Bab 12. Wanita Yang Sangat Berani

1180 Words
"Kira-kira kapan pengerjaannya bisa dimulai, Pak?" tanya Fay, pada Mandor yang telah dihubungi oleh Loisa, dan berjanji untuk bertemu dengannya saat ini di rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya. Sudah 30 menit mereka berada di tempat ini, memeriksa beberapa kerusakan yang terdapat pada rumah ini—juga beberapa hal yang hanya perlu penanganan ringan seperti mengecat ulang hampir keseluruhan dinding di rumah ini. "Sekarang para tukang sedang tidak banyak pekerjaan, Nona. Jadi kita bisa segera memulainya besok. Nona Loisa kebetulan sudah menjelaskan pada saya jika untuk pengerjaan kali ini saya hanya perlu melaporkan tentang biayanya pada Beliau," jawab Mandor itu. Fay menanggapi ucapan pria itu dengan tersenyum kecut. Tentu saja ia sudah tahu kalau Bibinya sangat bersikeras ingin membiayai semua perbaikan yang diperlukan untuk memperbaiki rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya ini. Karena itu, ia bisa mengerti ketika Mandor ini tidak ingin membahas tentang masalah biaya padanya, melainkan hanya mengatakan tentang jadwal pengerjaan rumahnya saja. "Aku tidak masalah dengan itu, Pak. Tetapi aku akan mengawasi renovasi rumah ini nanti. Dan kuharap, Bapak tidak akan merasa keberatan jika aku memberikan sedikit masukan." Mandor itu mengangguk setuju, "Nona tentu saja boleh melakukannya. Nona Loisa juga telah meminta saya untuk mendengarkan apa saja request dari Nona." "Terima kasih." Fay mengulurkan tangannya pada Mandor itu yang langsung disambut oleh pria berusia kepala tiga itu. Pria itu memiliki tinggi yang hampir sama dengannya, kulitnya sawo matang, perutnya sedikit buncit, hingga kancing kemejanya yang di bagian perut tampak meregang. "Baiklah, Bapak sudah menyimpan nomorku, 'kan?" Sekali lagi pria yang berprofesi sebagai Mandor itu, menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku tunggu kabarnya besok," ujar Fay melanjutkan, seiring ia melangkahkan kakinya bersama Mandor itu menuju pintu rumahnya. Tak lama, pria itu pun berpamitan pada Fay. Dan Fay sendiri pergi setelahnya, sesudah ia mengunci pintu dan pagar rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya terlebih dahulu. Hari ini Loisa harus masuk bekerja di Firma yang telah mempekerjakan Bibinya itu sebagai Pengacara Senior di sana. Jadi Fay diperkenankan untuk menggunakan mobil lama milik sang Bibi untuk bertemu dengan Mandor tadi di rumah ini. Walaupun, selama tiga tahun ini ia tidak pernah diberi kesempatan oleh Rey untuk menggunakan mobil-mobil yang terdapat di rumah mewah milik mantan suaminya itu—akan tetapi Fay sebenarnya sudah mahir mengendarai mobil sejak ia berusia 18 tahun. Loisa-lah orang yang telah mengajarinya untuk menyetir mobil. Baru saja Fay masuk ke dalam mobil dan berniat ingin meninggalkan rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya—ponselnya yang berada di dalam tas tangannya tiba-tiba saja berbunyi. Dengan cepat ia mencari ponselnya itu dan menemukan nama Loisa tertera di layar ponsel itu. "Ya, Me Nik. Aku sudah berbicara dengan Mandornya dan akan segera pulang sekarang," sahut Fay, ketika ia mendengar sapaan Loisa dari seberang sana. "Gek, apa malam ini kau mau keluar?" Fay diam sejenak, memikirkan jawaban untuk menjawab pertanyaan sang Bibi. Ia pikir, mungkin ada baiknya jika ia pergi ke luar daripada menghabiskan waktunya lagi di rumah Bibinya kemudian kembali menangisi nasibnya. "Fred bilang, dia ingin kau ikut bersama kami malam ini. Dia ingin pergi ke Rock Bar dan ingin menghiburmu. Bagaimana menurutmu?" 'Rock Bar?' sudah lama sekali rasanya Fay tidak mengunjungi tempat itu, setidaknya sejak ia memutuskan untuk menikah dengan Rey. "Sepertinya itu usul yang bagus, Me Nik. Aku kebetulan memang sedang membutuhkan sedikit pengalih perhatian," ujar Fay, menyetujui ajakan sang Bibi. "Itu baru keponakanku." Tawa Loisa pun terdengar dari seberang sana, "Oh ya, Gek. Nanti malam Me Nik akan mendandanimu sebelum kita pergi, Oke? Sampai bertemu di rumah." "Iya, Me Nik." Sambungan ponsel langsung terputus. Namun, sebelum Fay sempat mengembalikan ponselnya itu ke dalam tas tangannya, ponsel itu tiba-tiba kembali berdering. Fay menatap layarnya, mengeja nomor luar negeri yang terpampang di layar ponselnya itu. "Ha-lo?" Ia mengangkat panggilan itu dengan sedikit terbata, sebab ia sudah mengingat nomor yang berada di layar ponselnya itu. "Apa ini Nyonya Fay Abimana? Ini Jerome, Nyonya." "Aku tahu," sahut Fay cepat. Gara-gara terlalu sibuk hari ini, ia sampai lupa dengan janjinya pada pria itu bahwa hari ini ia akan memberikan keputusan pada Jerome tentang pertemuannya dengan Mr. L. "Apakah Nyonya sudah memikirkannya?" "Sudah. Aku setuju untuk bertemu dengannya di kota ini." "Bagaimana dengan nanti malam, Nyonya. Tuan tidak keberatan jika Nyonya ingin memilih tempatnya. Atau jika Nyonya merasa bingung, aku bersedia untuk mengaturkannya untuk Nyonya." "Tidak perlu, malam ini kebetulan aku akan mengunjungi suatu tempat, Rock Bar. Apa dia bersedia menemuiku di sana?" "With my pleasure, My Lady." Suara pria bernada bariton tiba-tiba menyapa indera pendengaran Fay. Suara itu berbeda dengan suara Jerome sebelumnya, sedikit berat, dan terdengar sangat sexy. "Kau? Apa kau ...." Suara itu kini terkekeh pelan, getaran nadanya begitu menggoda hingga membuat jantung Fay sontak berdentum keras di dalam tubuhnya. Apakah hal ini terjadi karena ia gugup? Tentu saja! Fay bahkan rasanya bisa membayangkan perawakan pria yang sedang berbicara dengannya saat ini. "Sial, kau benar-benar enak, Baby. Kau membuatku terus menginginkan tubuhmu." Entah dari mana kata-kata itu berasal, namun ucapan itu berkelebat begitu saja di dalam benaknya. "Oh, Tuhan. Itu dia!" bisik Fay lemas, setelah ia menyadari jika rasanya ia pernah mendengar kalimat itu di dalam kamar hotel pada malam ia kehilangan kontrol atas dirinya. "Benar, ini aku, Lucas. Apa kau merindukanku, Baby?" "Maaf?" Fay memutar kedua bola matanya, merasa gemas mendengar kenarsisan pria yang menyebutkan dirinya sebagai Lucas itu. "Aku bahkan tidak mengenalmu." "Hmm, setelah semua yang terjadi pada kita?" Kelopak mata Fay sontak melebar dengan mulut yang sedikit terbuka. "Yang terjadi pada kita? Apa kau lupa kalau malam itu aku sedang mabuk berat? Kupikir bahkan sedikit teler juga." "Tapi kau terlihat sangat cantik ketika kau merintih di bawahku, Sayang." "What?!" Fay langsung memutuskan panggilan, merasa tidak sanggup lagi untuk mendengarkan kelanjutan ucapan pria bernama Lucas itu—yang menurutnya sangat m***m. Selama beberapa saat, ia hanya diam sambil menatap layar ponselnya, tanpa berniat mengangkat panggilan yang kembali masuk ke dalam ponselnya itu yang tentu saja berasal dari pria m***m yang baru saja berbicara dengannya tadi. "Mungkin aku tidak perlu menemui pria itu, yang dari cara bicaranya saja sudah membuat sekujur tubuhku terasa gatal," sungut Fay gemas. Ia lalu buru-buru mematikan ponselnya dan mengembalikannya ke dalam tas tangannya, setelah itu melarikan mobil Bibinya meninggalkan tempat tersebut. Di tempat berbeda, di sebuah vila mewah yang terletak tak jauh dari tempat Fay berada tadi, dengan netra hijaunya—Lucas memperhatikan layar ponsel milik Jerome yang baru saja ia pergunakan untuk berbicara dengan Fay selama beberapa saat ini. Rahang pria berwajah tampan ini mengeras, sorot matanya sangat tajam. Dan setelah cukup lama terdiam, secara tiba-tiba ia melemparkan pandangannya pada Jerome. Asisten pribadinya yang sedang berdiri di sampingnya saat ini. "Wanita itu memutuskan panggilan di saat aku sedang berbicara dengannya dan tidak lagi mau mengangkat panggilan dariku? Berani sekali dia!" gerutunya. Nyali Jerome seketika menciut, ia tersenyum kaku saat melihat ekspresi sang atasan. Terus terang, terkadang ia merasa sangat takut apabila Lucas sedang marah seperti sekarang. "Dengar, Jerome! Jika wanita itu pikir dia bisa menghilang lagi dariku, maka dia salah! Karena aku, Lucas La Treimoille, akan menghukumnya hingga dia akan selalu mengingat namaku!" lanjut Lucas, tanpa mempedulikan raut wajah sang Asisten yang terlihat cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD