Seorang wanita seksi baru saja keluar dari lift dan berjalan dengan tergesa melewati ruang sekertaris. Ely, sang sekertaris yang tengah fokus melakukan pekerjaannya melihat dan langsung berdiri menghampiri wanita seksi tersebut.
"Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk ke dalam. Tuan Erlangga sedang ada tamu," jelas Ely yang sudah berdiri di depan Carolin si wanita seksi itu.
"Aku tidak peduli. Aku ingin menemuinya. Kau jangan menghalangiku," ucap Carolin dengan kasar.
"Maaf, Nona Anda tidak boleh masuk," ucap Ely kembali yang masih tetap menghalangi.
"Apa kau tidak tahu siapa saya? Saya tunangannya Erlangga. Kau tidak berhak menghalangiku masuk. Minggir!"
Carolin menepis kasar tangan Ely dan mendorongnya hingga gadis itu hampir tumbang. Carolin membuka pintu ruangan Erlangga dan membuat yang berada di dalam tempat itu terkejut dibuatnya.
"Ma--maaf, Tuan. Saya sudah melarangnya masuk, tapi Nona ini memaksa," ucap Ely pelan sambil tertunduk.
"Tidak apa. Biar dia saya yang urus. Kau kembali ke tempat kerjamu," ucap Erlangga lembut.
"Baik, Tuan. Permisi," Ely mengangguk dan pamit undur diri.
Carolin melangkah mendekati Erlangga tanpa rasa malu. Wanita seksi itu bersandar di samping Erlangga dan hendak merangkulnya. Namun, dengan cepat pria tersebut menepisnya.
"Jaga sikapmu. Aku sedang ada tamu," ucap Erlangga pelan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan. Mengenai pembicaraan ini, kita lanjutkan saja nanti. Silakan Tuan selesaikan masalah Tuan terlebih dahulu," ucap Tuan Jordi, relasi Erlangga yang merasa risih dan tidak enak hati melihat kedatangan Carolin yang begitu seenaknya.
"Baik, Tuan. Saya mohon maaf," ucap Erlangga dengan perasaan tidak enak hati.
"Tidak apa, Tuan. Baik, saya permisi dulu," ucap Tuan Jordi sambil berdiri.
"Baik."
Erlangga dan Tuan Jordi saling berjabat tangan. Erlangga mengantar tamunya hingga ke pintu dan mereka berpisah. Pemuda tampan bermata elang itu kembali ke ruangannya dan mendapati Carolin sudah duduk di meja sambil memamerkan tubuh seksinya.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Erlangga dengan sedikit kesal.
"Kenapa meninggalkanku di pesta pertunangan anaknya Tuan Gustaf?" tanya balik Carolin dengan tatapan penuh selidik.
"Aku ada urusan mendadak," jawab Erlangga seenaknya.
"Urusan mendadak? Pekerjaan? Atau wanita lain?" selidik Carolin.
"Kau tidak perlu mengetahuinya dan aku tidak perlu melaporkan apa pun padamu juga," ucap Erlangga dingin.
"Aku ini tunanganmu, jadi aku berhak tahu semua tentangmu."
"Tunangan? Kita bahkan belum melakukannya. Baru rencana orang tuamu dengan orang tuaku dan aku belum menyetujuinya."
"Kita pernah bertunangan. Apa kau lupa, kita pernah begitu intim beberapa tahun lalu? Kau tinggalkan aku demi wanita miskin itu. Apa kau lupa, Erl?"
"Aku ...."
"Kau jadi berubah karena perempuan miskin itu. Bahkan, kau hampir gila dan mati karenanya. Perempuan itu hanya membawa kesialan dalam hidupmu. Kenapa kau tidak bisa melupakannya, Erl. Kau ...."
"Cukup! Berhenti bicara! Keluar dari ruanganku sekarang!"
"Kau membentak dan mengusirku, Erl?"
"Keluar."
"Erl!"
"Keluar!"
Erlangga dan Carlin sedikit berdebat. Wanita seksi itu telah membuat Erlangga murka dan mengusirnya. Carolin yang kesal dengan sikap Erlangga pun pergi sambil menghentakkan kaki dengan hati kesal.
Erlangga menghela napas kasar. Mencoba mengatur napas dan mengontrol emosinya agar tidak membuncah.Tidak lama kemudian, Roland datang dan seperti biasa, masuk setelah mengetuk pintu tidak ada jawaban dari Erlangga.
"Ada apa? Sepertinya, kau sedang kesal?" tanya Roland dengan penasaran.
Erlangga menghela napas berat sambil memijit pelipisnya. Kepalanya sedikit berdenyut karena ulah Carolin yang memancing amarah Erlangga. Roland menautkan alisnya. Merasa khawatir dengan kondisi Erlangga.
"Hei, Boy! Are you oke?" tanya Roland semakin penasaran.
"Tadi Carolin ke sini dan sedikit membuat keributan. aku hampir kehilangan relasiku. Dia juga membuatku kesal dengan mengingatkanku akan masa lalu dirinya denganku yang membuat aku kehilangan Elena," jelas Erlangga dengan kesal.
"Apa? Benar-benar keterlaluan Carolin itu," ucap roland dengan geram sambil mengepalkan tangannya.
"Oleh karena itulah, aku kesal sekali," ucap Erlangga sambil duduk di kursi dan mengambil segelas air mineral. Kemudian, menenggaknya hingga habis setengah gelas.
roland mendekat dan menepuk pelan pundak Erlangga. Kemudian, duduk di meja menghadap Erlangga.
"Lupakan masalah itu. Ikutlah keluar bersamaku. Kita minum kopi. Sudah ama kita tidak menghabiskan waktu berdua," ucap Roland berusaha menghibur Erlangga.
Erlangga kembali menghela napas. Kemudian, ia mengangguk dan berdiri. Mengambil jas di kursi dan melangkah keluar ruangan mendahului Roland. Pemuda berparas manis berkumis tipis itu tersenyum sambil menggeleng melihat kelakuan bosnya.
~~~
Elena tampak murung di ruangannya. Hatinya menjadi gundah karena terus memikirkan kejadian beberapa waktu lalu ketika bertemu Erlangga kembali. Perasaannya campur aduk tidak menentu.
Ketukan pintu tak dihiraukannya. Elena sibuk dengan pikirannya sendiri. Orang itu pun langsung masuk dan menghampiri Elena yang tengah memangku tangannya dengan pikiran kosong.
"Pantas tidak mendengar ketukan pintu, melamun rupanya," ucap orang itu yang meski pelan. Namun, cukup membuat Elena terperanjat karena terkejut.
"Ka--Kak Eijaz. Kau mengejutkanku saja," ucap Elena dengan sedikit gugup.
Orang yang bernama Eijaz itu menghela napas kasar. Kemudian, mendekat ke arah Elena dan duduk manis di meja berhadapan dengan wanita itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan sampai tidak mengetahui keberadaanku?" tanya Eijaz dengan penasaran.
Elena menghela napas berat dan terdiam. Wanita itu berusaha menyembunyikan perasaan gundahnya agar tidak membuat Eijaz murka dan melakukan hal nekad. Elena sangat memahami sifat Eijaz yang meski terlihat tenang. Namun, terkadang mudah tempramen dan sulit di prediksi.
"Elena," panggil Eijaz lembut.
"Emm, tidak ada. Aku hanya sedikit lelah dan merasa pusing. Terlalu banyak yang aku kerjakan hari ini hingga membuatku letih," bohong Elena yang tidak ingin membuat Eijaz khawatir.
"Yakin karena pekerjaan? Bukan karena ...."
"Yakin, Kak," sela Elena sambil berusaha tetap tenang.
"Baiklah," ucap Eijaz sambil memiringkan sedikit bibirnya dan mengangguk.
'Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja, Elena. Namun, kau berusaha keras untuk menutupinya dariku,' batin Eijaz sambil tersenyum agar Elena tidak mencurigainya.
"Ayo kita makan siang. Aku tahu kau pasti belum makan, bukan?" ajak Eijaz mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku tidak lapar," tolak Elena dengan lembut.
"Kau boleh kesal, lelah, marah, tetapi, jangan menyiksa diri dengan mogok makan," oceh Eijaz.
"Aku tidak mogok makan. Aku ...."
"No debat, Elena," sela Eijaz sambil meraih sebelah tangan Elena dan sedikit menariknya untuk bangkit dari kursi.
Elena menuruti tanpa banyak berkata. Tidak ingin membuat Eijaz khawatir dan kesal. Elena melangkah dengan hati sedikit kesal dan malas.
~~~
Carolin tampak kesal dan marah dengan sikap Erlangga yang mengusirnya di kantor beberapa waktu lalu. Wanita seksi itu menghempaskan isi meja hingga berhamburan ke lantai. Meluapkan kekesalannya kepada Erlangga.
"Berengsek! Beraninya Erlangga membentak dan mengabaikanku! Ini semua gara-gara perempuan miskin tidak tahu diri itu. Kenapa kau harus kembali lagi dalam kehidupan Erlangga? Lihat saja, aku pasti akan membuat perhitungan kepadamu," geram Carolin sambil menggebrak meja dan menatap tajam ke arah dinding.
"Aku tidak akan membiarkan kau mendekati dan merayu Erlangga kembali. Dia milikku dan akan selalu menjadi milikku," ucap Carolin kembali dengan kesal dan tatapan menyeringai.