Arsen Abqari Renako, anak tunggal dari pemilik perusahaan ternama yang mengembangkan aplikasi media sosial dengan fitur dan tampilan yang lebih praktis. Ia begitu di kenal karena watak ramah dan sifat loyal yang dimilikinya. Arsen adalah orang yang sangat mudah bergaul, sehingga disetiap tempat yang sudah dia kunjungi, dia akan mendapatkan teman baru disana.
Tringg..
Ponsel yang dia letakkan diatas meja berdering dengan satu panggilan masuk. Membuat Arsen yang baru saja meluruskan punggungnya, harus beranjak untuk menjawab telfonnya.
“Hem? Kenapa?”
“Kau dimana?”
“Dikantor, kenapa?”
“Sibuk?”
“Tentu saja. Kau pikir aku ini siapa? Aku penerus Renako, jadi pastinya aku selalu sibuk”
“Yasudah.. Aku matikan tel..”
“Hey hey...” Cegah Arsen. Seseorang yang tengah berbicara dengannya melalui telfon, sepertinya bukan tipe orang yang sabaran. “Kenapa? Ada apa?”
“Tidak”
“Ck, kau ini.. Kenapa kau menelfon kalau tidak ada apa-apa siala..”
“Kau mengumpat??” Sela Adrian
“Tentu saja tidak, karena kau sudah menahanku, anak gorilla” Kecam Arsen kesal.
“Tetap saja, kau mengumpat barusan”
“Ya terserah katamu. Hem kenapa??”
“Kalau ada waktu, kau ke kantorku, sekarang..”
“Untuk apa?”
“Kau datang aja. Tapi kalau sibuk, ya tidak usah”
“Memangnya...” Belum Arsen menyelesaikan pertanyaannya, telfon sudah terputus. “Sialan..” Umpatnya.
Arsen bergegas mengambil jas yang sebelumya dia lepas ketika hendak meluruskan punggungnya pada sofa yang berada diruang kerjanya. Meski ia sering kali merasa kesal akan perlakuan Adrian, sahabatnya. Namun Arsen tetap saja menuruti, dan melakukan hal-hal yang Adrian inginkan darinya.
Adrian dan Arsen sudah berteman sedari kecil. Jarak rumah mereka yang tidak jauh, dan hubungan orangtua mereka yang sangat baik membuat hubungan Arsen dan Adrian sudah seperti saudara.
Berbeda dengan Arsen yang ramah, dan memiliki aura cerah karena periang, Adrian justru memiliki sifat yang bertolak belakang. Adrian orang yang sangat dingin, tidak banyak bicara dan selalu berpikir logis. Tentu saja sifatnya yang seperti itu bukan sifat bawaan dari kecil, karena pastinya dia tidak akan bisa bergaul dengan Arsen jika sifat dinginnya itu sudah dia miliki sedari kecil.
Adrian dulunya tidak berbeda jauh dengan Arsen. Dia anak yang periang dan mudah bergaul, namun beranjak dewasa dan mulai mengerti dengan kehidupan lingkungannya, perlahan ia berubah menjadi pria dewasa yang dingin.
Adrian adalah Ceo dari perusahaan yang bergerak pada bidang properti. Ya, perusahaan yang sekarang menaungi Ara. Dia menjadi Ceo yang berkelakuan seperti umumnya, Ceo yang tegas dan profesional dalam bekerja. Persis seperti watak Ceo yang sering ditampilkan dalam drama korea.
***
Arsen tiba di kantor Adrian, setelah menempuh perjalanan yang terbilang cukup jauh untuk kota yang sama. Tentunya Arsen menyapa semua karyawan yang dilewatinya, sikap ramahnya itu benar-benar memberikan kenyamanan bagi orang-orang disekitarnya. Arsen pun bukan lagi orang yang asing bagi orang yang bekerja di kantor milik Adrian, dikarenakan Arsen yang sudah teramat sering berkunjung.
Arsen melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan Adrian tanpa mengetuk pintu apalagi meminta izin.
“Hem kenapa?” Tanya Arsen to the point dan langsung mengambil posisi duduk pada sofa yang berada di ruang kerja milik Adrian.
“Kau sudah sampai?”
“Jelas.. Memangnya kau pikir, kau bicara dengan siapa sekarang” Jawab Arsen ketus.
Adrian beranjak dari kursinya.
“Ayo main, aku baru saja membeli playstation terbaru”
Arsen terperangah, apa yang baru saja dia dengar barusan? Dia jauh-jauh dari kantornya dan meninggalkan pekerjaannya disana hanya untuk menemani temannya bermain playstation. Dan lagi, bukankah jenis game itu masuk dalam kategori game lama jika dibandingkan dengan game yang ada sekarang.
“Kau memanggilku ke kantormu cuman untuk bermain playstation?”
Adrian berbalik menatap Arsen, dan hanya mengangguk dengan ekspresi datarnya. “Lalu kau kira apa?”
“Aku yang sibuk ini, datang jauh-jauh kesini cuman untuk bermain game?”
“Kan sudah kukatakan, kau tidak perlu datang kalau kau sibuk, tapi kau yang datang sendiri. Dan berhenti mengatakan kalau kau dari jauh. Kau kedengaran seperti orang yang datang dari luar kota"
Meski rasa kesal tidak bisa Arsen pungkiri, namun tetap saja beranjak dan mengambil posisi duduk disamping Adrian, siap menunjukkan skill bermainnya pada Adrian.
Keduanya mulai asyik memainkan game, meski sebelumnya Arsen terus-terusan menggerutu.
“Rian, Kau harus mencari pasangan, agar kau tidak kesepian seperti sekarang” Kata Arsen membuka obrolan, dengan pandangannya yang tidak lepas dari layar playstation
“Memangnya kau cari perempuan hanya untuk menghilangkan rasa sepi” Jawab Adrian dengan jari-jari yang sibuk memainkan stik game.
“Ya setidaknya kau bisa keluar bersama pasanganmu saat kau sedang bosan, bukannya mengajakku bermain game seperti ini. Dan lagi, apa kau tidak bosan jomblo terus? Apa kau tidak berminat mencari pasangan?"
Adrian hanya terdiam mendengarkan ocehan Arsen. Tidak satu atau dua kali dia mendengar ocehan yang sama dari Arsen perihal pasangan, telinganya sudah resisten mendengar itu.
“Kau tidak bosan sendiri? Orang seumuranmu sudah banyak yang menikah. Sedang kau? Pacaran pun tidak pernah"
“Aku tidak mau pacaran dengan orang mengenaliku. Semua perempuan yang mendekatiku sama saja, semuanya mengincar uang, dan hanya untuk jadi ajang pamer ke teman-temannya. Aku akan pacaran dengan perempuan yang tidak melihat hal seperti itu dariku” Jelas Adrian.
Arsen mengalihkan pandangannya, dan menatap Adrian sejenak. Entah sudah berapa kali dia berceramah perihal pasangan pada Adrian, dan ini adalah kali pertama Adrian menanggapi. Seperti sebuah kemajuan dalam Adrian meresponnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau menyukaiku? Berminat menjadi pacar pertamaku?"
Ekspresi terkejut yang sebelumnya Arsen perlihatkan setelah mendengar jawaban Adrian, seketika berubah. Apa yang baru saja Adrian katakan, terdengar begitu sangat menjijikkan ditelinganya sampai membuat bulu kuduknya merinding.
"Aku makin yakin, kalau kau harus segera mendapatkan perempuan. Kewarasanmu sudah diambang batas"
Adrian hanya tersenyum dan menyunggingkan bibir atasnya. Tangannya tidak lepas dari stik game, juga pandangannya yang tidak lepas dari layar playstation.
"Aku merasa seperti tengah terperangkap dengan kepribadianmu"
"Terperangkap? Kepribadianku?"
"Iya, aku seperti harus selalu menyiapkan waktu bersamamu"
"Aku kan tidak minta.."
"Iya, kau tidak minta. Tapi aku yang punya hati nuraini seluas samudera ini tidak akan sanggup membiarkanmu seperti whalien 52 yang kesepian di lautan"
"Aku tidak pernah merasa kesepian"
"Oh ya? Lalu kenapa kau memanggilku?"
Adrian mengalihkan pandangannya dari layar, menghentikan sejenak aktifitas yang menyibukkan jari-jarinya pada stik game. Ia menatap lekat ke arah Arsen, membuat pandangan Arsen yang menerima pandangan dari Adrian yang serius nan teduh, menjadi sedikit kikuk.
"A-apa?? Ke-kenapa kau melihatku sepertiku itu?"
"Sen, sepertinya kau benar"
"Be-benar apa?"
"Aku kesepian dan hanya kau yang selalu ada untuk menemaniku. Jadi, bagaimana kalau kau saja yang menjadi pacar pertamaku?"
Arsen tersentak, hingga ia mundur dan mengatur jarak dari Adrian.
"Kau bicara apa? Serius, kau membuatku merinding.."
Adrian tertawa kecil dengan bibir sebelah bibir bagian atasnya menyungging memperlihatkan beberapa deretan giginya yang rapi.
"Sudahlah, aku mau pulang. Aku bisa saja ketularan tidak waras kalau terus-terusan tinggal disini"
"Lah, kukira kau mau menemaniku yang kesepian ini"
"Sembarangan kau" Kata Arsen sembari melemparkan jas milik Adrian tepat di wajah Adrian.
Arsen melangkah keluar dari ruangan Adrian, meinggalkan Adrian yang masih duduk sembari memegangi stik game.
Pandangan Adrian mengantar Arsen hingga keluar dari ruangannya. Hingga Arsen tidak lagi tertangkap oleh pandangannya, Adrian menunduk dalam.
Dalam dunia kita, mendapatkan cinta yang sebenarnya itu adalah hal yang sulit. Semua hubungan yang kita miliki, selalu bermain dengan keuntungan timbal balik yang akan dimiliki dari dua belah pihak. Tidak akan mudah bertemu dengan perempuan yang benar-benar mencintai gue tanpa melihat status sosial yang gue miliki. Meski begitu, gue tetap berharap bahwa perempuan seperti itu benar ada.