Happy reading.
Dara terbangun dengan perasaan yang aneh, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia membuka mata, lalu menyadari bahwa ia sedang memeluk Arjuna di atas ranjang. Ia merasa kaget dan sedikit panik, karena ia tidak ingat bagaimana ia bisa berada di posisi itu.
Seingat Dara semalam ia sudah memberikan bantal untuk berjaga-jaga agar Arjuna tidak memeluknya, namun apa yang terjadi bantal yang ia bawa dari kamar sebelah hilang begitu saja. Dan, saat ini hanya ada Arjuna disampingnya.
"Sial, kenapa jadi seperti ini? Aku ada dalam pelukan Mas Juna," gumam Dara pelan.
Dara merasa jantungnya berdetak lebih cepat, karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak ingin membuat Arjuna bangun, tapi ia juga tidak ingin berada di posisi ini. Jujur saja pelukan Arjuna sangat nyaman bagi Dara, dan entah mengapa tidur malam ini menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku harus bangun sebelum Mas Juna, jangan sampai aku ketahuan kalau memeluk Mas Juna pagi ini."
Arjuna masih tidur dengan nyenyak, tidak menyadari bahwa Dara sudah bangun dan sedang memandangnya dengan mata yang lebar. Dara merasa sedikit kaget dengan wajah Arjuna yang terlihat sangat santai dan damai ketika tidur.
"Tampan, tapi aku nggak bisa mencintaimu Mas Juna."
Dara mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Arjuna, tapi Arjuna memegangnya lebih erat. Dara merasa sedikit kaget, tapi ia tidak ingin membuat Arjuna bangun. Ia memutuskan untuk tetap diam dan menunggu Arjuna bangun sendiri.
Dara merasa jantungnya berdetak lebih cepat ketika Arjuna memegangnya lebih erat. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi ia tidak ingin membuat Arjuna bangun. Ia memutuskan untuk tetap diam dan menunggu Arjuna bangun sendiri.
Beberapa menit kemudian, Arjuna mulai bergerak dan membuka mata. Ia memandang Dara dengan mata yang masih setengah tidur, lalu tersenyum. "Selamat pagi," katanya, suaranya lembut.
Dara merasa sedikit kaget, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. "Selamat pagi," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Arjuna memandang Dara dengan mata yang lebih jelas, lalu menyadari bahwa mereka sedang memeluk di atas ranjang. Ia merasa sedikit kaget, tapi kemudian tersenyum lagi. "Ternyata, nyaman sekali tidur bersama. Kenapa nggak kita lakukan enam bulan lalu setelah pernikahan kita?" tanya Arjuna.
Dara merasa sedikit lega, tapi ia tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. "Maaf, aku mau mandi. Azan subuh sudah berkumandang sejak beberapa menit lalu."
Dara mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Arjuna, tapi Arjuna masih memegangnya. "Tunggu," katanya, suaranya lembut. "Malam ini, aku ada pertemuan dengan para kolega. Dan, aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan mereka semua."
Dara merasa jantungnya berdetak lebih cepat lagi, karena ia tidak tahu apa yang akan Arjuna katakan. "Kenapa aku ikut? Bukankah kamu tahu kalau aku nggak suka keramaian."
"Kamu bukan nggak suka keramaian Dara, tapi kamu memang tidak suka dengan ku."
Degh.
Apa yang baru saja diucapkan oleh Arjuna memang benar, selama enam bulan pernikahan mereka berdua. Dara selalu menolak jika Arjuna mengajak untuk bertemu koleganya, alasan Dara hanya satu karena tidak suka jika pergi dengannya. Dan, mulai sekarang Arjuna akan meyakinkan Dara untuk ikut kemana saja dengan-nya.
"Baiklah, aku akan ikut sama kamu nanti malam. Tapi, tolong lepaskan pelukanmu. Aku mau mandi," ucap Dara pelan.
Cup.
"Mulai pagi ini morning kiss untukmu, aku akan berikan setiap hari."
***
Dara duduk di sofa, memandangi dinding dengan mata yang kosong. Ia tidak bisa tidak memikirkan Arjuna, dan ciuman pagi itu. Ia merasa seperti sedang berada di awan, tidak bisa fokus pada apa pun.
"Mulai pagi ini morning kiss untukmu, aku akan berikan setiap hari."
Dara mencoba untuk mengalihkan pikirannya, tapi tidak bisa. Ia terus-menerus memikirkan Arjuna, dan bagaimana ia membuatnya merasa. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia merasa seperti ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.
Dara bangun dari sofa, lalu pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh. Ia berharap bahwa dengan melakukan sesuatu yang lain, ia bisa melupakan Arjuna sejenak.
Tapi, ketika ia sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir, ia tidak bisa tidak memikirkan Arjuna lagi. Ia memikirkan bagaimana Arjuna memandangnya dengan mata yang lembut, bagaimana Arjuna tersenyum ketika melihatnya, dan bagaimana Arjuna memegang tangannya dengan lembut.
Dara merasa seperti sedang berada di dalam mimpi. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia merasa seperti ada sesuatu yang spesial antara dia dan Arjuna. Ia tidak tahu apa itu, tapi ia ingin mengetahuinya.
"Sial, kenapa aku jadi memikirkan ciuman tadi pagi?"
"Siang sayang, jangan lupa makan. Nanti sore aku akan pulang cepat, love you."
Dara membaca satu pesan singkat dari Arjuna, kata sayang yang baru saja ia baca membuat Dara tidak habis pikir. Mengapa, Arjuna siang ini begitu romantis kepadanya. Dan, jujur saja Dara mulai tergoda dengan kata-kata manis Arjuna.
"Nggak, nggak mungkin aku tergoda sama Mas Juna. Hati aku milik Bobby, dan aku nggak mungkin jatuh cinta."
Dara mencari cara agar tidak memikirkan Arjuna, dan ia mengirimkan pesan kepada Bobby agar bisa melupakan Arjuna kali ini.
"Hallo, Bobby. Apa kita bisa bertemu siang ini? Aku kangen sama kamu," ucap Dara di telepon.
"Maaf, Dara. Siang sampai malam aku sibuk, lain kali saja."
Dara menghela nafas panjang, sepertinya memang saat ini Bobby sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan, Dara bisa memaklumi itu. Dara sangat mengenal Bobby beberapa tahun lalu, kekasihnya memang menjadi pemegang utama di perusahaan keluarga Bobby. Dan, ia tahu Bobby saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Baiklah, kalau begitu lebih baik aku nonton Drakor saja untuk melupakan ciuman itu."
Namun, ternyata pemikiran Dara salah besar. Tontonan kali ini semakin membuat Dara memikirkan apa yang terjadi pagi tadi, wanita yang berada di dalam film itu menjadi wanita paling bahagia. Dan, setiap bangun tidur wanita itu mendapatkan ciuman pagi hari seperti apa yang ia dapatkan tadi.
"Kenapa harus ada morning kiss? Kenapa aku jadi memikirkan adegan itu?"
Di tempat lain.
Arjuna memberikan gaun mewah untuk Dara, ia juga tidak lupa dengan perhiasan emas yang sebelumnya sudah dipesan. Malam ini Arjuna ingin Dara terlihat semakin cantik dengan gaun dan perhiasan emas yang ia pesan, dan Arjuna ingin membuat Dara mencintai dirinya.
Setelah gaun dan perhiasan sudah ada ditangannya, Arjuna melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun, pemandangan di depannya membuat Arjuna ingin sekali memukul wajah pria itu.Arjuna melihat seorang pria sedang berciuman dengan wanita muda tepat di depan ia berdiri.
"Itu, bukannya-"