Happy reading
Dara duduk di seberang Bobby di restoran yang tenang, mencoba untuk mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Ia telah memikirkan hal ini selama beberapa hari, dan ia tahu bahwa ia harus melakukannya.
"Bobby, aku ingin bicara dengan kamu tentang kita," Dara berkata, suaranya sedikit bergetar.
Bobby melihat Dara dengan mata yang penasaran, dan Dara dapat melihat kekhawatiran di wajahnya.
"Apa itu, Dara?" Bobby bertanya, suaranya lembut.
Dara mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Aku telah memikirkan hal ini, dan aku menyadari bahwa kita tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa terus menjalin hubungan dengan kamu, Bobby."
"Kenapa, Dara? Apa yang salah dengan hubungan kita?" Bobby bertanya, suaranya sedikit meninggi.
Dara mencoba untuk menjelaskan, tetapi ia tidak tahu memulai dari mana. "Aku menyadari bahwa aku tidak bisa terus menjalani hubungan ini, hubungan kita salah Bob. Dan, aku ingin mengakhiri semuanya."
Bobby melihat Dara dengan mata yang sedih, dan Dara dapat melihat bahwa ia tidak ingin melepaskannya.
"Tapi, Dara, aku cinta kamu," Bobby berkata dengan nada lembut.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa terus seperti ini. Hubungan ini tidak boleh dilanjutkan, dan aku baru menyadarinya setelah dekat dengan suamiku."
Dara berdiri, meninggalkan Bobby yang duduk sendirian di meja. Ia tahu keputusan ini sudah tepat, mengakhiri semuanya tanpa harus menunggu kama lagi.
Dara berjalan cepat meninggalkan restoran, ia tidak ingin Bobby melihatnya menangis, maka dari itu dara mempercepat langkahnya meninggalkan Bobby yang masih ada di di restoran.
Tapi, Bobby tidak akan melepaskannya dengan mudah. Ia mengejar Dara, suaranya memanggil nama Dara di belakangnya.
"Dara, tunggu! Dara, jangan pergi!"
Dara terus berjalan, mencoba untuk mengabaikan suara Bobby. Tapi, Bobby tidak menyerah. Ia terus mengejar Dara, hingga akhirnya ia berhasil menangkap tangan Dara dan memutarnya ke arahnya.
"Dara, jangan pergi," Bobby berkata, suaranya lembut dan penuh emosi. "Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku cinta kamu, Dara."
Dara merasa seperti sedang dipukul, tetapi ia tahu bahwa ia harus tetap kuat. "Bobby, aku sudah bilang, kita tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa terus menjalani hubungan ini."
"Dara, aku tidak peduli apa yang kamu katakan. Aku cinta kamu, dan aku tidak akan melepaskan kamu. Ayo, kita kabur dari sini. Kita bisa pergi ke mana saja, kita bisa memulai hidup baru bersama."
"Aku tidak tahu, Bobby," Dara berkata, suaranya lembut.
Bobby melihat Dara dengan mata yang penuh harapan. "Ayo, Dara. Percayalah padaku. Aku akan membuat kamu bahagia, aku janji."
Akhirnya, setelah beberapa saat Dara memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Bobby, Dara mengangguk. "Baiklah, aku ikut kamu."
Bobby tersenyum, wajahnya bersinar dengan kegembiraan. "Aku tahu kamu akan membuat keputusan yang tepat, Dara."
Mereka berdua berjalan ke arah mobil Bobby, tangan mereka saling bersentuhan. Seketika itu Dara tergoda dalam bujuk rayu Bobby yang sangat manis itu, tapi ketika mereka sudah mencapai mobil, seorang wanita menghampiri mereka. Wanita itu memiliki rambut hitam panjang dan mata yang tajam, dan Dara dapat melihat bahwa ia sangat mengenal Bobby.
"Bobby, apa yang kamu lakukan di sini?" wanita itu bertanya, suaranya keras dan penuh kemarahan.
"Ah, Lisa... aku... aku tidak tahu kamu ada di sini," Bobby berkata, suaranya lembut dan penuh penyesalan.
Lisa melihat Dara dengan mata yang tajam. "Siapa dia?" ia bertanya, suaranya penuh kecurigaan.
Bobby terlihat seperti sedang terjepit, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia memandang Dara dengan mata yang meminta maaf, sebelum akhirnya memandang Lisa.
"Lisa, ini... ini Dara," Bobby berkata, suaranya lembut. "Dara, ini Lisa, teman lamaku."
Lisa melihat Dara dengan mata yang tajam, sebelum akhirnya memandang Bobby lagi. "Teman lamamu? Bobby, kita sudah berpacaran selama beberapa tahun. Tapi, aku baru mengenal Lisa."
"Berpacaran? Kalian berdua berpacaran?"
"Lisa, aku... aku bisa menjelaskannya," Bobby berkata, suaranya lembut.
"Tidak perlu, Bobby," Lisa berkata, suaranya keras. "Aku sudah tahu apa yang sedang terjadi. Kamu tidak berubah, Bobby. Kamu masih sama seperti dulu, selalu mengejar wanita lain tanpa memikirkan perasaan orang lain."
"Memangnya kamu lebih lama kenal Bobby?"
Lisa memandang Dara dengan mata yang simpatik. "Aku sangat mengenal Bobby, Dara. Aku juga pernah berada di posisi kamu, tapi Bobby meninggalkan aku begitu saja."
"Jadi, selama ini bukan hanya aku saja yang menjadi kekasih Bobby."
Dara memandang Bobby dengan mata yang penuh kebencian, sebelum akhirnya memikirkan Arjuna yang telah menunggunya di rumah.
"Aku tidak jadi ikut kamu, Bobby," Dara berkata, suaranya tegas.
Bobby memandang Dara dengan mata yang penuh kesedihan, tetapi Dara tidak peduli. Ia sudah membuat keputusan, dan ia tidak akan kabur dengan Bobby.
"Hubungan kita putus, aku nggak mau berhubungan denganmu lagi. Mulai saat ini dan seterusnya, jangan pernah hubungi aku lagi."
***
Dara pulang ke rumah dengan perasaan kesal dan frustrasi. Ia masih tidak bisa percaya bahwa ia hampir saja membuat kesalahan besar dengan Bobby. Ia memikirkan tentang Arjuna, tentang cinta dan kebahagiaan yang telah mereka bangun bersama, dan merasa sangat beruntung bahwa ia bisa sadar sebelum terlambat.
Ketika ia membuka pintu, Arjuna ada di sana, menunggunya dengan senyum yang manis. Dara merasa seperti sedang berada di rumah, merasa seperti sedang berada di tempat yang aman.
"Mas Juna, kamu sudah-"
Cup.
"Aku cinta kamu, Dara," Arjuna berkata, suaranya lembut.
Dara merasa seperti sedang meleleh, merasa seperti sedang berada di dalam pelukan hangat. Ia memandang Arjuna dengan mata yang penuh cinta, sebelum akhirnya memeluknya.
"Mas Juna, aku mau minta maaf atas semua yang selama ini aku lakukan."
Arjuna membalas pelukan Dara dengan hangat, membuatnya merasa seperti sedang berada di rumah. Dara merasa seperti semua kesal dan frustrasi yang ia rasakan sebelumnya telah hilang, digantikan dengan perasaan cinta dan kebahagiaan.
"Aku sudah memaafkan mu sejak lama, dan aku sudah melupakan apa yang pernah kamu lakukan kepadaku."
"Aku akan belajar mencintaimu, Mas Juna," Dara berkata, suaranya lembut, sambil memeluk Arjuna lebih erat.
"Benarkah? Kamu akan belajar mencintai ku sebagai suami mu."
Dara mengangguk pelan, ia sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan selama perjalan menuju rumah tadi. Baginya, mulai saat ini dan seterusnya ia akan memikirkan Arjuna bukan pria lain.
Mereka berdua berdiri di sana, memeluk satu sama lain, menikmati kehangatan dan cinta yang mereka rasakan. Dara tahu bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, bahwa ia telah memilih cinta yang sebenarnya.
"Semoga kali ini aku nggak salah langkah lagi, aku akan belajar mencintai suamiku."