BAB 6: ANTISIPASI ALA DARIUS

1116 Words
Tiiiiittttt Darius yang sedang berbicara dengan Morin di kamarnya langsung membuka ponselnya. Dia melihat notifikasi dari alarm yang memberitahunya kalau dari rumah ini ada yang mengirim pesan ke nomor ponsel yang sedang dia awasi. Dengan otak jeniusnya, Darius sudah merancang merancang berbagai perangkat pengamanan dan rumah keluarganya tentu saja dipasang yang termutakhir. Bahkan dia mengacaukan gps lokasi rumah keluarganya, sehingga siapapun yang sedang bertelepon dengan orang di rumah ini tidak akan bisa melacak posisi rumah keluarganya ini. Dan pesan yang barusan dikirim oleh Rose langsung menyalakan alarm di ponselnya. Darius langsung menuju meja kerjanya dan membuka laptopnya. Jarinya bergerak sangat cepat di atas papan keyboard, terus memasukkan kode kode sampai akhirnya dia berhasil mengetahui siapa yang mengirim pesan itu. Rose Willem Baskara. Darius mengetahui nomor ponsel anak buah Diego yang ada di ponsel pria itu, dan itu berarti orang orang itu berada di tingkat atas jaringan mafia Diego. Dan dengan orang itulah Rose berbalas pesan, pengkhianat di jaringan mafia Diego! Sebenarnya ponsel Rose juga memiliki pengamanan yang sulit ditembus, tapi tidak sulit bagi Darius untuk membobolnya tanpa ketahuan, dia hanya perlu sedikit lebih lama mengutak atik laptopnya dan semua data terkopi dari ponsel wanita itu ke laptopnya. Dia sudah menyelidiki latar belakang wanita itu sejak malam dia menyerang Diego. Dan menurutnya wanita itu bisa membawa bahaya untuk Morin karena dia menjadikan dirinya sendiri target pembunuhan untuk memancing Diego keluar, yang membuatnya diburu anggota Diego yang menerima tugas membunuhnya dari si pengkhianat. “Om” panggil Morin sambil menyentuh bahu omnya yang membuat Darius tersentak dan langsung menoleh pada Morin. Dia menarik Morin duduk di pangkuannya lalu meletakkan kedua tangannya di meja, memerangkap tubuh gadis itu di antara tubuhnya dan meja kerjanya. “Bisakah kamu tetap di rumah saja seminggu ini?” tanya Darius. Nada suaranya memerintah walaupun itu keluar dalam bentuk pertanyaan. “Tapi hari ini aku sudah janji dengan mereka. Mereka semua sudah datang om. Tidak enak kalau aku membatalkan janji sepihak seperti ini tanpa alasan yang jelas” jawab Morin. Dia bingung dengan perubahan sikap omnya dari yang sebelumnya biasa saja menjadi serius seperti sekarang. “Hari ini saja ya. Mulai besok selama seminggu aku akan anteng berada disisi om terus” jawab Morin memotong kalimat yang pasti berupa komplain yang baru akan disemburkan Darius. Darius menatap wajah Morin dengan serius, tapi pikirannya sedang berputar mencari cara melindungi gadis ini. Sepertinya Morin memaksa hari ini harus pergi dengan teman temannya. Jika dari chat Rose, berarti hanya seminggu inilah bahaya mengintai wanita itu. Darius bahkan tidak peduli jika wanita itu mati, dia sendiri yang sedang menggali kuburnya sendiri dengan mencoba bermain main dengan mafia. Masalahnya adalah bagi mafia yang penting target mati, tidak peduli jika ada orang lain yang akan ikut mati dalam operasinya! “Jam berapa kamu berangkat? Nanti om dan Diego akan ikut” kata Darius. Menurutnya Diego pasti bisa mengatasi anak buahnya jika mereka tiba tiba menghadang. “Ehhh… gak bisa! Ini acara perempuan. Besok aja kalau om dan Diego mau ikut” tolak Morin. Bagaimana mereka bisa bergosip kalau bahan gosipannya ikut? Bibirnya sudah sangat gatal untuk segera menceritakan keberhasilan rencananya menjerat om tercintanya ini kepada teman temannya. “Morin” Darius menggeram. “Tidak boleh” jawab Morin keras kepala. Dia menggelengkan kepalanya. “Nanti malam aku pulang jam sepuluh. Mulai besok aku akan dirumah, keluar hanya dengan keluarga. Titik!” lanjut Morin. Dia melihat Darius masih mau membantahnya. Jadi dia menangkupkan kedua tangannya di pipi pria itu. “Semua akan baik baik saja om. Om tahu kami semua bisa bela diri. Aku juga sudah memakai anting yang om berikan. Suruh saja bodyguard untuk mengawal kami.” lanjut Morin lagi. Dia lalu mencium seluruh wajah omnya, merayu pria itu agar mengijinkannya pergi. Darius menghela nafas, dia tahu dia tidak bisa memaksa Morin lebih jauh. Jika dia memberitahu tentang Rose, maka gadis ini malah akan berusaha melindungi temannya itu. Darius mendorong pelan punggung Morin, menyuruh gadis itu turun dari pangkuannya. Dia lalu berjalan ke lemari pakaiannya dan membuka laci rahasia di belakang lemarinya, mengambil sesuatu lalu kembali menutupnya. Dia menghampiri Morin lagi dan menyerahkan sebuah tas kecil. Morin membuka tas kecil berwarna hitam itu dan menemukan berbagai senjata disana. Adan pisau lipat, pistol saku dan dua set pelurunya, bahkan ada beberapa bom berdaya ledak kecil disana. “Om mau menyuruhku meledakkan apa?” tanyanya sambil memegang bom itu. Dia bisa menggunakan semua senjata itu, tapi bukan ahli. Semenjak dia diculik dulu, omahnya mulai mengajarinya bela diri, omah juga mengajarkannya menggunakan berbagai jenis senjata. Katanya yang penting dia tahu bagaimana cara menggunakan semua senjata itu, sehingga dia bisa bertahan jika berada dalam keadaan terdesak. “Pastikan semua barang itu menempel di tubuhmu. Kamu hanya boleh pergi ke Volle Hotel bersama teman temanmu. Disana ada beberapa restoran dan tempat hiburan. Bodyguard akan mengawal kemanapun kamu pergi. Mengerti?” kata Darius menegaskan. Dia mengabaikan pertanyaan absurd Morin. “Iya om” jawab Morin tenang, namun dalam hatinya dia mulai khawatir. Jika omnya sampai menyuruhnya membawa semua senjata ini, pasti memang ada masalah! Omnya bukan orang yang suka membesar besarkan suatu perkara, berarti memang ada bahaya yang mengintai. **** Darius membuka pintu kamarnya untuk berbicara dengan Diego. Mereka harus segera membereskan urusan Rose agar tidak membahayakan Morin. “Di-” belum sempat Darius memanggil Diego, terdengar suara barang jatuh. BRUK Darius mengerutkan alis melihat ketiga teman Morin terjatuh di depan pintu kamarnya. Apa yang mereka lakukan di depan kamarnya bertigaan begitu? Ketiga wanita itu yang sekarang terduduk di lantai balas menatapnya sambil memamerkan senyum yang dipaksakan. “Ngg… itu om. Kami baru saja mau mengetuk pintu kamar om. Om Gavin sejak tadi sudah menunggu di ruang tamu” kata Sissy berkilah. “Iya betul om Darius. Gavin sejak tadi sudah menunggu di ruang tamu” kata Jisoo mengulang perkataan Sissy, berusaha menyakinkan Darius. Darius yang menyadari kalau dia melupakan janjinya dengan Gavin langsung berjalan menuju ruang tamu tempat Gavin Lucas menunggunya. Dia tiba tiba berhenti saat teringat masalah yang baru datang dan menoleh untuk mencari sosok wanita si pembuat masalah, namun tidak menemukannya. “Dimana Rose Willem Baskara?” tanya Darius pada ketiga teman wanita itu. Ketiga wanita itu bukannya menjawab malah tersenyum mencurigakan sambil melirik Diego. Darius mengangkat sebelah alisnya saat melihat ke Diego dan pria itu hanya mengedikkan bahunya. “Sepertinya ke toilet” jawab Diego. “Setelah ini aku perlu bicara denganmu” kata Darius pada Diego sebelum berbalik untuk mencari Gavin. Dia harus segera menyelesaikan pembicaraan dengan Gavin untuk membereskan masalah anak buah Diego dan Rose. “Sesuai permintaanmu” jawab Diego santai walau dia tahu ada sesuatu yang telah terjadi karena Darius menatapnya tajam. Dia lalu menoleh pada ketiga wanita tadi yang sekarang ternyata sedang berbisik bisik bersama Morin. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD