bc

Ayo, kita Cerai Mas!

book_age18+
117
FOLLOW
1K
READ
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
heir/heiress
childhood crush
addiction
like
intro-logo
Blurb

"Ayo, kita Cerai Mas!"

"Kamu yakin?"

"Ya, aku sangat yakin. Aku masih mencintai kekasih ku, dan pernikahan ini membuatku tidak bahagia," balas Dara.

Anindia Dara meminta cerai kepada Arjuna karena merasa tidak mencintai suaminya, Dara dan Arjuna menikah karena dijodohkan dan itu membuat Dara merasa bahwa pernikahan mereka tidak akan bahagia.

Lalu, Arjuna memberikan syarat kepada Dara. Apakah syarat yang diminta Arjuna kepada Dara?

chap-preview
Free preview
Ayo, kita cerai Mas!
Happy reading. Anindia Dara duduk di ruang tamu, menatap Arjuna dengan mata yang penuh dengan kekesalan. Saat ini ia memang meminta waktu bertemu dengan Arjuna suaminya. "Kamu tahu apa yang membuat aku ingin berbicara denganmu, Mas Juna." Pria tampan yang selama enam bulan ini menjadi suaminya menggeleng pelan, Arjuna baru saja pulang dari kantor. Dan, Dara meminta untuk duduk di ruang keluarga malam ini. "Ayo, kita cerai Mas!" kata Dara dengan suara yang stabil, tapi ada getaran di dalamnya. Arjuna memandang Dara dengan mata yang lebar, seperti tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. "Kamu yakin?" Dara mengangguk, merasa air matanya mulai mengalir. ""Ya, aku sangat yakin. Aku masih mencintai kekasih ku, dan pernikahan ini membuatku tidak bahagia," balas Dara. Arjuna berdiri, berjalan ke arah Dara dengan ekspresi yang penuh dengan emosi. "Ok, kita akan bercerai setelah ulang tahun pernikahan kita yang ke satu enam bulan lagi." Dara mengangkat tangan, menghentikan Arjuna. "Kenapa harus menunggu hari anniversary pernikahan kita?" tanya Dara bingung. Arjuna memandang Dara dengan mata yang penuh dengan kesedihan, lalu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Dara. "Bercerai saja harus menunggu enam bulan lagi, sebenarnya Mas Juna mau apa sih?" Keesokan harinya. Arjuna memandang Dara dengan mata yang penuh dengan kesedihan, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah, Dara. Aku setuju untuk memberikanmu perceraian. Tapi, aku ada satu syarat untukmu." Dara merasa sedikit curiga, karena nada suara Arjuna yang terdengar seperti ada sesuatu yang tidak beres. "Syarat apa? Kenapa harus ada syarat untuk perceraian kita?" tanyanya dengan suara meninggi. Arjuna tersenyum, tapi itu bukan senyum yang menyenangkan. "Aku ingin kamu kamu menjadi istriku sebenarnya selama enam bulan ini," ucap Arjuna pelan. Dara merasa seperti tidak percaya. "Istri sebenarnya?" tanya Dara semakin bingung. Arjuna mengangkat bahu. "Aku hanya ingin kita bisa menjalani hari-hari terakhir kita bersama dengan tenang, tanpa ada tekanan atau stres. Aku ingin kita bisa mengingat kembali kenangan kita, dan mengucapkan selamat tinggal dengan baik." Dara merasa sedikit terharu, tapi ia tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. "Dan apa yang akan terjadi setelah enam bulan?" tanyanya. Arjuna tersenyum lagi. "Setelah enam bulan, aku akan memberikanmu perceraian, dan kita bisa menjalani hidup kita masing-masing. Tapi, selama enam bulan ini, kamu harus menjadi istriku yang baik, dan kita harus menjalani hidup seperti biasa." Dara merasa sedikit terjebak, tapi ia tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain. "Baiklah, aku setuju," katanya, suaranya sedikit lembut. Arjuna tersenyum, lalu berdiri dan mendekati Dara. "Terima kasih, Dara. Aku janji, ini akan menjadi enam bulan yang sangat menarik." *** Enam bulan lalu, Dara menikah dengan Arjuna karena perjodohan dari kedua orang tuanya. Bagi, Dara ini sama sekali tidak ada di dalam naskah hidupnya. Namun, mau tidak mau Dara menerima pernikahan ini karena Sang ibu menangis di depannya saat itu. "Aku nggak mau menikah sama Mas Arjuna, Bun. Aku nggak cinta sama Mas Juna," ucap Dara pelan. "Kamu harus menikah dengan Arjuna, anak sahabat Bunda itu sangat baik. Nggak seperti kekasih mu Bobby yang berandalan itu," jawab Bunda Dara. "Lagi pula, perjodohan ini sudah kami lakukan ketika kalian baru saja lahir. Dan, setelah kalian besar perjodohan ini harus dilaksanakan," tambah Ayah Dara. Dara menghela nafas panjang, ucapan kedua orang tuanya enam bulan lalu masih terngiang di telinganya. Pernikahan karena perjodohan dari kecil membuat Dara harus menerima, padahal Dara saat itu sudah mencintai pria lain yang telah menjadi kekasihnya. Dara merasa sedikit tidak nyaman ketika Arjuna mendekatinya, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. Arjuna berhenti di depannya, lalu memandanginya dengan mata yang penuh dengan harapan. "Kita harus menjalani ini dengan baik, Dara," katanya, suaranya lembut. "Kita harus menunjukkan bahwa kita masih peduli satu sama lain, bahkan jika kita tidak lagi bersama." Dara mengangguk, merasa sedikit terharu. "Aku tahu, Mas Juna. Tapi, apa harus sedekat ini duduknya?" Arjuna tersenyum, lalu memeluk Dara. Dara merasa sedikit kaget, tapi ia membalas pelukan itu. Mereka berdiri seperti itu selama beberapa detik, menikmati kehangatan dan kenyamanan satu sama lain. Tapi, ketika Arjuna melepaskan pelukan itu, Dara merasa ada sesuatu yang tidak beres. Arjuna memandangnya dengan mata yang penuh dengan emosi, lalu berkata, "Aku akan tidur bersama mu mulai malam ini, kita jalani pernikahan kita yang tinggal enam bulan lagi." Dara merasa sedikit kaget, tapi ia mencoba untuk tidak menunjukkan itu. "Baiklah, Mas Juna," katanya, suaranya lembut. Arjuna tersenyum, lalu pergi ke kamar erlebih dahulu. Ia ingin mempersiapkan sesuatu di dalam kamar tanpa Dara ketahui, Arjuna akan membuat Dara tidur nyenyak mulai malam ini. "Tidur bersama, satu kamar, bagaimana ini. Selama menikah dengan Mas Juna aku selalu menolak untuk tidur bersamanya, dan mulai malam ini sampai enam bulan kedepan aku akan tidur bersama Mas Juna." Ada sedikit ketakutan di dalam hati Dara, selama enam bulan pernikahan mereka. Dara selalu tidur di kamar lain, ia sama sekali tidak ingin satu kamar dengan suaminya. Bagi, Dara pernikahan yang ia lakukan bersama Arjuna hanya sebagai kedok di depan kedua orang tuanya. Dara sampai saat ini masih mencintai kekasihnya. "Sayang, aku kangen kamu. Nanti, malam kita video call ya." Satu pesan masuk ke dalam ponsel Dara, pesan yang selama Dara dapatkan ketika malam tiba. Kekasih hatinya selalu meminta video call dengan Dara sampai mereka kelelahan, dan mulai malam ini Dara tidak bisa melakukan semuanya. "Maaf, sayang. Malam ini dan seterusnya video call nggak bisa aku lakukan, ada Mas Juna di dalam kamar ku." "Kamu tidur sama suamimu?" "Ya, sayang. Mas Juna memberikan syarat untuk perceraian ku, dan mulai malam ini aku harus mengikuti syarat itu." "Dara, sudah malam. Kenapa nggak masuk ke dalam kamar kita?" tanya Arjuna dengan suara lembut. Dara masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan percakapan dengan Bobby, langkah kakinya perlahan masuk ke dalam kamar yang selama ini ia tempati. Jika malam-malam sebelumnya Dara begitu senang ketika masuk ke dalam kamar, maka sebaliknya untuk malam ini. Dara seakan takut untuk masuk dan tidur bersama Arjuna suaminya. Degh. "Ini, kenapa ada banyak bunga mawar diatas ranjang?" "Aku sengaja buat semua ini karena kita akan menjalani pernikahan yang sesungguhnya sampai enam bulan kemudian, dan mulai malam ini kamu akan menjadi istri yang sebenarnya." Dara menelan salivanya keras, ia tidak membayangkan jika kamar mereka disulap menjadi kamar pernikahan. Arjuna benar-benar melakukan hal yang tidak bisa Dara pikirkan sebelumnya. "Ayo, kita tidur sekarang juga. Anggap saja ini malam pernikahan kita seperti enam bulan lalu," bisik Arjuna ditelinga Dara.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Revenge

read
35.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.4K
bc

Putri Korban dan Janji Gelap Sang CEO

read
4.7K
bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

Tersesat yang Nikmat

read
22.8K
bc

Marriage of Revenge

read
29.4K
bc

I Love You Dad

read
294.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook