BAB 9: TEROR 2

1426 Words
Sepuluh menit sebelumnya… Diego sedang berada di ruang kerja Darius bersama dengan pria itu dan Garry Kean. Sejak tadi mereka membahas cara untuk menemukan anak buahnya dan mencegah agar tidak menyerang Rose. Darius sudah berhasil menemukan tempat dimana anak buahnya tinggal di Jakarta saat ponsel pria itu berbunyi. “Hallo” jawab Darius. “Jaya! Dimana kamu?!” teriak Darius panik. Hal itu langsung menarik perhatian Diego dan Garry. Mereka melihat wajah pria itu memucat. “Hallo! Hallo!” teriak Darius lagi saat tidak mendapat balasan dari penelepon. Pria itu langsung berlari keluar ruangan. Diego dan Garry segera mengikuti Darius karena menyadari telah terjadi sesuatu. “Ma!! Pa!!” panggilan panik Darius membuat ayah dan ibunya yang berada di ruang keluarga langsung berdiri dari duduknya. “Ada apa Darius?” tanya Rosaline berjalan menghampiri putranya. “Morin diserang!” jawab Darius. Dia sekarang sedang menghubungi adik adiknya. “Apa?! Siapa yang menyerang Morin?!” seru Rosaline panik. “Anak buahku” jawab Diego. Wajahnya sekarang juga tidak kalah pucat dari Darius. Sekarang dia tahu apa yang terjadi! Tapi belum sempat dia bertanya pada Darius dimana posisi Morin, tubuhnya sudah terpental ke lantai. “b******n! Apa yang kau lakukan pada cucuku!!” bentak Rosaline. Dia hendak menyerang Diego lagi namun dihalangi oleh Garry. “Maaf Nyonya. Ada salah paham disini” kata Garry sambil menahan tangan Rosaline. “Lepaskan istriku” kata Adianto sambil mengokang pistol di tangannya yang sudah diarahkan pada Garry Kean. Pria itu melepaskan Rosaline setelah mendapat persetujuan dari Diego. “Ma. Pa. Pelakunya bukan Diego” kata Darius setelah dia selesai menghubungi kedua adiknya yang mengatakan kalau mereka akan segera datang. Rumah mereka yang hanya bertetangga membuat kedua adiknya bisa sampai di rumah ini dalam waktu singkat. Dia lalu menghubungi pimpinan Volle Guard untuk memberikan perintah. “Jusuf, kirimkan bala bantuan ke titik Jaya, dia ada di pintu tol C. Dia sedang menghadapi serangan. Dan kirimkan helikopter ke rumah saya sekarang!” perintahnya. Lalu dia mulai mengutak atik ponselnya, berusaha mencari titik Morin karena ponsel gadis itu tidak bisa dihubungi dan dia belum bisa menemukan posisi gadis itu, hal itu membuatnya semakin panik dan berusaha meretas cctv di sekitar pintu tol C. Cara yang paling cepat menemukan gadis itu adalah dari anting yang tadi dia berikan pada Morin, tapi gadis itu sampai sekarang belum mengaktifkan GPSnya. Gps yang tertanam disana memiliki frekuensi yang berbeda sehingga tetap bisa tersambung dengan ponselnya. “Kak! Morin dimana?” tanya Donny panik saat menerobos masuk kesana bersama Darren. “Darren. Siapkan heli” perintahnya saat melihat kedua adiknya. Sekarang satu satunya cara adalah mengejar ke pintu tol C dan paling cepat dengan menggunakan helikopter. “Iya kak” jawab Darren sambil berlari menuju tempat helikopter mereka terparkir. Hanya dia dan Darius yang bisa mengendarai helikopter. Tiiiiiittttttttt!!!!! Suara kencang itu membuat mereka semua menoleh pada ponsel Darius. Akhirnya! Dia langsung menyalakan speaker agar mereka semua bisa mendengarkan suara yang keluar sambil dia mencari titik gadis itu yang sudah muncul di layar ponselnya. “Om. Tolong aku!! Pokoknya kalau kita belum menikah sampai jadi hantupun aku akan menggentayangi om!!! Mau beda dunia kek aku tidak peduli, aku akan minta papa dan mama di surga membantuku. Kalau masih tidak bisa, aku akan ajak om ke dunia lain saja biar kita bersama disana!!!!” teriakan cempreng dan kalimat absurd Morin mengawali rekaman itu. Hening sejenak.. “Morin. Morin. Kamu tidak apa apa?” tanya Donny panik. Seperti biasa Donny yang lebih dulu bisa bereaksi setelah kejutan kalimat absurd putrinya. “Dia tidak bisa mendengar kita. Hanya kita yang bisa mendengar dia. Aku sudah mengirimkan titik Morin pada kalian semua. Kita langsung jalan kesana.” kata Darius sambil berlari keluar saat mendengar deru mesin helikopter. Mereka semua mengikuti Darius dan menemukan helikopter itu sudah terparkir halaman rumah. Dia langsung naik ke helikopter dan dan menyuruh Darren segera berangkat. “Tunggu Darius. Aku ikut. Hanya aku yang bisa menghentikan mereka” teriak Diego sambil naik heli itu diikuti oleh Garry. Darius menghalangi Donny yang akan ikut naik ke helikopter. “Don, kamu ikut mama dan papa pakai helikopter yang dikirimkan Jusuf saja, jangan semuanya naik satu helikopter yang sama. Siapkan senjata tambahan” perintah Darius. Jika sampai terjadi sesuatu dengan helikopter ini, harus ada orang lain yang bisa menyelamatkan Morin. Helikopter memang paling cepat untuk sampai ke tujuan, hanya membutuhkan lima menit untuk sampai di tujuan, sedangkan dengan motor membutuhkan waktu paling cepat dua puluh menit. “Iya kak” jawab Donny sambil berlari kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil senjata. “Kau yang pertama mati jika sampai terjadi sesuatu pada Morin” kata Darius pada Diego saat helikopter itu mulai dijalankan Darren. Yang kedua adalah Rose Willem Baskara! Darius masih terus mengutak atik ponselnya untuk memberikan pengarahan pada semua orang. Dia berusaha tenang agar bisa fokus dalam usaha menyelamatkan Morin. Untungnya dia masih bisa mendengar suara Morin dan teman temannya berbicara dengan panik. Setidaknya mereka masih aman berada dalam Mobil. “Morin, aku suruh kamu untuk minta tolong bukan meneror” “Lah, memang aku sedang meminta tolong pada Om Darius kan” “Kamu itu meneror orang bukan minta tolong Morinnnnn!!!!!” “Untuk apa aku meneror Om Darius?” “Kamu meneror akan menggentayangi dan menyeret Om Darius ikut bersamamu jika kamu mati sekarang!!” “Lah, memang itu kenyataannya Sissy! Aku hanya memberitahu Om!” “Sudah hentikan kalian! Aku pusing dan butuh konsentrasi menyetir. Oh s**t!!!” “ciiiittttt” Setelah selesai memberikan instruksi, Darius mengambil tas di bagian bawah kursi dan membukanya. Garry sampai melotot melihat lengkapnya senjata yang ada disana. Dia tidak menyangka orang sipil seperti Darius Hartadi memiliki begitu banyak senjata. Darius lalu membagi senjata itu pada mereka semua. **** Rose menghentikan Mobilnya saat melihat di depannya sekarang sudah berjejer mobil jeep yang tidak mungkin bisa mobilnya lawan. Sekarang dia terdesak, Jeep di depan dan truk kontainer di belakang yang sekarang sudah berhenti setelah melintang menutupi jalan. Kalau setelah ini dia masih hidup, dia akan minta kakaknya membuatkan mobil yang bisa terbang! “Kalian tetap di dalam saja. Aku akan coba bicara dengan mereka” kata Rose sambil membuka sabuk pengamannya. “Jangan Rose. nanti mereka menembakmu” kata Sissy panik sambil memegangi tangan Rose. “Mereka memang mengincarku. Tapi aku harus mencari cara menyelamatkan kalian” jawab Rose. Dia menatap semua sahabatnya dengan perasaan bersalah. “Maafkan aku membawa kalian dalam masalah besar seperti ini” lanjut Rose. suaranya serak dan matanya berkaca kaca. Tidak pernah sekalipun dia berniat mencelakakan para sahabatnya, tapi sekarang karena kecerobohannya, dia malah membuat nyawa mereka semua dalam bahaya. “Jangan Rose. Jangan keluar” kata Jisoo yang sudah kembali menangis. “Iya. Kita sudah berjanji akan selalu bersama. Kita selalu bisa menyelesaikan apapun selama ada Sissy dan Morin” kata Jenny yang sekarang menatap Sissy dan Morin. “Kalian biasanya selalu memiliki ide dan rencana hebat. Ayo sekarang cepat pikirkan sesuatu!” kata Jenny mulai menangis juga. “Rose. Siapa yang mau membunuhmu? Kita harus mengulur waktu sampai bantuan datang” tanya Morin. Dia harus memutar otak mencari cara agar mereka bisa bertahan. “Anak buah Justin Ludovic atau yang kalian kenal sebagai Diego Marazzi” jawab Rose. “Apa?! Diego mau membunuhmu?” tanya Sissy. Suaranya melengking karena terkejut. “Bukan. Tapi ada anak buahnya menerima perintah untuk membunuhku tanpa sepengetahuan Justin Ludovic. Jadi sekarang anggota Justin mengejarku karena berpikir kalau ini perintah Justin” jawab Rose. Lalu tiba tiba kaca jendela mobil mereka digedor gedor, bahkan mereka menggunakan pistol untuk mencoba menghancurkan kaca jendela itu. “Aku akan keluar dan mencoba mengulur waktu. Setelah aku keluar langsung kunci lagi pintunya. Mobil ini dirancang khusus, jadi mereka tidak akan bisa memecahkan kaca atau mendobrak masuk” kata Rose. “ROSE!!!” teriak teman temannya saat Rose mengangkat kedua tangannya ke arah jendela agar bisa dilihat orang yang sedang berusaha memecahkan kaca jendela mobilnya. Melihatnya menyerah, mereka berhenti dan menunggu Rose keluar. “Ingat kunci pintunya lagi sampai bantuan datang” kata Rose sebelum dia keluar dan dia langsung menutup pintunya setelah dia berada diluar. Sissy langsung mengunci pintu seperti yang Rose perintahkan. “Bagaimana ini?” tanya Jenny terisak saat mereka melihat beberapa orang menodongkan senjata pada Rose dan seseorang berjalan mendekat dari kejauhan. “Itu para pembunuh tahunya kalau Diego yang memerintahkan mereka kan? Kita harus mencari cara memberitahu mereka kalau Diego tidak menyuruh mereka membunuh Rose” kata Morin. “Aku ada ide” seru Sissy tiba tiba sambil menjentikkan jari, dia tersenyum lebar dan mengambil ponselnya. Semua temannya langsung menatapnya penuh harapan. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD