Chapter 2

1119 Words
Anne Wijaya melihat ke sekeliling pesta pernikahannya yang sederhana. Dia tersanjung karena Sanjaya, suaminya, kini menepati janjinya dengan mengundang orang-orang yang ia kenal saja. Kecuali dua orang. Zafran—pria yang pernah dijodohkan dengan sepupunya, Kanaya Wijaya, yang ternyata adalah anak dari salah satu kepala bagian di perusahaan Sanjaya, juga satu orang pria yang seumuran Sanjaya yang kini berada di dekat gazeboo. Anne mengalungkan tangannya pada lengan atas Sanjaya. Membuat suaminya yang awalnya sedang berbicara dengan salah satu tamu, berbalik demi memusatkan perhatiannya pada istrinya. “Ada apa, Sayang?” “Sanjaya. Siapa pria itu?” tanya Anne sambil terus memerhatikan pria yang berumur sekitar tiga puluh tahunan. Sanjaya mengeryitkan dahinya samar. “Oh, itu Alastair Adyatma.” Anne melirik suaminya heran. “Aku tidak mengenalnya.” “Tapi dia dekat denganku. Dia temanku.” Bibir Anne langsung membentuk huruf O kecil. “Baiklah.” Kembali ia melihat pria itu. “Oh, lihat! Dia bertemu dengan Kanaya.” Senyuman Anne terbit. “Benarkah?” “Iya. Apa mereka akan bersatu?” “Anne, bertemu di pesta pernikahan belum berarti menjadikan mereka jodoh.” Anne mengendikkan bahunya. “Well, siapa tahu? Kita juga saling kenal karena sebuah pesta yang sama-sama kita hadiri, bukan?” Sanjaya tertawa kecil dan tidak kuasa untuk tidak mencubit pelan pipi istrinya. “Mau taruhan?” tantangnya. “Apa?” “Jika mereka benar bersatu seperti kata kamu, maka aku akan memberikan sesuatu yang spesial untuk kamu.” “Jika aku kalah?” “Aku akan meminta hadiahku.” Sanjaya mengulum senyumnya. Anne berpikir sejenak. Dia tahu ini konyol. Salahnya juga yang asal berceletuk bahwa Kanaya akan berakhir dengan Alastair hanya karena mereka tidak sengaja terlihat berdua. “Baiklah.” “Deal?” “Deal. Lagipula, aku sudah tahu apa hadiah yang cocok untuk kamu.” Sanjaya mendekatkan wajahnya pada Anne. “Apa?” tanyanya dengan nada serak. “Aku.” Untung saja Sanjaya memiliki kontrol atas dirinya dengan baik. Dia tidak mungkin menyerang istrinya di pesta pernikahannya sendiri. *** “Astaga, ini benar-benar buruk.” Kanaya meringis ketika melihat kemeja dan jas pria tadi basah kuyup karena minuman yang ditumpahkan oleh Zafran. Zafran sialan! Dia mendongak sekilas demi melihat ekspresi pria itu—yang ternyata sama dinginnya dan datarnya seperti sebelumnya. Seolah bajunya tidak ada masalah dan meledek Kanaya yang panik sendiri. Kanaya berdehem ketika melepaskan kontak mata mereka. Hanya beberapa detik tatapan mereka bertemu, tapi cukup membuatnya gugup bukan main. Yang lebih memalukannya lagi, Kanaya yakin hanya dirinya sendiri yang gugup, sementara pria itu tidak merasakan apapun. “Hm … apa kamu ingin berganti baju?” Pria itu diam sejenak. Lalu, menggeleng singkat. “Ah, benar juga. Tidak mungkin kamu bawa baju ganti.” Kanaya menggigit bibir bawahnya. Mengalihkan tatapannya ke arah lain yang lebih membuatnya tenang adalah salah satu cara agar dia tidak semakin gugup karena pria itu masih menatapnya dengan intens. “Sebentar. Aku akan mengambilkan tissue.” Kanaya bergegas mencari sekotak tissue yang untunglah tidak sukar ia temukan. Dia membawa satu kotak tissue berukuran besar sekaligus. Untunglah mereka kini berada di dalam rumah Anne dan Sanjaya yang lebih sepi dari pada taman belakang. “Kemari.” Walaupun Kanaya tahu usahanya mengelapkan tissue pada bagian basah baju pria itu. Setelah beberapa detik, tangan pria itu terangkat untuk menahan gerakan Kanaya. “Apa?” tanya Kanaya tidak mengerti. Sungguh, dia tidak tahu harus melakukan apa atau berkata apa ketika pria di hadapannya ini hanya diam saja. “Kamu tahu itu hanya sia-sia.” Pria itu mengambil tissue yang dipegang Kanaya dan membuangnya entah ke mana. “Aku … hanya ingin membantu.” Kanaya semakin gugup. Dia kini berdiri tegap di hadapan pria itu sambil menatapnya dengan rasa bersalah. “Itu kesalahanku—” “Bukan kamu yang melakukannya.” Ah, iya. Benar juga. Tapi, yang melakukannya adalah Zafran dan jelas-jelas Zafran mengenalnya, itu berarti Kanaya harus bertanggung jawab atas kesalahan Zafran, bukan? Kanaya tahu alasannya bodoh dan sanga tidak masuk akal. “Lagipula, setidaknya aku berhasil menyelamatkan kamu dari pria itu.” Persetan! Dia gugup! “Memang, tapi …” “Apa dia pacar kamu?” “Bukan.” Kanaya berjengit geli membayangkan bahwa ia kekasih Zafran. Pria itu menghembuskan napasnya lega. “Baguslah. Aku tidak mau berurusan dengan hubungan orang lain.” Pria itu memang mengatakan dua kalimat yang membuktikan pada Kanaya bahwa ia tidak bisu ataupun gagu. Baguslah. “Tidak. Aku bahkan tidak mau berhubungan dengan pria itu.” Kanaya bermaksud kembali membersihkan sisa air di kemeja pria itu, yang membuatnya secara tidak sengaja melihat d**a dan perut yang membentuk karena tumpahan air tersebut. Kanaya menelan ludahnya gugup. Sial, ini bukan saatnya berpikiran kotor. “Aku tidak tahu apakah kamu ingin membantuku karena rasa bersalah atau karena kamu ingin melihat tubuhku secara tidak langsung.” Kanaya membeku di tempatnya. Dia mendongak langsung dan menatap pria itu tidak percaya. “Ti-tidak! Astaga, aku tidak murahan! Lagipula, untuk apa aku tahu apa yang dibalik kemeja itu ketika kita adalah orang asing, huh?!” Sial! Bisa-bisanya pria itu berpikiran yang tidak-tidak soal Kanaya. Pria di hadapannya hanya diam. Mata hazelnya menghunus tajam Kalila. Tidak ada emosi ataupun rasa gugup seperti yang dirasakan Kanaya. Pria itu benar-benar tidak tersentuh. Tiba-tiba saja pria itu membalikkan badannya dan bermaksud meninggalkan Kanaya. “Eh, tunggu dulu!” “Apa kita masih memiliki urusan?” Kanaya kebingungan. “Tidak, tapi baju kamu basah.” “Dan apa hubungan kamu dengan bajuku yang basah?” Pria itu menatap Kanaya dengan tatapan sayu nan dinginnya. “Tidak ada, tapi—” Kanaya menggigit bibir bawahnya. Astaga, kenapa pula dia tidak membiarkan pria itu pergi saja. Tapi, bukankah seharusnya Kanaya menggantikan kemeja dan jas pria itu? Dilihat sekilas saja, Kanaya tahu setelah pria itu sangat mahal. “Kalau begitu, tidak ada urusan lagi.” “Tunggu.” Pria itu menghentikan langkahnya. “Si-siapa nama kamu?” tanya Kanaya dengan nada yang sedikit bergetar. Dia cukup takut ketika menanyakannya, tapi dia juga penasaran. Persetan dengan keraguan dan kegugupannya, Kanaya harus mengetahui nama pria itu sekarang! “Kenapa kamu perlu tahu namaku?” tanya pria itu dengan nada yang sangat sarkas dan mengintimidasi. “Aku … tidak tahu. Tapi—” “Berhenti mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu apa artinya.” Setelah mengatakan itu, pria tersebut melangkahkan kakinya meninggalkan Kanaya yang mematung dalam keadaan syok berat. Setelah merasa gugup dan terintimidasi, sekarang dia harus ditinggalkan dalam keadaan bingung sekaligus malu seperti ini? Benar-benar kurang ajar! “Hei! Dasar sombong! Awas saja jika kita bertemu nanti!” Tidak. Demi harga diri dan rasa malunya, Kanaya tidak mau bertemu lagi dengan pria itu. Tapi, rasa penasarannya berbisik bahwa dia harus mencari tahu siapa pria itu. Sangat misterius, dingin, dan menyebalkan! ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD