Setelah para pria pergi, Rose dan teman temannya bersiap siap untuk pergi ke Volle Hotel, karena Morin hanya diijinkan om Darius untuk pergi kesana dan tidak ada yang berani menentang Darius Hartadi.
Mereka hanya menggunakan satu mobil saja dan memilih menggunakan mobil Rose karena wanita itu mengatakan kalau dia yang akan menyetir. Dan kemampuan menyetir Rose sangat mumpuni hingga mobil mereka bisa ngedrift di tol.
Saat mobil Rose keluar dari gerbang rumah Rosaline, mereka melihat dua mobil ikut keluar dari rumah itu.
“Morin, apakah kau benar benar menjadi target musuh Om Darius?” tanya Sissy penasaran.
“Aku juga tidak tahu. Tapi seperti yang tadi aku ceritakan, Om Darius tiba tiba terlihat khawatir, padahal sebelumnya tidak ada masalah” jawab Morin.
“Sampai dua mobil loh yang mengikuti kita. Jangan jangan nanti di Volle Hotel lebih ramai lagi” kata Jenny bersemangat. Entah mengapa dia merasa ini seru.
“Kita nanti jadi seperti di film film dong. Sayang sekali Lisa tidak ada” kata Jisoo sama semangatnya, rasanya ada euforia tersendiri mendapati mereka diikuti dua mobil bodyguard. Lisa sudah tidak bersama mereka lagi sejak lima bulan lalu saat mereka lulus, sekarang Lisa tinggal di Amerika bersama kakaknya.
Rose hanya diam mendengarkan obrolan teman temannya. Dia yakin Darius Hartadi mengetahui kalau dia tengah diburu. Tapi jika pria itu tahu kalau dia adalah target komplotan mafia Justin Ludovic, berarti dia tahu kalau Diego Marazzi adalah Justin Ludovic?!
Kenyataan itu menyadarkannya kalau Justin Ludovic memang tidak berniat membunuhnya. Jika sejak dua hari lalu dia bimbang, tapi sekarang dia sudah yakin. Darius Hartadi tidak akan membiarkan siapapun membawa anggota keluarganya dalam bahaya. Dan melihat interaksi Darius dan Justin Ludovic sejak tadi, berarti kemungkinan pria itu ada disini untuk membantu Darius melindungi Morin. Hatinya menjadi lebih tenang saat menyadari hal itu. Berarti memang Leonardo Ricci yang menerima order itu tanpa persetujuan Justin Ludovic.
Ternyata betul apa yang dikatakan Jenny. Begitu mereka sampai di Volle Hotel, mereka disambut barisan bodyguard yang terus mengikuti mereka hingga ke ruang karaoke hotel yang membuat mereka menjadi tidak nyaman.
Setelah perdebatan alot dengan Darius, akhirnya Morin dan teman temannya boleh hanya ditemani seorang bodyguard senior yang disuruh duduk di pojok ruangan itu.
Mereka menghabiskan hari hingga malam di Volle Hotel. Setelah lelah berkaraoke, mereka pindah ke ruang VIP restoran di Volle Hotel untuk makan malam, mengisi tenaga yang terkuras karena bernyanyi dan bergosip.
Mereka pulang jam sembilan malam agar sampai rumah Morin sebelum jam sepuluh, tidak ada yang mau berurusan dengan Om Dariusnya Morin. Namun ternyata hari ini tidak berakhir seperti yang mereka harapkan.
Rose menyadari ada yang salah setelah sekitar lima menit masuk tol dan tidak menemukan mobil lain, termasuk mobil bodyguard Morin yang seharusnya berada di belakang mereka.
“Guys” nada suara serius Rose menghentikan pembicaraan teman temannya.
“Kenapa Rose?” tanya Sissy yang duduk di sebelahnya.
“Tidak ada mobil lain disini” jawab Rose. Jantungnya berdebar sangat cepat dan tangannya mulai berkeringat. Sialan! Mengapa mereka memilih menyerang sekarang! Dia membuat sahabat sahabatnya berada dalam bahaya sekarang!
Perkataan Rose membuat mereka semua memperhatikan sekeliling dan memang tidak menemukan mobil lain yang berjalan disana, bahkan jalan tol arah sebaliknya yang ada di sebelah mereka juga kosong.
“Kemana mobil para bodyguard?” tanya Jenny panik.
“Aku akan menghubungi Om Jaya” kata Morin yang juga panik. Dia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi bodyguardnya, begitu juga teman temannya. Namun ponsel mereka semua tidak memiliki jaringan, bahkan untuk emergency call juga tidak bisa.
“Bagaimana ini? Aku takut” kata Jisoo ketakutan. Dia mulai menangis.
“Tenang dulu. Di depan sekitar satu kilometer lagi ada keluaran tol” kata Rose menenangkan. Dia berusaha menenangkan teman temannya dan otaknya berputar mencari cara untuk segera keluar dari tol ini. Dia harus menyelamatkan semua sahabatnya dulu.
Tiba tiba semua lampu jalan mati, hanya menyisakan sorot lampu dari mobil Rose. Hal itu membuat mereka semakin panik.
Terdengar deru kencang mesin kendaraan dan dari arah depan tiba tiba muncul sebuah truk kontainer melaju kencang ke arah mobilnya. Rose memutar roda kemudi untuk menghindari truk itu. Namun ternyata di belakang truk kontainer itu ada beberapa truk kontainer lain yang juga sedang melaju kencang ke arah mobil mereka. Rose segera memutar mobilnya dan berharap mereka bisa kembali ke pintu tol yang tadi mereka masuki.
“Pakai seatbelt” teriak Rose saat dia menekan gas sekuat tenaga. Morin, Jenny dan Jisso yang duduk di kursi penumpang belakang langsung menggunakan sabuk pengaman mereka.
“Bagaimana ini?”
“Aku belum mau mati”
“Morin pikirkan sesuatu”
“Sissy carilah ide agar kita semua selamat”
“Ponselku masih tidak ada jaringan walaupun sudah di restart”
“Oh my baby Lucia. My Gavin. Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu kalian lagi”
“Morin putar otakmu, ingat kamu belum menikah dengan Om Darius. Jadi kita tidak boleh mati!!”
Mereka semua bicara bersahut sahutan karena sangat panik, mereka sekarang dikejar gerombolan truk kontainer.
Dor
Dor
Dor
“AAAAAAAAA” jerit mereka serempak sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan saat mendengar suara tembakan, selain Rose tentunya yang masih konsentrasi menyetir. Rentetan tembakan itu mengenai body dan kaca mobil Rose. Untungnya mereka menggunakan mobil Rose yang memang dirancang untuk perang, jadi mobil itu anti peluru, tapi tetap saja akan hancur kalau dilibas truk kontainer!
BAM
“AAAAAAAAA” jerit mereka bersamaan. Mobil mereka terdorong ke depan karena ditabrak dari belakang.
“Rose, Pindah ke jalur kiri” perintah Morin sambil merogoh bagian dalam sakunya dan membuka jendela. Setelah Rose berpindah jalur. Morin menarik kait pengaman dan melemparkan bom kecil miliknya ke arah kontainer yang baru saja menabrak mereka.
“Lebih cepat lagi Rose!” perintah Morin dan Rose semakin dalam menekan pedal gasnya.
DHUAR
Kontainer itu meledak saat bom itu menyentuh body kontainer. Hal itu membuat kontainer yang lain kesulitan lewat karena kontainer di depannya meledak dan terbakar.
“Yihaaa!!! Kena kau!” seru Morin.
“Kau bawa bom?” Jenny menatap horor pada Morin.
“Om Darius tadi memberikannya padaku. Sekarang masih ada dua” jawab Morin sambil menunjukkan bomnya dan membuat teman temannya menjauhkan diri darinya, walau hanya bisa sedikit bergeser.
“Morin! Apakah Darius tidak meletakan pelacak atau sejenisnya di tubuhmu?!” tanya Rose teringat kalau Darius sudah berusaha mengantisipasi kejadian ini. Pria itu memiliki banyak pertahanan dalam merencanakan sesuatu, jadi seharusnya ada pelacak yang dia pasang di tubuh Morin.
“Ah, iya. Ada! Ada! Antingku” jawab Morin seketika teringat pada antingnya. Dia menarik bandul antingnya sampai terlepas.
“Cepat minta tolong pada Om Darius, Morin!!!!” teriak Sissy yang sudah histeris. Walaupun suka menonton film fast and furious dan berasa keren jika ada di kenyataan, tapi dia tidak ingin merasakannya sendiri! Dikejar rentetan truk kontainer yang mau melindasnya tidak pernah ada dalam agenda hidupnya.
“Om. Tolong aku!! Pokoknya kalau kita belum menikah sampai jadi hantupun aku akan menggentayangi om!!! Mau beda dunia kek aku tidak peduli, aku akan minta papa dan mama di surga membantuku. Kalau masih tidak bisa, aku akan ajak om ke dunia lain saja biar kita bersama disana!!!!” teriak Morin.
Hening….
“Morin, aku suruh kamu untuk minta tolong, bukan meneror!” kata Sissy setelah dia bisa bicara. Mereka syok mendengar kalimat Morin yang sepertinya salah tempat di saat kritis seperti ini.
“Lah, memang aku sedang meminta tolong pada Om Darius kan” jawab Morin polos.
****