Bab 9 Kekacauan di Pesta

1075 Words
Elena tampak tengah berbincang dengan Eijaz di sebuah pesta pertunangan putri Tuan Gustaf, CEO PT Sentosa. Wanita itu diundang sebagai tamu kehormatan dan salah satu investor perusahaan. Wanita berparas cantik itu terlihat anggun dan memesona mengenakan gaun berwarna marun dengan lengan pendek. Sedikit terbuka di bagian d**a. Namun, tidak terlalu mencolok. Kalung berlian berbentuk 'V' melingkar di lehernya. Rambut disanggul dengan sedikit dibiarkan terurai di bagian pinggirnya, dipadu dengan anting panjang dengan permata putih mengilap menghiasi kedua telinga Elena. Sepatu hells berwarna senada dengan gaunnya dan tas berwarna perak, menambah keanggunan serta kecantikan pada diri Elena. Aroma khas stroberi dari tubuh Elena yang begitu menyegarkan, membuat siapa pun akan merasa segar di dekatnya. Sangat cocok jika disandingkan dengan Eijaz yang menggunakan setelan jas berwarna senada dengan Elena. Perpaduan tuxedo berwarna hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu berwarna hitam serasi dengan sepatunya, membuat Eijaz tampak terlihat begitu tampan memesona. Bak pasangan putri dan pangeran dari negeri dongeng. Senyum mengembang dari sudut bibir Elena di tengah perbincangan keduanya. Mereka tampak menikmati suasana malam itu. Dari seberang sana, terlihat sepasang mata memperhatikan ke arah Elena dan Eijaz dengan tatapan tajam. "Ada apa? Apa yang kau lihat? tanya Roland sambil memperhatikan sikap Erlangga. "Aku seperti melihat Elena di sana dengan pria itu," ucap Erlangga sambil menunjuk ke arah Elena dan Eijaz. Roland mengedarkan pandangan ke arah telunjuk Erlangga. Mengamati dengan seksama dua insan yang tengah asik berbincang itu. "Penglihatan-mu cukup bagus. Sepertinya, itu memang Nona Elena dan pria itu," ucap Roland membenarkan perkataan Erlangga. "Akhirnya aku menemukanmu. Aku harus membawamu kembali," ucap Erlangga sambil melangkah. "Tunggu dulu! Jangan gegabah. Sebaiknya kau jangan langsung melakukan itu. Ingatlah, kau pernah gagal kala itu," cegah Roland menghentikan langkah Erlangga. "Kali ini dia tidak akan lolos," ucap Erlangga tanpa melepaskan pandangannya pada Elena. "Jika kau melakukan itu, Elena akan semakin membencimu. Lebih baik, pikirkan cara yang lebih santai untuk membuatnya luluh dan jatuh ke pelukanmu dengan suka rela. Bukan karena terpaksa seperti dulu," saran Roland sambil memegangi pundak Erlangga. Pemuda itu menghentikan langkahnya dan terdiam. Memikirkan perkataan Roland yang ada benarnya juga. "Kau benar. Aku akan pikirkan cara untuk membuat Elena bertekuk lutut di hadapanku," ucap Erlangga dengan tatapan menyeringai. ~~~ Elena baru saja keluar dari toilet dan tidak sengaja menabrak seseorang hingga ia hampir tumbang. Beruntung, orang itu dengan cepat menangkapnya. "Ma--maafkan aku. Aku tidak ... kau ...." Kalimat Elena terhenti ketika melihat wajah seseorang yang ia tabrak. Dengan cepat ia berusaha bangkit. Namun, orang itu mencekalnya. "Kita bertemu kembali, Nona Elena," ucap seseorang bersuara bariton itu dengan senyum kecil. "Kau ... to--tolong lepaskan aku," ucap Elena dengan terbata. "Mau ke mana, Nona? Kenapa begitu tergesa? Aku masih ingin bicara denganmu," ucap orang itu yang ternyata Erlangga. "Mau apa kau? Apa kau mengikuti dan ingin menculikku lagi?" tanya Elena dengan curiga. Erlangga tersenyum tipis. Mendekatkan tubuhnya ke arah Elena. Wanita itu berhasil menepisnya dan berusaha melarikan diri. Namun, sebelah tangannya dicekal Erlangga. Pemuda itu membalikkan tubuh Elena dan memepetnya ke dinding hingga Elena terjepit dan sulit bergerak. Pemuda itu meraih kedua tangan Elena dan menguncinya ke atas. Memajukan sedikit tubuhnya mendekat ke arah Elena. Elena membuang muka sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Berusaha menghindari tatapan tajam Erlangga. "Tidak perlu takut, Sayang. Aku suamimu dan tidak akan menyakitimu. Aku hanya merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?" ucap Erlangga semakin mendekatkan wajahnya ke arah Elena. "Lepaskan aku! Atau aku akan berteriak," ucap Elena dengan sedikit mengancam. "Sudah berani mengancamku? Sepertinya, kau hidup dengan baik setelah berhasil melarikan diri kembali dariku. Kau semakin segar, cantik, dan memesona. Aroma tubuhmu juga selalu wangi. Kau merawat dirimu dengan baik, Sayang," ucap Erlangga dengan sedikit merayu Elena. "Cukup! Hentikan bualanmu! Lepaskan aku!" ucap Elena dengan sedikit keras. Erlangga tersenyum remeh. "Kenapa? Apakah kau menyukai bualanku?" tanya Erlangga semakin menjadi. "Kau ...." Erlangga menghentikan kalimat Elena dan membungkam mulutnya dengan bibir seksinya. Membuat wanita itu kesal dan berusaha memberontak. Namun, kuncian Erlangga terlalu kuat hingga Elena sulit bergerak. "Elena! Kurang ajar!" Eijaz tiba-tiba datang dan menarik tubuh Erlangga dari belakang. Kemudian, meninju wajah pemuda itu hingga tumbang dan tersungkur di lantai. Darah segar menetes di bibir Erlangga. Napas Erlangga bergemuruh menahan amarah. Eijaz dengan cepat menarik Elena untuk menjauh dari Erlangga. Pria berparas menawan itu hendak memukul kembali Erlangga. Namun, dihalangi oleh Elena. "Jangan, Kak. Sudah cukup, kita pergi dari sini," ucap Elena berusaha untuk melerai pertikaian antara Eijaz dan Erlangga. "Jauhi Elena! Berani kau mendekatinya, aku akan membuat perhitungan denganmu!" seru Eijaz dengan sedikit mengancam. Kemudian meninggalkan Erlangga yang masih tersungkur. Erlangga menyeka darah di ujung bibirnya dan tersenyum tipis. Sorot matanya terlihat tajam menatap ke arah punggung Elena dan Eijaz yang semakin menjauh. Roland datang dan menghampiri Erlangga. "Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai tersungkur seperti ini?" tanya Roland dengan penasaran. "Jangan banyak bicara. Bantu aku berdiri," ucap Erlangga kesal. Roland pun menghentikan kalimatnya dan membantu Erlangga berdiri. Kemudian, memapah pria itu ke arah parkiran dan membawa Erlangga pulang ke rumah. ~~~ "Kurang ajar! Dasar berengsek! Beraninya mengganggu kesenanganku!" seru Erlangga sambil menggebrak meja. "Tenangkan dirimu. Mari, aku bantu mengobati lukamu," ucap Roland berusaha menenangkan Erlangga. "Tidak perlu! Ini tidak seberapa. Hatiku lebih sakit melihat Elena dengan laki-laki sialan itu," tolak Erlangga sambil mengomel. "Aku sudah memperingatkanmu. Jangan gegabah atau kau akan menyesal. Sekarang lihatlah, kau terluka karena ulahmu sendiri," omel Roland yang menyayangkan sikap Erlangga. "Kalau laki-laki sialan itu tidak datang, aku pasti sudah mendapatkan Elena kembali," ucap Erlangga dengan geram. "Sudahlah, jangan mengoceh terus. Lebih baik, obati dulu lukamu. Nanti, kita cari cara lain untuk bisa mendapatkan Nona Elena," nasihat Roland sambil meletakkan kotak obat di meja kerja Erlangga. Erlangga melayangkan tatapan tajam ke arah Roland. Kemudian, menuruti perkataan asisten pribadinya tersebut dan berusaha meredakan amarahnya yang sempat membuncah. ~~~~ "Apa kau baik-baik saja? Merasa tidak nyaman? Apa kau terluka?" rentetan pertanyaan dilontarkan Eijaz setelah kembali ke rumah dan membawa Elena ke kamarnya. "Aku baik-baik saja. Tidak apa, tidak ada yang terluka. Terima kasih, Kak Eijaz telah menolongku," jelas Elena sambil menatap lembut ke arah Eijaz. Elena berusaha tenang meski hatinya masih syok dengan kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu. Elena tidak ingin membuat Eijaz khawatir dan emosi. Sudah dipastikan ia pasti akan mencari Erlangga dak membuat perhitungan dengan laki-laki itu. Eijaz sebenarnya tidak puas dengan jawaban Elena. Pria itu masih merasa geram dengan perlakuan Erlangga di tempat itu. Jika Elena Tidak menghalanginya, sudah barang tentu, Eijaz dan Erlangga akan berseteru hebat dan mereka berdua akan babak belur karena perkelahian tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD