Bab 8 Makan Malam yang Gagal

1108 Words
Seseorang datang menghampiri Erlangga dengan berlenggak-lenggok. Pakaiannya cukup ketat dan seksi. Bibir merah merona dan dandanan sedikit menor. Rambut keriting bergelombang sepundak yang ia biarkan terurai. "Kau, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Erlangga dengan terkejut melihat kedatangan wanita seksi yang tiba-tiba menerabas masuk. "Kau mengabaikan telepon dan pesanku. Kau juga tidak hadir merayakan ulang tahunku. Jadi, aku pikir kau sibuk. Oleh karena itulah aku yang datang menemuimu," jelas wanita seksi itu mendekati Erlangga dan melingkarkan kedua tangannya di leher Erlangga. Bergelayut manja dan tebar pesona. Aroma melati menyeruak dan begitu menyengat ketika terhidu. Erlangga menutup hidung karena tidak tahan dengan aroma menyengat itu. "Parfum apa yang kau pakai? Kenapa begitu menyengat. Membuatku sulit bernapas," ucap Erlangga sambil mengibaskan sebelah tangannya untuk menghilangkan bau menyengat itu. "Ini parfum Jasmine terbaru. Aku baru saja membelinya. Ini sangat harum, Sayang," jelas wanita seksi itu sambil menatap ke arah Erlangga tanpa melepaskan dekapannya. "Menjauh lah, Car. Aku tidak menyukai aromanya," ucap Erlangga menepis cukup kuat tangan wanita itu hingga hampir terjatuh. "Ada apa denganmu, Erl? Kenapa kau begitu kasar dan dingin denganku? Apa ada yang salah denganmu?" tanya wanita seksi itu dengan sedikit kesal. "Sebaiknya kau pulang saja. Jangan membuatku kesal. Aku sedang sibuk," usir Erlangga dengan ketus. "Kau mengusirku, Erl? Aku jauh-jauh datang menemuimu dan kau mengusirku." Wanita itu tampak kesal dan tidak suka dengan perlakuan Erlangga. Tampak kemarahan di balik wajahnya yang memerah menahan amarah. "Maafkan aku, Car. Aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku banyak pekerjaan, jadi aku minta tolong agar kau pulang saja karena aku ada meeting dengan klien hari ini. Tidak bisa menemanimu," bohong Erlangga yang tidak ingin menemani wanita seksi itu. "Baiklah, aku akan pulang. Akan tetapi, nanti malam, kau ikut dengan orang tuamu makan malam di rumahku. Ada hal yang ingin disampaikan dan sangat penting," putus wanita seksi itu dengan wajah serius. "Akan aku usahakan," jawab Erlangga dengan malas. "Baiklah, aku pulang dulu. Jangan lupa makan," pamit wanita itu sambil tersenyum. "Emm." ~~~ Kedua orang tua Erlangga memenuhi undangan makan malam dari keluarga Carolin. Mereka mengadakan pertemuan di sebuah hotel bintang lima dan memesan ruangan VIP di sana. "Selamat datang. Terima kasih sudah memenuhi undangan kami," ucap Carla, mamanya Carolin. "Sama-sama, terima kasih atas undangannya," balas Erinna, maminya Erlangga. "Omong-omong, Erlangga mana? Kenapa tidak ikut bersama kalian?" tanya Calvin, papanya Carolin. "Oh, itu. Erlangga masih ada urusan kantor. Mungkin agak telat datang," ucap Edwin, papinya Erlangga. "Oh, begitu. Baiklah, kita makan malam dulu sambil mengobrol," ucap Calvin sambil merangkul Edwin dan mengajaknya duduk. Mereka pun mulai berbincang sambil makan malam bersama. Bercengkrama dan saling berbagi cerita bersama. Sampai makan malam berakhir, Erlangga belum juga datang. Membuat Edwin kesal dan malu dengn keluarga Calvin. "Saya minta maaf karena ternyata Erlangga masih ada pekerjaan mendesak sehingga tidak bisa hadir malam ini bersama kita," ucap Edwin dengan wajah memerah menahan amarah. "Tidak apa-apa. Saya mengerti tentang kesibukan Erlangga. Terima kasih sudah hadir di pertemuan ini," ucap Calvin dengan senyum paksa. "Terima kasih atas pengertiannya. Mengenai pertunangan anak kita, nanti dibicarakan kembali jika Erlangga sudah senggang," jelas Edwin dengan wajah serius. "Baiklah." "Kalau begitu kami pamit," pamit Edwin sambil menjabat tangan Calvin. Calvin menyambutnya. Kemudian, Edwin dan Erinna pun melangkah meninggalkan kedua orang tua Carolin dan wanita itu. Tampak kekesalan di balik wajah Carolin karena pertemuan malam ini gagal, niatnya untuk menjerat Erlangga gagal total. "Menyebalkan! Kenapa Erlangga tidak hadir? Pa, Ma, pokoknya aku tidak mau tahu, Erlangga harus menjadi milikku kembali!" seru Carolin dengan raut wajah kesal. "Sabar, Nak. Mama yakin sekali, jika Erlangga akan segera kembali lagi padamu. Kau lihat tadi, kedua orang tua Erlangga menyetujuinya. Apalagi maminya, dia sangat merestui hubungan kau dengan Erlangga," ucap Carla penuh percaya diri. "Gunakan cara lain untuk menaklukkan mereka, terutama Erlangga. Jika cara halus tidak berhasil, aku masih punya banyak cara untuk membuat Erlangga jatuh kembali ke pelukanku," ucap Carolin sambil mengepalkan kedua tangannya hingga telapaknya memerah dan meninggalkan bekas kuku di dalamnya. "Jangan aneh-aneh dan gegabah, Carolin. Bermainlah dengan santai dan pasti, jika tidak ingin buruanmu lepas," saran Calvin sambil menatap tajam ke arah Carolin. "Papa tenang saja. Aku tahu bagaimana menaklukkan Erlangga dan membuatnya kembali jatuh ke pelukanku," ucap Carolin sambil tersenyum menyeringai. "Papa percaya padamu. Kau punya seribu cara untuk menaklukan laki-laki itu," ucap Calvin dengan senyum tipis. *** Elena tampak tengah bercengkrama bersama putra kecilnya Elard. Bercanda sambil bernyanyi riang. Melepas penat setelah seharian sibuk bekerja. Ada Eijaz juga yang menemani. Mereka tampak bahagia sekali. "Om Eijaz, tahu tidak tadi siang setelah pulang sekolah aku ke mana?" tanya Elard dengan wajah polosnya. "Tidak tahu," ucap Eijaz sambil menggeleng. "Memangnya, kau ke mana, Sayang?" tanyanya dengan penasaran. "Aku tadi pergi ke taman kota bersama Suster Rani dan bermain bola. Habis itu, membeli es krim di minimarket, dan pulang ke rumah," cerita Elard sambil bergelayut manja di pangkuan Eijaz. "Oh, iya. Apa kau merasa bahagia?" tanya Eijaz sambil menjawil hidung mancung anak berusia enam tahun dalam pangkuannya tersebut. "Tentu saja bahagia. Mommy juga tidak melarang asalkan tidak terlalu jauh. Tapi ... aku sedikit bersedih," ucap Elard sambil menunduk dan meremas ujung bajunya. Eijaz mengerutkan alisnya. "Apa yang membuatmu sedih, Sayang? tanyanya dengan penasaran. "Aku ...." Kalimat Elard terhenti. anak kecil itu mendongak dan melirik ke arah mommy-nya dan Eijaz bergantian. Kemudian tertunduk kembali. "Ada apa, Sayang? Apa ada yang kau sembunyikan dari Mommy?" tanya Elena dengan curiga. "Kenapa diam? Katakan saja. Om dan Mommy tidak akan memarahimu jika kau jujur," jelas Eijaz sambil menegakkan kepala Elard dan memangkupkan wajah mungilnya yang menggemaskan. "Aku sedih karena ... a--aku tidak bertemu lagi dengan Om Tampan," jujur Elard dengan nada pelan dan raut wajah memelas. "Apa?" "Apa? Om Tampan? Siapa dia? Apa kau mengenalnya? tanya Eijaz sambil menatap ke arah Elena. "A--aku tidak mengenalnya, Kak. Beberapa hari yang lalu, Elard bertemu dengannya saat bermain bola di taman. Mereka bertemu di depan gedung 'Graha Rahardian Grup' aku pun tidak mengetahui jika Elard tidak bercerita," jelas Elena dengan bingung. "Apa? gedung Graha Rahardian Grup?" "Iya, Om. Aku bertemu Om Tampan di gedung dekat taman untuk mengambil bola," jelas Elard dengan wajah polosnya. "Ada apa? Memangnya Kau tahu pemilik gedung itu?" tanya Elena dengan penasaran. 'Sebaiknya, aku tidak memberitahukannya dulu. Siapa tahu, orang yang ditemui Elard bukan dia,' batin Eijaz. "Kak Eijaz," panggil Elena pelan. "Emm, oh tidak. A--aku tidak tahu siapa pemiliknya. Hanya saja, aku terkejut Elard bisa berada di sana," bohong Eijaz yang tidak ingin Elena mengetahui. Elena membulatkan bibirnya, membentuk huruf 'O' sambil mengangguk. "Ya sudah. Kita ganti topik pembicaraan saja, ya," usul Eijaz yang tidak ingin memperpanjang masalah. Mereka pun memulai obrolan baru. Suasana yang sempat menegang, kini sudah kembali ceria seperti semula. Malam pun menjadi syahdu dengan kehangatan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD