Bab 10. Mr. L Itu Artinya Lucas?

1188 Words
"Gek?!" Suara sang Bibi diiringi suara ketukan di pintu kamarnya, mengejutkan Fay yang tengah melamun di atas ranjang seraya menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Siang tadi ia memang sedikit melupakan kesedihannya di saat ia menghabiskan waktu dengan Loisa. Karena Bibinya itu terus menyeretnya ke sana ke mari tanpa memberikannya kesempatan untuk mengingat semua yang telah Rey lakukan padanya. Namun malam ini, di dalam kamar yang sepi ini, semua kenangan buruk itu kembali di saat Fay ingin memejamkan matanya. Ia sudah berusaha keras ingin mengenyahkan semua kenangan itu, akan tetapi rasa sakit yang telah ditinggalkan Rey selama ini di dalam hatinya, bak akar mawar berduri yang membelit tubuhnya. Duri-duri tajam itu sudah menusuk terlalu dalam, membelit hatinya terlalu erat hingga membuatnya merasa sangat kesakitan. "Ya, Me Nik." Dengan malas dan wajah yang lesu, Fay turun dari atas ranjang. Menghapus kasar terlebih dahulu air mata yang telah terlanjur membasahi pipinya, baru melangkah ke arah pintu kemudian membukakan pintu untuk sang Bibi. "Kau menangis?" tegur Loisa, sambil memperhatikan wajah keponakannya. Menemukan sembab yang tersisa di mata Fay dan pipi keponakannya itu. "Apa kau menangis demi b******n itu?" Loisa mendengus gemas. "Mengapa, Gek? Mengapa kau menyiksa dirimu demi seseorang yang tidak pantas untuk menerima air matamu itu?" Fay memang sudah menceritakan pada Loisa kalau Rey telah menjebaknya agar mantan suaminya itu bisa bercerai dengannya, namun ia belum menjelaskan pada Bibinya ini bahwa akibat jebakan itu telah membuatnya kehilangan mahkotanya. Ia, terlalu takut jika Loisa akan emosi dan menuntut Rey atas ulah mantan suaminya itu padanya. Sementara itu, ia sendiri sudah lelah rasanya, dan belum berniat ingin menemui Rey dalam waktu dekat ini. Melihat mantan suaminya itu berbahagia dengan selingkuhannya. "Aku menangis karena merindukan Ayah dan Ibu, Me Nik." Sudah jelas ia berbohong, tapi jika Fay berkata jujur pada Loisa bahwa saat ini ia sangat kesal pada Rey—pasti Bibinya ini akan menasehatinya panjang lebar tentang emansipasi wanita dan semua yang berhubungan dengan kekuatan Ibu Kartini yang tidak mudah untuk dijatuhkan. Please! Ia bukan R. A. Kartini. Ia hanya Fay Abimana! Seorang wanita muda yang telah dikhianati oleh cinta pertamanya yang telah menjadi suaminya. Ia, butuh waktu untuk mencerna dan mengantisipasi semua rasa sakit yang ia rasakan di dalam hatinya. Rasa sakit yang mengalir di sekujur tubuhnya hingga ke area intimnya. "Serius?" Loisa menatap sang keponakan sambil memicingkan matanya. "Kau yakin tidak berbohong pada Me Nikmu ini?" Fay mengangguk ragu, tanpa menyadari gerak geriknya itu sedang dinilai oleh sang Bibi. "Fred menjemput Me Nik, apa kau akan baik-baik saja jika Me Nik tinggal sendiri? Hanya beberapa jam." Sekali lagi Fay menganggukkan kepalanya, kemudian berusaha keras menyunggingkan seraut senyum di bibirnya. "Aku, 'kan sudah besar, Me Nik. Sudah 22 tahun lho, aku tuh sudah bisa menjaga diriku sendiri," ujarnya, mencoba menenangkan Loisa yang tampak sedang mencemaskan dirinya. Sambil menyentuh tangan Bibinya itu. "Benar?" tak percaya pada sang keponakan, Loisa masih ingin memastikannya sekali lagi. Dan setelah ia melihat anggukan Fay yang keras kepala, akhirnya ia pun menghela napas lelah. "Kalau terjadi sesuatu, kau harus menghubungi Me Nik, oke?!" tukasnya. "Ini bukan permintaan, Gek. Ini perintah!" "Siap, Bos!" Fay terkekeh pelan. "Dengar, Gek! Sekarang kau sudah bersama Me Nik, sudah saatnya kau membagi bebanmu itu pada Me Nikmu ini. Mengerti!" "Apa sih? Mending Me Nik pergi sekarang. Kasihan tuh si Fred udah nunggu di depan," usir Fay jengah. Jangan tanyakan mengapa ia seberani ini pada adik Ibunya, sebab sejak ia kecil—ia dan Loisa terbiasa menghabiskan masa kecil bersama layaknya Adik-kakak. Merasa gemas pada sang keponakan, Loisa mencoba meraih telinga Fay. Namun dengan sigap keponakannya itu menghindar, membuatnya sontak menekuk wajahnya. "Awas kau!" ancamnya pada Fay yang tertawa geli melihat ekspresi wajahnya saat ini. "Me Nik kunci rumah ya, Gek? Me Nik bawa kunci duplikat." "Iya!" Fay membalas lambaian tangan sang Bibi dari ambang pintu kamarnya. "Salam sama Fred!" teriaknya menambahkan. Di saat bayangan Loisa telah menghilang di balik pintu rumah, Fay kembali menutup pintu kamarnya. Bersandar di daun pintu lalu menghembuskan napas berat. Ia terdiam selama beberapa saat hingga suara nada dering yang berasal dari ponselnya mengganggu lamunannya. "Siapa yang menghubungiku malam-malam begini?" Fay melemparkan pandangannya ke arah jam dinding kamarnya. "Oh, ternyata baru pukul 8.30. Huft! Mengapa rasanya waktu berjalan sangat lambat?" suara nada dering ponselnya terdengar sekali lagi, membuat Fay bergegas melangkahkan kakinya ke arah meja yang terdapat di dalam kamarnya. Keningnya mengernyit saat melihat nomor luar negeri yang tak ia kenali—terpampang di layar ponselnya itu. Meski bingung, Fay tetap mengangkat panggilan itu. "Selamat malam?" "Malam, dengan Nyonya Fay Abimana?" suara seorang pria bernada sopan terdengar dari seberang panggilan. Sedikit cadel, seperti seorang bule yang baru berhasil mempelajari bahasa Indonesia. "Ya, saya sendiri. Ini dengan siapa ya?" tanya Fay, semakin bingung. "Perkenalkan, Nyonya. Saya Jerome, Asisten Pribadi Tuan Lucas La Treimoille." "Lucas apa?" "La Treimoille, Nyonya." "Ah, maaf. Namanya agak sulit," tukas Fay, merasa tak enak hati. "Tidak masalah, saya mengerti, Nyonya." Pria di seberang sana terdengar tertawa kecil. "Oh ya, maksud saya menghubungi Nyonya, adalah atas permintaan Tuan Lucas, Nyonya. Ini tentang ... cincin yang berada di jari Nyonya. Cincin itu adalah milik Tuan Lucas." Kini, Fay mengerti mengapa pria yang sedang berbicara dengannya sekarang, tiba-tiba menghubungi dirinya. 'Jadi Mr. L itu artinya Lucas?' ia menjepit ponselnya dengan bahu dan telinganya, lalu mengangkat tangan kanannya, memperhatikan cincin yang melingkar di jari telunjuk tangannya itu. "Apa Tuan Lucasmu itu menginginkan cincinnya kembali? Karena aku tidak bisa melepaskannya dari jariku," celetuk Fay. "Hahaha, tidak, Nyonya. Tuan memang sengaja memberikan cincin itu pada Nyonya. Dan besok malam, Tuan ingin bertemu dengan Nyonya. Apa Nyonya ada waktu?" "Untuk apa? Apakah belum cukup dia memanfaatkan mabukku untuk merebut keperawananku? Apa belum cukup dia merusak diriku?" "Itu tidak benar, Nyonya. Bukan Tuan yang memanfaatkan Nyonya, tapi Nyonya-lah yang telah diberikan pada Tuan oleh Mr. Rey sebagai hadiah agar Tuan bersedia bekerja sama dengan Perusahaannya." "Apa?!" awalnya Fay tidak tahu bahwa rencana Rey sebusuk ini. Ia pikir, Rey hanya sengaja membuatnya mabuk hingga ia melakukan kesalahan di luar sana. Tapi sekarang, Fay baru tahu jika keperawanannya justru dijadikan Rey sebagai hadiah untuk calon rekan bisnisnya. "Sebaiknya Nyonya bertemu dengan Tuan agar Tuan bisa menjelaskan tentang semua yang terjadi pada Nyonya. Bagaimana?" "Tapi aku sudah tidak berada di Jakarta!" ketus Fay, sambil menggertakkan giginya. Kemarahannya meledak, hatinya seolah dihantam oleh gada raksasa yang langsung meremukkannya hingga menjadi bubur. "Bagaimana jika di Bali?" Fay sontak terhenyak, berpikir dari mana pria yang sedang berbicara dengannya ini mengetahui kalau sekarang ia ada di Bali. "Nyonya Fay?" "Beri aku waktu untuk memikirkannya," ujar Fay, menahan geram mengingat ulah Rey yang sudah melewati batas kesabarannya. "Baik, Nyonya. Apakah satu malam cukup?" Fay mengangguk tanpa sadar. Dan saat ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu tidak akan terlihat oleh lawan bicaranya, ia pun langsung membuka mulutnya. "Cukup!" "Kalau begitu apa besok saya bisa menghubungi Nyonya lagi? Hanya untuk memastikan." "Tentu saja!" Jerome kemudian menjawab kembali dengan beberapa patah kata hanya untuk berpamitan pada Fay. Setelah beberapa saat, panggilan itu pun ditutup oleh Jerome. Fay menatap layar ponselnya yang telah berubah menjadi hitam, sembari memikirkan ucapan pria yang telah menghubungi dirinya itu. "Lucas? Mengapa pria itu ingin bertemu denganku?" bisiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD