orang tertentu. Beberapa orang biasanya menyewa satu lantai tiga untuk acara mereka, sama seperti yang dilakukan oleh kerabat Kanaya sekarang. “Silakan, Ma’am.” Kanaya dipersilakan masuk setelah dia memperlihatkan kartu kecil di tangannya yang diberikan oleh kerabatnya. Ketika dia melangkahkan kakinya, dia langsung ragu kalau lantai ini adalah lantai di mana pesta tersebut akan diselenggarakan. Karena dalam bayangannya, Kanaya berpikir kalau lantai ini akan sangat sepi karena hanya ada orang-orang tertentu saja yang diundang. Tapi ternyata, orang yang ada di lantai ini jumlahnya tidak jauh berbeda dengan di lantai satu. Kanaya mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk menemukan di mana teman yang mengundangnya itu dan dia melihatnya sedang berkumpula dengan teman-temannya. Salah satu dari mereka melihat kedatangan Kanaya dan langsung melambaikan tangannya pada Kanaya. “Kay!” Kanaya tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekati mereka. Laura Nathaniel adalah temannya yang mengadakan pesta ini, dan dia terlihat sangat seksi dengan dress terbuka yang ia pakai juga dengan mahkota di kepalanya. “Look at you! So stunning!” Kanaya menyapanya dengan ramah. “Tolong, jangan puji aku seperti itu ketika kamu tahu kamu lebih cantik.” Kanaya hanya tertawa kecil sambil memutar bola matanya malas. “By the way, congratulations, ya.” Dia mendekatkan dirinya pada Laura untuk memeluk wanita itu sekilas. “Semoga semuanya lancar.” Laura mengangguk. “Terima kasih. Dan tolong, stop it right there, aku sudah lelah mendengar ucapan itu lagi dan lagi, let’s just having fun tonight!” Laura segera memanggil salah seorang pelayan dan meminta satu botol alkohol untuk mereka. Kanaya tersenyum sambil dalam hati sedikit berdo’a agar dirinya tidak mabuk dengan mudah. Sekalipun Kanaya memang ingin menikmati malam ini, tapi sepertinya tidak bagus jika dia mabuk lebih dulu dibandingkan teman-temannya yang lain. *** Kanaya memutuskan untuk tidak meminum satu gelas pun dari alkohol yang dipesan oleh Laura. Dia memilih untuk mengobrol dengan temannya dan menemani Laura yang kini sudah mabuk lebih dulu. “Jadi, Kay, tell me kapan kamu akan mengikuti jejak Laura?” Salah satu temannya yang bernama Fey menatapnya dengan dagu yang tertumpun pada telapak tangannya, menatap Lavender dengan penasaran. “Jejak Laura?” “Menikah maksudnya.” Kanaya terdiam. Sudah ia katakan, bukan, kalau dia memang tidak dekat dengan teman-temannya? Dan dia memang tidak mengumbar kehidupan pribadinya pada mereka. Lagipula, Kanaya tidak memiliki hubungan spesial dengan siapapun. “Entahlah.” Kanaya mengendikkan bahunya. “Aku masih ingin sendiri.” “Benarkah? Tepat sekali!” Fey menjentikkan kedua jarinya. “Di sini ada banyak pria yang datang, kamu bisa memilih salah satu di antara mereka.” Fey terlihat bersemangat. Berbeda dengan Kanaya yang langsung menggelengkan kepalanya. Ada sat wejangan yang pernah ia dengar dari ibunya; jangan mencari pasangan di klub atau tempat hiburan malam seperti ini. Kanaya tidak tahu kenapa, tapi dia selalu menuruti perkataan ibunya itu. “Tidak perlu, Fey. Aku masih ingin sendiri.” Kanaya tersenyum. Menolak dengan halus. “Tapi kamu akan melewatkan kesempatan besar, Kay! Banyak pria yang mungkin akan tertaik dengan kamu di sini.” Sepengetahuan Kanaya, Fey memang sudah tidak asing lagi dengan dunia malam seperti ini. Maka dari itu, tidak heran jika dia sedikit liar. Oh salah, semua teman-teman Laura di pesta ini sepertinya sangat liar. Apalagi ketika seiring larutnya malam, semakin banyak tamu—dan pria—yang datang. “Aku kira ini pesta bachelorrette.” Kanaya memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tahu kalau pesta sebelum pernikahan untuk mempelai wanita biasanya hanya dihadiri oleh wanita saja, bukan banyak orang di mana banyak pria juga yang datang. “Laura ingin sesuatu yang berbeda.” Fey tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kanaya. Kanaya hanya menghela napas. Dia kembali menjadi pihak yang pasif dan membiarkan teman-temannya bercengkrama. “It’s dance time!” Tiba-tiba Laura berseru dan membuat Kanaya terkejut bukan main. Dia mendengar musik di ruangan itu langsung berubah menjadi lebih energik namun juga sensual. Kanaya melihat teman-temannya langsung turun ke lantai dansa. Beberapa pria yang sepertinya memang disewa untuk acara seperti ini, terlihat bertelanjang d**a sambil memperlihatkan otot mereka yang kekar dan mendekati Laura juga teman-temannya. Kanaya terkejut. Dia tidak tahu kalau pestanya akan seliar ini. “Kanaya, kemari!” Banyak tamu undangan juga yang ikut turun ke lantai dansa. Kanaya sendiri mengikuti Fey yang tadi menarik lengannya kencang. “Untuk apa kamu menghadiri pesta ini jika kamu hanya berdiam diri, Kanaya?” tanya Fey dengan senyuman jahilnya. Kanaya hanya membalasnya dengan senyuman kaku. Dia tidak ingin kelewat batas walaupun niatnya di awal memang tidak baik. Malam itu, Kanaya akhirnya tidak bisa menahan dirinya untuk mabuk. *** Fey lagi-lagi menyodorkan gelas berisi minuman alkohol pada Kanaya. Kanya sudah hampir kehilangan kewarasannya, namun akhirnya dia bisa mencoba untuk tidak menengguk lagi gelas itu. “Kanaya, minumlah!” seru Fey yang suaranya teredam oleh hingar-bingar di klub tersebut. Kanaya hanya menggelengkan kepalanya dan menggerakkan badannya mengikuti irama musik. “Kenapa?! Lihat Laura yang sudah menggila di sana!” Kanaya menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk olehh Fey, dan benar saja temannya yang megadakan pesta ini sudah tidak terkendali. Kanaya lalu menggeleng pada Fey, dia mungki sudah hampir tidak sadar tapi dia juga tidak mau segila Laura. Fey hanya terkekeh kecil. Hingga kemudian dia berseru pada seseorang. “Alastair?!” Kanaya tidak peduli dengan siapa Fey berbicara. Dia asyik meliuk-liukkan badannya pada muik energik yang ada di lantai dansa itu. “Aku tidak tahu kalau kamu akan ke mari!” “…. Temanku yang mengajakku ke sini …” “Oh, kamu sudah berkenalan dengan temanku? Dia Kanaya Wijaya.” Fey menepuk-nepuk pundak Kanaya agar wanita itu menoleh pada mereka. “Kanaya, ini Alastair.” Di keremangan ruangan itu dan berisiknya musik di antara mereka, Kanaya yang setengah sadar saja masih bisa mengetahui bahwa pria yang dikenalkan oleh Fey adalah pria yang sama dengan yang ia temui di acara pernikahan sepupunya. “Kamu?” Kanaya memincingkan kedua matanya. Alastair hanya terdiam dan menatap balik Kanaya. “Hm.” “Oh, kalian sudah saling mengenal? Baguslah. Aku tinggal dulu sebentar, ya.” Fey memang berniat mengenalkan Kanaya pada seseorang, dan kebetulan sekali kalau orang itu adalah Alastair, bukan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD