Satu minggu sudah berlalu. Sudah 2 hari ini aku pulang pergi dari rumah ke restoran naik sepeda motor. Cukup efiesien waktu, bebas macet, tak perlu takut Mas Aron menungguku terlalu lama. Aku menuntun sepeda motor baruku keluar dari area parkir restoran, Baru saja keluar dari area restoran, sebuah sepeda motor tiba-tiba menghadang diriku. Reflek aku mengerem mobil. Mas Hirka turun dari boncengan sepeda motor, lalu menghampiri diriku. Perasaanku selalu tidak enak setiap melihat pria yang berstatus sebagai kakakku itu. "Lancar, nih rezeki!" ujar Mas Hirka seraya menyeringai, begitu tiba di depanku. "Minggir, Mas. Aku buru-buru." aku tau Mas Hirka punya tujuan buruk padaku. "Pinjem motornya, dong. Butuh banget, nih. Buat cari kerjaan." aku tahu Mas Hirka berbohong. Sejak kapan ia ingin b

