Bab 7 Mencarinya

1059 Words
"Siapa seseorang di gedung itu?" tanya Elena semakin penasaran. "Sa--saya tidak tahu namanya. Akan tetapi, Tuan Muda memanggilnya 'Om Tampan' dan memang orangnya tampan sekali, Nyonya," ucap Suster Rani sambil tersipu. Membayangkan wajah Erlangga yang begitu tampan dan memesona. "Iya, Mommy. Om itu memang tampan dan baik hati. Aku suka sekali bertemu dengannya," sambung Elard sambil tersenyum. Elena menghela napas kasar. Kedua alisnya ia kerutkan. Wanita itu semakin curiga dengan siapa sebenarnya pria yang di sebut 'Om Tampan' oleh putranya itu. "Sayang, lain kali, jangan berbicara dengan orang asing. Siapa pun itu, sekali pun dia tampan. Kita tidak tahu apakah dia orang jahat atau bukan. Oke, Sayang?" jelas Elena dengan lembut sambil mengelus kepala Elard. "Oke Mommy," jawab anak kecil itu sambil tersenyum. "Ya sudah. Sekarang kau pergi tidur sudah malam. Besok kau harus bangun pagi untuk ke sekolah," ucap Elena lembut. "Oke Mommy. Selamat malam," ucap Elard sambil mencium kening dan kedua pipi Elena. "Malam, Sayang," ucap Elena sambil mengecup mesra puncak kepala dan kedua pipi Elard. ~~~ Sementara itu, di tempat lain. "Biarkan aku pergi bersama bayiku. Anggap aku tidak pernah mengenalmu," pinta Elena pelan. "Tidak akan. Menikah denganku dan kau akan bertemu bayimu. Ingat! Ini demi kebaikanmu dan bayimu." "Bukan demi kebaikan aku dan bayiku, tapi demi kebaikanmu sendiri," kesal Elena. "Terserah apa katamu. Ikut denganku sekarang," ucap Erlangga sambil meraih sebelah tangan Elena dan berusaha menggandengnya. "Tidak mau." ~~~ Kedua mata Erlangga terpejam. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes membasahi kening dan wajahnya. Pria itu merancau pelan. "Jangan tinggalkan aku, Elena. Aku mohon. Jangan tinggalkan aku. Elena!" Erlangga membuka cepat kedua matanya. Napasnya terdengar bergemuruh dan jantungnya berdetak tidak beraturan. Pria itu mengambil segelas air mineral di nakas dan menenggaknya hingga tidak tersisa. Memejamkan mata sejenak, mengatur napas dan membukanya kembali. "Ternyata mimpi. Sial, sejak aku bertemu dengan anak itu. Pikiranku jadi tidak menentu. Bahkan sampai mimpi seperti itu," monolog Erlangga sambil mengusap kasar wajahnya. "Elena, di mana kau berada? Aku harus menemukanmu dan meminta jawaban darimu atas semua ini," ucap Erlangga sambil meremas rambutnya. *** Siang hari, Erlangga keluar kantor dan melangkah menuju taman yang berada tidak jauh dari tempat kerjanya. Pemuda itu duduk di kursi besi berwarna putih yang terletak di tengah taman dan di kelilingi oleh bunga-bunga dengan aneka warna yang tampak begitu indah. Meski siang hari terik, tetapi tetap terasa teduh karena ada pepohonan rindang di pinggir mengelilingi taman. Daunnya yang rimbun, menjadi payung pelindung dari teriknya sinar mentari. "Kenapa anak itu tidak muncul? Apakah dia tidak tinggal di dekat sini? Atau, hanya kebetulan saja bertemu dengannya?" tanya Erlangga pelan sambil melirik ke arah sekitar. Mencari keberadaan anak kecil yang kemarin ia temui. "Ahh, kenapa aku terus terpikirkan anak itu?" gerutu Erlangga dengan kesal. Pria itu bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan taman. Beberapa waktu kemudian, tidak jauh dari selang waktu Erlangga pergi, Elard datang bersama Suster Rani dan bermain di taman seperti kemarin. Kakinya begitu lincah menggiring bola ke kiri dan kanan. Meski memiliki penyakit yang dapat kambuh sewaktu-waktu. Namun, tidak mematahkan semangat Elard untuk tetap bisa bertahan hidup dan berolah raga. "Tuan Muda, istirahat dulu. Ini, minum dulu," ucap Suster Rani menghampiri Elard dan menyerahkan air mineral di dalam tumbler bergambar Captain Amerika kesayangannya. Elard menghentikan aktivitasnya dan mengatur napas. Kemudian, menenggak minumannya hingga habis setengah botol. Kemudian, mencuci tangan dan duduk di kursi taman menikmati stik keju kesukaannya. "Suster, aku lelah," ucap Elard sambil menyeka keringat di kening dengan lengan bajunya. "Kita pulang sekarang, ya," ucap Suster Rani sambil merapikan perlengkapan yang dibawanya. Elard mengangguk dan mengambil bolanya yang tergeletak di tanah beralaskan rumput di hadapannya. ~~~ "Bagaimana? Apa ada perkembangan mengenai anak itu?" tanya Erlangga dengan tidak sabar. "Ini," ucap Roland sambil meletakkan map cokelat yang ia bawa ke meja kerja Erlangga. Erlangga membuka map itu dan melihatnya. Ada beberapa foto anak kecil itu dengan berbagai pose dan tempat. Erlangga memicingkan kedua matanya dan memperjelas penglihatannya. "Hanya ini?" tanya Erlangga penuh selidik. "Emm. Aku mendapatkan foto-foto ini dari orang suruhanku. Hanya informasi ini saja yang didapat," jelas Roland sambil mendekati Erlangga. "Tidak ada petunjuk apa pun. Kecuali, beberapa tempat di foto itu. Sepertinya, anak itu belum lama tinggal di sini," terka Erlangga sambil terus mengamati foto-foto lucu anak itu. "Kau benar." "Kalau begitu, selidiki tempat-tempat ini dan cari tahu semua!" perintah Erlangga. "Apa? Aku harus keliling tempat ini untuk mencarinya? Apa kau gila? Kau pikir tempat ini dekat dan mudah di jangkau? Ini sangat luas, Erl," protes Roland sambil sedikit mendelik. "Kau tidak perlu berkeliling. Cukup datangi tempat-tempat di foto ini saja. Aku tahu semua daerah ini. Nanti akan aku share lokasinya padamu. Anggap saja perjalanan bisnis dan liburanmu. Apa kau tidak ingin liburan gratis?" jelas Erlangga mencoba membujuk Roland. "Iya, tapi ...." "Dalam kartu ini ada uang satu miliyar. PIN-nya tanggal lahirmu. Tiket, akomodasi, dan tempat tinggal akan aku atur. Kau hanya tinggal menjelajahinya saja," potong Erlangga sambil memberikan kartu debit kepada Roland. Roland diam sejenak. Memikirkan ide gila Erlangga. Meski terkadang sering berselisih paham. Namun, ia tidak tega melihat Erlangga dalam kesulitan dan kesedihan. Pemuda berkumis tipis itu menghela napas dalam dan kasar. Kemudian, mengambil kartu di tangan Erlangga. "Terserah kau saja. Apa masih ada lagi yang ingin kau katakan?" putus Roland pada akhirnya. "Tidak ada. Persiapkan dirimu dan segeralah berangkat," ucap Erlangga dengan wajah serius. "Baiklah, aku kembali ke ruanganku dulu," ucap Roland sambil melangkah. Erlangga mengangguk. "Oh iya. Sabtu ini, ada undangan pesta pertunangan Tuan Gustaf dari PT Sentosa. Ini undangannya. Aku sarankan kau hadir. Akan ada banyak investor dari perusahaan lain. Mungkin kita bisa bekerja sama dengan salah satu dari mereka," jelas Roland sambil menyerahkan kertas undangan berwarna marun. "Akan aku pikirkan," ucap Erlangga sambil mengambil undangan itu dari tangan Roland. "Baiklah, aku permisi," pamit Roland sambil melangkah. Erlangga mengangguk. Erlangga memijit pelipisnya yang terasa pusing dan berdenyut. Kemudian, mengambil kembali foto-foto di meja dan mengamatinya. Pikirannya kembali tertuju pada anak kecil yang ia temui beberapa waktu lalu. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa sulit sekali untuk bisa menemukan identitasmu? Aku berharap bisa bertemu kembali denganmu agar aku bisa mencari tahu tentangmu lagi. Kenapa aku merasa tidak asing dengannya? Ahh, ini membuatku gila." Erlangga bermonolog dalam hati sambil kembali memijit pelipisnya. Lamunannya membuyar ketika ada seseorang membuka pintu ruangannya tanpa permisi. Dengan cepat Erlangga memasukan foto-foto itu ke dalam laci mejanya dan berpura-pura fokus pada laptopnya. "Kau ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD