Pilihan Arsen

1138 Words
“Ara..” Panggilan Arsen membuat Ara menghentikan langkahnya.   “Iya?”   “Apa aku bisa meminta bantuanmu?”   Manik mata hitam pekat milik Ara memandangi Arsen dengan sedikit kebingungan. “Memangnya hal apa yang bisa aku bantu?” Batin Ara.   “Bantu apa?”   “Panggilkan Freya. Aku ada perlu dengan Freya”   Ara hanya tersenyum dan mengangguk kecil.   “Terimakasih sebelumnya”   Ara kembali mengangguk.   “Aku tunggu diruangan Adrian”   Ara tersenyum dan berbalik kembali melanjutkan langkahnya.   Arsen kembali melangkahkan kakinya masuk keruangan Adrian, jelas terlihat senyum mengambang di bibirnya.   “Kau mengejar Ara?”   Arsen mengangguk, sembari berusaha mengambil nafas yang lebih dalam. Melangkah pelan dan kembali menghempaskan tubuhnya diatas sofa   “Kenapa?”   Belum Arsen menjawab pertanyaan Adrian, ketukan pintu dari luar membuat keduanya mengarahkan pandangan pada pintu. Freya yang muncul dari balik pintu, memperlihatkan senyum keramahannya.   “Ah akhirnya datang juga. Sini sini..” Panggil Arsen dengan semangat. Sedang Adrian hanya kebingungan, tidak mengerti dengan apa yang sahabatnya itu lakukan.   “Anak ini, apa dia pikir ruang kerjaku ini sebagai tempat pertemuan dengan temannya?" Gerutu Adrian dalam hati.   Freya melangkah masuk, meski sedikit canggung mengingat ruangan itu bukanlah ruangan biasa yang bisa ia masuki seenaknya. Itu adalah ruang kerja milik Ceo perusahaan tempatnya bekerja.   "Kamu tidak perlu sungkan. Cepat kemari" Kesabaran Arsen mulai hilang, melihat Freya yang melangkah pelan.   Freya tersenyum, dan sedikit mempercepat langkahnya. Meski kikuk dan sedikit tegang, Freya mencoba terlihat tenang dengan mengatur nafasnya dengan baik.   “Reya, Ara itu temanmu bukan? Tadi kamu bicara seolah akrab sekali dengan Ara”   Freya mengangguk. “Iya. Kenapa?”   “Apa dia free?” Tanya Arsen to the point, membuat kelopak mata Freya spontan melebar. Bukan hanya Freya yang terkejut mendengar pertanyaan Arsen. Adrian yang duduk dikursinya pun sampai menoleh.   “I-iya. Dia putus dengan pacarnya semalam”   “Semalam??” Arsen memperjelas, apa yang baru saja dia dengar.   Freya hanya mengangguk, dengan kebingungan yang semakin menjadi-jadi.   “Wah.. Ini yang diakatakan takdir. Ck ck ck Tuhan merestui rencanaku..”   Freya semakin bingung, begitu juga dengan Adrian yang memantau percakapan keduanya.   “Ren-rencana apa?” Tanya Freya.   “Emh Reya, kira-kira Ara mau punya pacar dekat-dekat ini?”   “Kamu suka pada Ara? Kamu mau jadi pacarnya Ara?” Pertanyaan beruntun Freya lontarkan dengan nadanya sedikit tinggi. Dia cukup syok dengan apa yang ada dipikirannya sekarang. Sedang Adrian hanya bisa menggeleng pelan.   “Bu-bukan. Bukan aku”   “Terus?”   “Adrian”   Pupil mata milik Freya lebih melebar lagi saat indra pendengarnya menangkap suara Arsen yang menyebutkan nama Adrian. Perlahan Freya mengarakan pandangannya pada Adrian yang duduk sambil memijat keningnya.   “Kira-kira Ara mau punya pacar seperti Adrian?” Tanya Arsen dengan antusias.   “Memangnya ada orang yang tidak mau punya pacar seperti pak Adrian?” Pikir Freya.   “Arsen, berhenti. Kau membuat Freya bingung” Tegur Adrian yang mulai beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Arsen dengan matanya berbinar-binar dan Freya dengan ekspresi terkejutnya yang masih belum bisa ia kendalikan.   “Jangan salah paham Freya. Saya tidak lagi cari pacar, hanya..”   “Ah iya..” Arsen memotong perkataan Adrian, membuat Adrian melirik Arsen dengan kesal. “Sebenarnya tidak harus benar pacaran.. Eng.. Bagaimana ya mengatakannya agar kedengarannya lebih sopan. Anu.. itu.." “Pacar kontrak?”   “Iyaps, kamu betul” Jari telunjuk Arsen mengarah tanpa aba-aba pada Freya.   “Ta-tapi kenapa?”   “Ceritanya panjang, Freya. Intinya sekarang Adrian butuh pasangan. Tidak harus yang sah, asal bisa menemani Adrian ke pesta saja. Itupun sekali saja kalau bisa”   Adrian tidak bisa berkata-kata. Secara tidak langsung, harga dirinya sedang diturunkan oleh sahabatnya sendiri didepan karyawannya. Adrian tidak memiliki celah untuk meluruskan apalagi untuk membela diri agar imagenya sebagai Ceo bisa kembali gemilang. “Aku Ceo yang tercoreng di mata karyawanku” Batin Adrian.   “A-aku rasa, pacar kontrak itu bisa. Ara juga tengah mencari pacar sekarang. Ah, maksudku, dia juga butuh seorang laki-laki. Tidak harus sah, asal ada saar Ara membutuhkannya”   “Maksud kamu?”   “Ini masalah pribadi Ara, aku tidak bisa ceritakan lebih detail padamu, Sen. Intinya, Ara juga sedang butuh seseorang sekarang, dan aku rasa Pak Adrian sangat pas untuk itu” Kata Freya sedikit melirik Adrian.   Freya tidak yakin akan pembicaraan mereka saat ini. Yang Freya tahu, bahwa Tuhan telah memberikan jalan keluar dari masalah yang sedang membuat sahabatnya itu dirundung galau berkepanjangan. Tidak banyak yang dia tahu perihal takdir atau sebuah kebetulan yang membuat sesuatu menjadi lebih mudah. Hanya saja, apa yang dia temui saat ini, seolah memberinya jawaban bahwa benar ada keadaan dimana kebetulan bukan sekedar kebetulan.   “Ah iya, maaf. Jadi ini deal kan?”   “Deal apa? Yang perlu kan Ara, bukan aku. Aku hanya mengatakan kalau Ara juga sedang butuh seseorang sekarang, bukannya aku bilang Ara pasti mau”   “Ah iya ya. Ya sudah, coba kamu tanya dulu”   “Kau minta persetujuan Ara, tapi tidak denganku?” Protes Adrian dengan merapatkan giginya. Rasanya bukan hanya harga dirinya yang direndahkan di depan karyawannya saat ini, tapi juga keberadaannya yang seolah tidak lagi dianggap.   “Ya karena kau kan harus mau. Sudah tidak ada jalan lagi”   “Tap..”   “Aku sudah berusaha mencari jalan keluar untuk masalahmu, jadi kau tidak usah tapi-tapian" Sanggah Arsen dengan tegas.   Freya hanya bisa menahan agar tawanya tidak lepas. Adrian, sosok ceo yang dingin dan berkharisma, rupanya menjadi laki-laki biasa yang lucu di depan sahabatnya. Image cool yang selama ini Adrian perlihatkan, runtuh seketika di depan Freya saat ini.   “A-aku mau tanya sesuatu”   Arsen yang sebelumnya menatap Adrian yang kesal, mengalihkan pandangannya mendengar Freya.   “Kenapa memilih Ara. Maksudku, kalau kamu bertanya dan mencari perempuan untuk Pak Adrian, aku yakin yang lebih dari Ara pun pasti ada”   “Lebih dari Ara memang ada, tapi yang cuek dan tidak peduli dengan siapa Adrian, kurasa tidak ada. Kalaupun ada, berarti kita harus cari ke pelosok”   “Cuek? Ara bukan orang yang cuek. Dia tipe orang yang periang dan ramah”   “Bukan-bukan” Arsen mengipas-ngipas tangannya, memberi tahu bahwa bukan seperti itu yang dia maksud. “Maksudku dia bukan seperti perempuan lain, yang kalau ketemu Adrian auto kalem, sok manis dan sebagainya untuk menarik perhatian Adrian”   “Oh, kalau tentang itu sudah jelas” Freya berbicara dengan santai. Gaya bahasa Arsen, membuatnya terbawa suasana hingga ia lupa mengenai dimana dia saat ini dan siapa oranglain selain Arsen yang duduk di depannya saat ini.   “Sudah jelas? Maksudmu? Ara tidak tertarik sama Adrian?”   “Bu-bukan begitu. Ara bukannya tidak tertarik sama Pak Adrian” Freya melirik sejenak ke arah Adrian yang sudah menunjukkan eskpresi pasrah. “Ara cuman terlalu cinta sama pacarnya sampai tidak peduli sama laki-laki lain”   “Wah.. sepertinya ada yang lebih keren dari kau” Dengan sedikit ledekan, Arsen tertawa kecil.   “Gak kok” Freya spontan menyanggah pernyataan Arsen dengan nada yang sedikit meninggi, membuat Arsen dan Adrian sedikit terkejut dan dengan serempak mengarahkan pandangannya pada Freya. Melihat pandangan kebingungan dan terkejut dari Arsen dan Adrian membuat Freya sadar, bahwa ia terlalu mencolok dalam menyanggah.   “Ma-maksud aku..”   “Ha ha ha ha..” Tawa Arsen pecah melihat Freya yang gugup dan kelayapan. “Sepertinya Adrian tetap yang paling keren ya di mata Freya..”   “Bu-bukan begitu..” Meski mengelak, namun pipi Freya yang sudah merona bak blush on yang berlebihan, membuatnya tidak lagi bisa menyembunyikannya.   “Ha ha ha.. Pesona Adrian mem..”   “Berhenti meledeknya Arsen” Tegur Adrian.   “Ha ha ha, maaf Freya..”   Freya hanya tersenyum canggung dengan rasa malu yang tak tertahankan.   “Aku jadi penasaran seperti apa mantan Ara, sampai Adrian yang tampannya bisa menjadi nominasi TC lander ini, tidak cukup bisa membuat Ara berpaling”   “Nanti, kalau Ara beneran setuju untuk ikut dalam hubungan kontrak itu, akan ada waktu pak Adrian melihat mantan Ara”.   Arsen masih mencari tahu beberapa hal mengenai Ara. Namun jelas, Ara yang tidak melihat Adrian sebagai laki-laki tampan seperti perempuan lainnya, memberinya satu poin yang membuat Arsen semakin yakin kalau Ara adalah orang yang tepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD