Meeting berjalan lancar, meski Ara sedang dalam keadaan tidak prima. Walau hati dan pikirannya masih berkecamuk, namun Ara tetap profesional pada pekerjaannya dan berhasil memaparkan ide desain yang sudah dia kerjakan. Juga tak lupa memaparkan perihal dana dan kebutuhan yang sekiranya akan digunakan dalam proyek pendauran ulang bangunan usang yang akan di kerjakan.
Adrian merespon dengan baik ide yang Ara kemukakakn, divisi yang mengurusi perihal pembangunan pun mengiyakan ide Ara sebagai ide yang bisa direalisasikan. Tidak satu dua kali Ara membuat apa yang ada di pikirannya disetujui oleh perusahaan, namun itu tidak membuatnya menjadi lebih akrab dengan Adrian meskipun mereka sering terlibat bicara empat mata untuk membahas mengenai pekerjaan.
Jika saja Ara seperti perempuan pada umumnya, sudah jelas dia mencari muka dan mengambil kesempatan sebaik mungkin untuk mendekati Adrian. Tapi karena kesetiaan dan cinta yang dia miliki pada Revano dulu, membuat Adrian tidak menarik dimata Ara. Ia yang cuek dan tidak berlebihan didepan Adrian juga, membuat Adrian menjadi lebih nyaman bekerja dan membahas pekerjaan pada Ara. Karena ia tidak harus terganggu pada pandangan kagum, seperti yang selama ini dia dapatkan dari perempuan-perempuan lain yang melihatnya. Ya, hanya ada dua pandangan yang Adrian terima dari perempuan. Pandangan kekaguman, dan pandangan aneh yang terkadang dia temui dari perempuan-perempuan yang berpikiran bahwa dia adalah laki-laki yang belok.
****
Ara berjalan lesuh keluar dari ruang meeting beriringan dengan Freya. Meski meeting berjalan lancar, namun itu tidak bisa mengubah fakta bahwa perasaannya sedang tidak baik saat ini.
“Meetingnya sudah selesai?” Pertanyaan seseorang membuat Freya yang sebelumnya ikut larut dalam perasaan galau yang tengah merudung Ara, berbalik dan terkejut.
“Arsen..”
Arsen hanya tersenyum, melihat Freya yang terkejut karena panggilannya yang tiba-tiba dan juga dirinya yang berada dibelakang Freya tanpa sepengetahuan Freya.
“Sedang menunggu Pak Adrian?”
“Iya, memangnya siapa lagi yang aku tunggu disini selain dia” Jawab Arsen santai, seperti bagaimana biasanya ia berbicara dengan Freya..
Arsen melirik Ara yang jelas terlihat dalam keadaan tidak baik hari ini. Meski Arsen sering kali lalu lalang di kantor Adrian, dan dengan ramah menyapa orang-orang yang dia temui, namun bukan berarti semuanya bisa menjadi akrab dengan Arsen.
Ara, meski Arsen sering kali melihat Ara berjalan beriringan dengan Freya, namun hingga sekarang Arsen tidak mengenal Ara, bahkan untuk sekedar mengetahui namanya.
Freya mengerti maksud dari tatapan Arsen yang ditujukan pada Ara.
“Ah, dia Ara” Freya mencoba mengenalkan Ara pada Arsen.
Ara menatap Arsen sejenak, disusul senyumannya. Meski perasaannya sedang tidak baik, itu bukan menjadi alasan untuk Ara tidak terlihat ramah pada orang yang dia ketahui adalah sahabat dari Ceo perusahaan di tempatnya bekerja.
Arsen balas tersenyum pada Ara, dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagaimana umumnya orang-orang yang berkenalan.
"Aku sering melihatmu, tapi tidak ada waktu untuk menyapamu seperti staf yang lainnya. Kamu selalu jalan terburu-buru atau jalan dengan muka yang kelelahan, jadi tidak enak untuk menyapa” Tutur Arsen mengungkapkan alasannya dimana dia yang belum juga mengenal Ara seperti dia mengenal beberapa staf lainnya.
"Iya, Ara selalu sibuk jadi selalu berjalan dengan cepat. kalaupun ia berjalan dengan lamban, itu berarti dia sudah kelelahan dan kehabisan tenaga” Celetuk Freya.
Meski tidak terbilang sangat dekat, namun Arsen dan Freya cukup nyaman untuk berbicara satu sama lain, sehingga Freya tidak lagi menggunakan bahasa yang lebih sopan atau berbicara dengan kaku pada Arsen. Watak keduanya yang nyaris sama, membuat mereka menjadi lebih akrab dari waktu ke waktu.
Percakapan Arsen dan Freya berlangsung sejenak, membuat Ara menjadi terjebak diantara keduanya. Rasanya sedikit tidak sopan jika harus meninggalkan percakapan mereka yang sesekali menyebutkan dirinya.
“Sejak kapan kau disini?” Tanya Adrian yang muncul dibelakang Arsen.
Arsen menoleh, diikuti oleh Freya dan juga Ara. Freya dan Ara menunduk sejenak, memperlihatkan kesopanannya pada orang yang lebih tinggi kedudukannya di kantor.
"Sudah sejak tadi. Kau meeting lama sekali"
Adrian mengarahkan pandangannya pada Freya dan Ara, membuat keduanya hanya melemparkan senyum manis. Meski jelas terlihat bahwa senyum yang Ara perlihatkan sedikit terpaksa.
“Kalau begitu kami pamit dulu Pak” Freya undur diri sekaligus mewakili Ara. “Sen, aku duluan” Tidak lupa, Freya juga pamit pada Arsen. Dan Arsen hanya tersenyum sembari mengangguk kecil.
Arsen mengikuti langkah kaki Adrian berjalan kembali ke ruang kerjanya. Masih ada pekerjaan yang harus Adrian selesaikan, karena sempat tertunda akibat panggilan masuk dari Arsen pagi tadi.
Arsen mengambil posisi duduk dengan nyaman pada sofa yang terletak pada ruang kerja milik Adrian.
"Kau sedang apa datang kemari pagi-pagi? Penerus Renako ini apa tidak ada pekerjaan lain sampai datang kemari pagi-pagi"
"Aku perlu membahas sesuatu yang penting denganmu, sehingga aku rela meninggalkan pekerjaanku di kantor dan meluncur dari jauh, kemari"
Manik mata Adrian yang hitam pekat, ia arahkan pada Arsen dengan lirikan. Sahabatnya itu tengah duduk santai dan bersandar di punggung sofa seolah tengah bertamu dirumah seorang kerabat.
"Rian, aku kepikiran dengan apa yang aku katakan pagi tadi"
"Tentang apa?"
Pandangan Adrian yang sudah ia fokuskan pada netbook dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan disana, membuatnya menanggapi ucapan Arsen tanpa menoleh. “Pacar kontrak”
Jari-jari Adrian yang sebelumnya mulai sibuk pada keyboard, terhenti sejenak mendengarkan apa yang Arsen katakan. Adrian mengangkat kepalanya, menatap Arsen yang terlihat begitu bersemangat.
"Ah, jenius sekali pikiranku pagi tadi. Aku hanya asal bicara perihal pacar kontra itu. Tapi nyatanya, aku kepikiran dan berpikiran bahwa itu adalah ide yang cemerlang"
Adrian yang sempat mengarahkan pandangannya pada Arsen, kembali mengalihkan pandangannya dan mulai sibuk menatap layar netbook didepannya.
"Kau sarapan pakai apa tadi pagi? Sampai pikiran bodoh seperti itu bisa singgah di kepalamu?"
"Ck, aku serius Rian. Kau tidak mungkin menemukan pacar dalam waktu dekat ini. Apalagi kalau kau ngotot tidak ingin bersama perempuan yang kenal denganmu. Satu-satunya cara agar kau bisa membawa pacar ke party Axel, ya cari pacar kontrak" Arsen begitu menggebu-gebu menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Kau ngasal sekali”
"Telingamu akan panas lagi mendengar obrolan orang-orang tentangmu, kalau kau datang sendiri ke pesta. Maka dari itu.."
“Aku..” Perkataan Arsen yang di potong Adrian, juga terhenti ketika ketukan pintu dari luar menyentuh gendang telinga keduanya.
“Permisi Pak” Sapa Ara yang muncul dari balik pintu. Adrian mengangguk, memberi isyarat bahwa dia memberi izin pada Ara untuk masuk ke dalam ruangannya. Percakapan sebelumnya bersama Arsen terhenti.
Ara melangkah mendekat pada Adrian yang duduk di meja kerjanya.
“Ini saya bawakan beberapa desain kasar untuk bangunan yang akan kita ubah. Saya lupa menyampaikan perihal keinginan klien untuk membuat beberapa ruangan menjadi lebih luas, sehingga ada beberapa dinding yang harus kita runtuhkan”
“Bagaimana ini, ini tidak kita bahas pada meeting tadi. Jadi tentang perencanaan lainnya, bukannya semuanya harus diubah?”
“Ah tidak juga pak, saya sudah menyiapkan solusi untuk itu, jadi kita tidak harus mengubah rencana awal”
Ara menyodorkan beberapa lembar kertas yang berhubungan dengan proyek yang sedang mereka kerjakan saat ini. Tidak lupa juga Ara menyiapkan solusi didalamnya.
Gerakan refleks kepala Adrian mulai mengangguk paham dengan apa yang Ara maksud.
“Ya, bisa seperti ini juga”
“Kalau begitu, saya permisi dulu pak”
Adrian mengangguk. “Terimakasih atas kerja kerasmu, Ara”
Ara mengangguk dengan senyum yang teriring melingkar manis di bibirnya.
Ara melangkah keluar, sedang pandangan Arsen tidak lepas dari Hana. Sedari Ara menjelaskan pekerjaannya pada Adrian, hingga ia berpamitan keluar dan melangkah meninggalkan ruangan Adrian, pandangan Arsen terus tertuju pada Ara
“Aku tahu sekarang.. Siapa perempuan yang tepat itu” Kata Arsen melangkah dengan langkah yang dipercepat keluar dari ruangan Adrian, menyusul Ara.
Pandangan Adrian mengantar langkah terburu-buru milik Arsen yang keluar dari ruangannya.
“Ara” Panggil Arsen.
Ara yang belum jauh, menoleh mendengar panggilan Arsen.
“Iya..”
“Apa aku boleh minta tolong?”