Happy reading.
Beberapa hari kemudian.
Arjuna tersenyum ketika ia melihat Dara memasuki ruangan, wajahnya masih sedikit lelah setelah seharian bekerja. Ia tidak bisa memikirkan tentang rencana spesial yang telah ia siapkan untuk mereka.
"Dara, aku ingin bicara dengan kamu tentang sesuatu," Arjuna berkata, suaranya lembut.
Dara memandang Arjuna dengan mata yang penasaran. "Apa itu? Sepertinya begitu penting."
Arjuna mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Aku ingin mengajak kamu ke luar negeri, hanya kita berdua. Honeymoon yang selama ini aku ingin berikan kepadamu, Dara."
Dara memandang Arjuna dengan mata yang lebar, wajahnya bersinar dengan kegembiraan. "Benarkah itu, Mas Juna? Kamu serius mengajakku pergi ke luar negeri untuk honey-"?"
Arjuna tersenyum. "Aku serius, Dara. Aku ingin kita memiliki waktu khusus bersama mu, aku menyadari bahwa selama ini waktu ku habis di kantor. Dan, sekarang aku akan menebus waktu yang terbuang sia-sia."
"Ke mana kita akan pergi?" Dara bertanya, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.
Arjuna tersenyum, wajahnya penuh dengan rahasia. "Aku telah merencanakan sesuatu yang spesial, Dara. Aku tidak akan memberitahu kamu sekarang. Aku ingin kamu menebaknya nanti setelah sampai di tempat tujuan."
Dara memandang Arjuna dengan mata yang penasaran, sebelum akhirnya menggelakkan kepala. "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi aku tidak bisa menunggu untuk melihat apa yang kamu siapkan."
Arjuna tersenyum, merasa seperti sedang berada di atas awan. "Aku tidak bisa menunggu untuk melihat kamu mengekspresikan kegembiraan mu ketika kita tiba di tujuan kita."
Dara dan Arjuna berdua tertawa, menikmati kehangatan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Mereka berdua tahu bahwa mereka akan memiliki waktu yang luar biasa bersama, dan mereka tidak bisa menunggu untuk memulainya.
Dara dan Arjuna melanjutkan persiapan mereka untuk perjalanan honeymoon yang spesial. Mereka berdua sibuk dengan packing dan memastikan bahwa semua hal telah siap untuk perjalanan mereka.
Sementara itu, Arjuna merasa sedikit gugup. Ia telah merencanakan sesuatu yang sangat spesial untuk Dara, dan ia ingin semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada yang menganggu kita."
"Kita harus pergi ke bandara sekarang," Arjuna berkata kepada Dara, sambil memandang jam tangannya. "Jangan sampai kita telat ketika sampai di bandara dan pada akhirnya kita nggak pergi honeymoon."
Dara mengganguk pelan, ia yakin tidak akan datang terlambat ke bandara. Semua barang-barang yang akan dibawa sudah siap.
Setelah beberapa jam, Dara dan Arjuna tiba di bandara. Mereka berdua naik ke pesawat dan menuju ke tujuan mereka yang misterius.
Ketika pesawat lepas landas, Dara memandang Arjuna dengan mata yang penasaran. "Ke mana kita pergi, Mas Juna? Aku tidak bisa menebaknya lagi."
Arjuna tersenyum, wajahnya penuh dengan rahasia. "Aku akan memberitahu kamu ketika kita tiba, Dara. Aku ingin memberikan sebuah kejutan kecil yang sangat romantis."
"Baiklah, aku akan menunggu waktu tiba. Sekarang aku ingin tidur dulu,"
***
Dara dan Arjuna akhirnya tiba di tujuan mereka, sebuah resor mewah di pantai yang indah. Dara memandang sekeliling dengan mata yang lebar, merasa seperti sedang berada di surga.
"Wow, Mas Juna, ini benar-benar luar biasa!" Dara berkata, suaranya penuh dengan kegembiraan.
Arjuna tersenyum, merasa puas dengan reaksi Dara. "Aku senang kamu suka, Dara. Aku ingin kamu memiliki pengalaman yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Dara memandang Arjuna dengan tatapan tidak percaya, sebelum akhirnya mereka berdua menuju ke kamar mereka untuk beristirahat sejenak.
Setelah beristirahat, Dara dan Arjuna memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar resor. Mereka berdua menikmati pemandangan pantai yang indah, sambil berbicara dan tertawa bersama.
Tiba-tiba, Dara melihat seseorang yang membuatnya berhenti sejenak. Bobby, mantan pacarnya, berdiri di depan mereka, dengan senyum yang tidak alami.
"Dara, apa yang kamu lakukan di sini?" Bobby bertanya, suaranya penuh dengan kejutan.
Dara merasa seperti sedang disambar petir, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Arjuna memandang Bobby dengan mata yang tajam, merasa tidak suka dengan kehadiran mantan pacar istrinya.
"Bobby, apa yang kamu lakukan di sini?" Arjuna bertanya dengan nada dingin.
Bobby memandang Arjuna, sebelum akhirnya memandang Dara lagi. "Aku. aku sedang berlibur di sini, dan ternyata dunia itu kecil sekali."
Dara merasa tidak nyaman, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Arjuna memegang tangan Dara, menunjukkan bahwa ia ada di sampingnya. "Kami sedang berbulan madu, Bobby. Jadi, tolong jangan menganggu kami."
"Baiklah, aku akan pergi secepatnya. Semoga kamu bahagia Dara," ucap Bobby kepada Dara.
Bobby memandang Dara dengan mata yang sedih, sebelum akhirnya mengangguk dan pergi. Dara merasa lega, tetapi juga merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Bobby di tempat yang sama.
Dara dan Arjuna memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka, mencoba untuk melupakan kehadiran Bobby. Mereka berdua menikmati waktu bersama, berjalan-jalan di pantai, makan malam romantis, dan menikmati keindahan alam sekitar.
Namun, Dara berpikir tidak nyaman. Ia tidak tahu apa yang Bobby lakukan di sana, dan apakah ia akan mengganggu mereka lagi.
Arjuna memegang tangan Dara, merasakan kekhawatirannya. "Dara, aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kita, termasuk Bobby."
Dara memandang Arjuna dengan mata yang penuh cinta. "Aku tahu, Mas Juna. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman, itu saja."
Arjuna membalas pelukan Dara. "Aku ada di sini, Dara. Aku akan selalu ada di sini untuk kamu."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka, menikmati waktu bersama dan melupakan kehadiran Bobby. Namun, ketika mereka kembali ke kamar mereka, Dara menemukan sebuah surat yang ditinggalkan di atas meja.
"Untuk Dara, dari Bobby" tertulis di atas amplop.
Dara merasa seperti sedang disambar petir, tidak tahu apa yang harus
ia dilakukan. Ia memandang Arjuna dengan mata yang penuh kekhawatiran, sebelum akhirnya membuka amplop dan membaca surat tersebut.
"Apa itu?" Arjuna bertanya, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Dara memandang Arjuna dengan tatapan penuh sebelum akhirnya memberikan surat tersebut kepada Arjuna.
Arjuna membaca surat tersebut, iraut wajah nya berubah setelah ia membaca surat tersebut hingga selesai.
"Kalian berdua masih saling mencintai?"
Dara merasa seperti sedang berada di dalam badai, Arjuna menanyakan pertanyaan kepadanya dengan tatapan penuh kekesalan.
Arjuna memandang Dara dengan mata yang penuh cinta. "Aku nggak akan membiarkan istri ku dimiliki orang lain, bukankah sudah aku katakan beberapa hari lalu kepadamu."
Dara mengangguk kepalanya cepat, ia sudah mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh Arjuna. Dara tahu bahwa Arjuna memang tidak akan membiarkan dirinya berdekatan dengan pria lain selain Arjuna.
"Aku, aku mengerti Mas Juna. Tapi, Bobby sampai saat ini tidak menerima kenyataan bahwa kami sudah putus."
"Ternyata, mereka sudah putus. Dan, aku bisa semakin leluasa masuk ke dalam hati Dara. Ini kabar baik untukku," ucap Arjuna dalam hatinya.