Chapter 3

1172 Words
“Kenapa dia berada di sana? Aku mengira dia tidak akan berani menunjukkan wajahnya ke pada keluarga kita, mengingat apa yang sudah dilakukan dia pada aku.” Kanaya sudah pulang dari pesta pernikahan sepupunya bersama kedua orang tuanya dan sedari tadi dia memprotes pada ayahnya karena Zafran masih berani menghampirinya tadi. Sedikit konyol, mengingat bukan ayahnya yang mempunyai acara itu dan ayahnya sendiri tidak tahu kenapa pria itu berada di sana. Addy memutar bola matanya malas pada anaknya. “Tentu Ayah kamu tidak tahu, Kay. Memangnya, apa yang dia lakukan ketika berada di sana?” Ibunya berkata dengan santai sambil membuka high-heels yang ia pakai dan menyimpannya ke rak sepatu di samping pintu. “Dia menghampiriku dan menakuti aku, Mama,” ujar Kanaya sedikit tidak suka karena ibunya menganggap ini semua tidak serius. Ayahnya yang sudah duduk santai di sofa langsung menoleh pada Kanaya dengan tatapan bingung. “Dia menemui kamu?” tanyanya memastikan. Kanaya mengangguk heboh. “Kalau dia tidak membuat masalah dengan aku, tidak mungkin aku protes seperti ini pada Ayah.” Dean menghela napasnya kasar. “Ayah sudah mengatakan padanya untuk tidak pernah menemui kamu.” Dean mengepalkan sebelah tangannya diam-diam. Apa dia perlu menghajar pria itu agar sadar bahwa tindakannya benar-benar mengganggu? “Sepertinya, dia tidak mendengarkan Ayah,” balas Kanaya dengan cuek dan mengambil langkah menuju kamarnya di lantai dua. Oke, biar Kanaya ceritakan apa yang terjadi sebelumnya dan membuat ia ataupun orang tuanya sangat tidak menyukai Zafran. Dulu, ayahnya sempat mengenalkannya pada Zafran dan mereka memang memiliki tujuan untuk dijodohkan. Kanaya tidak bisa menolak mengingat orang tuanya terkesan memaksa. Walaupun Addy mengatakan perjodohan itu hanya akal-akalan ayahnya yang memiliki ketakutan tersendiri jika anaknya salah pergaulan, tapi tetap saja mereka sedikit memaksa. Akhirnya, pada satu malam, keinginan Kanaya untuk terbebas dari perjodohan itu dikabulkan oleh Tuhan dengan memperlihatkan langsung bagaimana sikap Zafran. Pria itu, bertindak kasar di hari pertama mereka bertemu. Tatapannya sering kali melecehkan dan membuat Kanaya takut. Kanaya mengadu pada ayahnya karena dia tahu Dean adalah ayah paling over-protektif yang pernah ada. Akhirnya, Dean marah besar dan membatalkan semuanya—good for Kanaya. Sialnya, Kanaya tidak tahu bahwa Zafran akan bertingkah menjadi sangat berengsek dan menyebalkan. Lalu, pikiran Kanaya kembali mengingat tentang pria misterius yang ia temui di pesta tadi. Jika Kanaya boleh mengakui, dia harus mengatakan kalau pria itu sangat tampan. Benar-benar tampan. Dia adalah tipe pria yang akan mudah disukai oleh banyak wanita sekalipun sikapnya sangat menyebalkan dan dingin. Tapi, Kanaya tidak mau memikirkan pria asing itu terlalu jauh lagi. Toh, mereka juga tidak akan bertemu lagi, bukan? *** Kanaya bekerja sebagai manajer pemasaran di kantor ayahnya sendiri. Oke, Kanaya tahu sebagian orang akan memilih untuk tidak bekerja di perusahaan ayah atau keluarga mereka sendiri demi menghindari perkataan ‘anak manja’ dari orang lain. Sungguh, sebenarnya Kanaya juga ingin seperti itu. Dia memiliki ketertarikan yang sama dengan ayahnya dalam dunia bisnis. Dia bahkan mengikuti jejak ayahnya untuk mendalami matematika dan dunia bisnis itu sendiri. Tapi, ketika memasuki dunia kerja, ayahnya dengan tegas mengatakan kalau Kanaya harus bekerja dengan ayahnya. Well, walaupun bukan perusahaan inti yang dipegang oleh ayahnya, tapi tetap saja, perusahaan itu masih menjadi bagian dari perusahaan ayahnya. Kanaya ingin menolak, tapi dia tahu orang tuanya tidak akan mendengar protesnya. Sebagai anak satu-satunya, Kanaya merasa bahwa orang tuanya sangat overprotektif dan begitu mudah khawatir pada putri mereka sendiri. Jadi, di sinilah Kanaya berada, di kubikelnya yang bersatu dengan kubikel-kubikel lain milik rekan kerjanya. Sekalipun Kanaya adalah anak dari pemilik perusahaan, mereka memperlakukan Kanaya sepertii orang biasa, tidak ada yang spesial. “Kay.” Buktinya, mereka memanggil Kanaya dengan sebutan nama depannya saja, tanpa embel-embel ‘Bu’ atau yang lainnya. “Hm?” Kanaya yang baru saja membuka file excel yang berisi data-data kerjanya, membalikkan badannya pada salah satu rekan kerjanya. “Ini surat untuk kamu.” Kanaya mengambilnya dan berterima kasih, sebelum membukanya. Kanaya sempat berpikir kalau itu adalah surat dari investor yang akan bekerja sama dengan perusahaan ini, tapi ternyata itu adalah undangan pernikahan dari salah satu temannya. Pernikahannya diadakan lusa. Kanaya mendengus sebal. Sudah beberapa kali dia membenci undangan pernikahan yang diberikan padanya, termasuk ketika sepupunya—Anneliese Wijaya—mengundangnya ke acara pernikahan dia. Bukan tanpa alasan, Kanaya hanya tidak suka ketika dia ditanya kapan akan menikah. Maksudnya, tentu saja Kanaya akan menikah—tapi entah bagaimana caranya karena dia sama sekali belum pernah berkencan dengan siapapun. Dengar, Kanaya tidak jelek—sungguh, kata Neneknya, Alexandria Wijaya, Kanaya cantik. Sangat cantik. Banyak lelaki yang sempat mendekatinya dari zaman ia sekolah, tapi sayangnya tidak pernah ada yang sampai menjadi pacar dikarenakan … ayahnya. Yap. Ayahnya, Dean Angkasa, selalu melarangnya untuk berhubungan dengan pria dan mengatakan kalau Dean akan memilihkan pria untuk Kanaya sendiri. Ketika akan menyimpan undangan itu ke tasnya, Kanaya baru sadar bahwa ia diberikan dua undangan yang terselip. Kanaya mengeryitkan dahinya dan membuka undangan yang satu lagi. Ternyata, itu adalah undangan tidak formal untuk Kanaya menghadiri bachelortte’s party dari temannya. Nah, kalau undangan seperti ini, Kanaya pasti akan datang. Ah, dia memang memiliki orang tua yang strict, tapi untuk kabur ke klub malam tanpa diketahui oleh orang tuanya, Kanaya jagonya. “Rachel,” panggil Kanaya pada rekan kerjanya yang kubikelnya berada di samping kubikel dirinya. “Iya, Kay?” Rachel menoleh dan mengangkat kedua alisnya. “Hari ini kita tidak ada rapat, ‘kan?” Rachel terlihat berpikir sebentar dan mengecek komputernya untuk sesaat. Kemudian, dia kembali berbalik lagi pada Kanaya dan menggeleng. “Tidak ada. Kenapa?” Kanaya mengulum senyumnya dan menggeleng. “Tidak apa-apa. Terima kasih.” Rachel yang ada di samping Kanaya hanya bisa menatapnya bingung, lalu beberapa detik kemudian, Rachel tersenyum geli. “Pasti kamu ada kencan, ya?” Kanaya langsung menggeleng kuat. “Tidak!” “Oh My God, ini akan menjadi berita yang bagus, Kanaya! Kamu berkencan?! Cepat beritahu aku siapa prianya!” Kanaya memutar bola matanya. “Tidak ada. Aku tidak punya pacar untuk saat ini.” Kanaya kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat tertinggal. Tidak menyadari kalau Rachel masih saja menggodanya tanpa sebab. *** “Mau ke mana?” Kanaya terkejut bukan main ketika ibunya tiba-tiba saja membuka pintu walk-in-closet di kamarnya. Kanaya yang sedang bersiap-siap ke pesta temannya langsung menutupi tubuhnya yang sedang mengenakan baju kurang bahan. “Mama!” Kanaya protes pada ibunya. Sementara, Addy yang melihat kelakuan anaknya hanya melotot tajam. “Kanaya, apa yang sedang kamu pakai, hah?!” Suara melengking ibunya membuat Kanaya semakin panik. Masalahnya, jika ayahnya tahu apa yang sedang ia lakukan, maka kesempatannya untuk pergi ke pesta itu akan hilang. Ayahnya pasti tidak akan setuju jika dia mengenakan pakaian seperti ini, apalagi jika tahu ke mana Kanaya akan pergi. “Ini … aku … ada acara.” Kanaya mencoba untuk mencari alasan yang tepat. “Acara apa?!” Ibunya semakin memekik tertahan. Kanaya berdesis. “Mama, jangan keras-keras! Nanti Ayah akan tahu.” “Oh, jadi kamu ingin kabur malam-malam begini dan tidak memberitahu Ayah?!” “Ma—” “Dean! Lihat kelakuan anak kamu!” “Mama!” ***          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD