Aku segera menghapus air mataku, dan membuka mata saat mendengar suara Mas Fikri. Kenapa bisa selalu kebetulan bertemu dengan Mas Fikri. Aku sangat malu terlihat menyedihkan di hadapan Mas Fikri. "Kamu menangis? Kenapa?" tanya Mas Fikri dengan cemas. Ia menarik celananya sedikit, lalu berjongkok di hadapanku. "Mereka mengusirku dari kamar, Mas. Mereka pikir aku bisa masuk ke sini dan menang, itu karena kita mantan kekasih." Aku menegakkan punggungku, memalingkan wajah dari Mas Fikri. "Mereka siapa?" Mas Fikri nampak terkejut. "Mereka yang sekamar denganku." bukannya aku mau mengadu untuk menjatuhkan lawanku, tapi selama masa karantina ini aku tak mau di intimidasi oleh peserta yang lain. "Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu?" Mas Fikri terlihat bingung. "Memangnya kamu nggak tahu

