2 Tahun yang lalu
Matahari yang sebelumnya dengan sangar menampakkan sinarnya sembari bertengger dengan sombong diatas langit, kini perlahan mulai mengarah pada ufuk timur untuk kembali ke peradabannya, dan memberikan warna jingga sebagai ucapan perpisahan untuk hari ini. Tentu saja dia akan kembali lagi besok, jika tak ada awan hitam yang menggantikannya untuk menumpahkan hujan.
Waktu yang menunjukkan jam pulang kerja itu, membuat suasana jalan raya di kota Mamuju sangat padat. Semua insan yang lelah bekerja hari ini pastinya sangat menginginkan cepat tiba dirumah, sehingga ketika jam kerja dinyatakan selesai, mereka bergegas pulang dan akhirnya memenuhi jalan dengan kendaraan mereka.
Tidak beda jauh dengan pekerja lainnya, Dilara Sofea yang kerap dipanggil Ara, juga menginginkan hal yang sama. Rasa lelah setelah seharian bekerja jelas membuatnya ingin segera meluruskan punggung pada kasur empuk miliknya. Dengan tenaga yang hampir habis, Ara mengusahakan langkahnya tetap bertapak agar bisa tiba dirumahnya sore ini.
Ara adalah seorang perempuan berumur 23 tahun yang sekarang bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang properti. Sebagai lulusan arsitek, jelas pekerjaan yang Ara geluti saat ini sangat sesuai dengan kemampuannya.
Ara bekerja sebagai konsultan arsitek, dimana dia berada pada divisi yang mengharuskannya menjadi seorang yang kreatif dan imajinatif. Ara dituntut untuk bisa berkreasi dalam mendesain suatu bangunan, hingga kemampuan untuk menyulap bangunan lusuh menjadi lebih menarik agar bisa diminati oleh orang-orang. Jelas saja, pekerjaan yang tidak mudah itu menguras hampir semua tenaga yang dia miliki setiap harinya. Dimana dia harus berpikir keras dalam menghasilkan suatu desain yang baru hingga turun ke lapangan langsung untuk melihat kondisi bangunan yang akan di sulapnya.
Ara yang sekarang sudah hidup lebih baik. Sebelumnya, Ara tinggal bersama pamannya, dikarenakan dia yang sudah menjadi yatim piatu di usianya yang sangat belia. Ayah dan Ibunya mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa, sehingga Ara kecil harus melalui hidup tanpa orangtua. Adik dari Ayahnya, sudah merawatnya hingga besar. Semua biaya hidup dan sekolah ditanggung, membuat Ara menyebut pamannya itu sebagai ‘Anpaman’nya.
Ara yang telah lulus SMA waktu itu, memutuskan untuk hidup sendiri setelah mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi. Hana tidak ingin lagi menyusahkan pamannya, terlebih setelah pamannya akan menikah. Bagi Ara, cukup hingga SMA saja dia bergantung pada pamannya, pamannya yang akan berkeluarga itu harusnya fokus pada tanggung jawabnya yang baru saat ini.
Tentu saja, Ara harus bekerja sampingan sembari kuliah agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Segala kerja part time sudah ia lakukan demi bisa berpenghasilan. Meski pamannya masih sering memberinya uang saku, namun Ara tidak ingin paman yang sudah menjadi pengganti orangtuanya itu mengalami sesuatu yang tidak baik dengan keluarganya, jika pamannya terus-terus mengeluarkan uang untuk dirinya, mengingat pamannya saat ini sudah memiliki tanggun jawab pada keluarganya.
Berselang empat tahun di dunia perkuliahan, Ara akhirnya lulus dengan nilai yang terbilang bagus sehingga membuatnya bisa bekerja pada perusahaan besar tempatnya bernaung saat ini. Penghasilan yang dia miliki, sudah bisa memberinya tempat tinggal sendiri. Meski penghasilannya bisa dikategorikan cukup besar, namun Ara tetap hidup sederhana. Ara bahkan tidak memiliki kendaraan pribadi, kantor tempatnya bekerja tidaklah jauh dari rumahnya, membuatnya hanya perlu berjalan saja untuk tiba disana. Ara memiliki mimpi pensiun dari pekerjaan di usia muda, sehingga ia menabung dengan giat agar bisa menghidupi diri saat pensiun nanti. Dia ingin menikmati hidupnya lebih baik di kemudian hari.
****
“Ara..” Panggilan seseorang membuat Ara yang berjalan dengan lemas, terhenti sejenak dan mengarahkan pandangannnya pada sumber suara.
“Laura” Gumam Ara, mengenali seseorang yang memanggilnya.
Seorang perempuan yang dia kenali bernama Laura itu, berlari kecil menghampirinya. Meski jarak rumah Ara dan Laura tidak begitu dekat, namun itu masih bisa dikategorikan sebagai tetangga, sehingga sering kali Laura menggoda Ara dengan panggilan ‘tetangga kecilku’. Sebuah panggilan yang mengisyaratkan bahwa rumah mereka masih terjangkau untuk disebut sebagai tetangga sekaligus mendeskripsikan tubuh Ara yang terbilang kecil.
“Kenapa wajahmu lemas seperti itu?” Tanya Laura, diiringi dengan perubahan ekspresinya.
“Memangnya wajahku biasanya seperti apa? Bukannya setiap pulang kerja wajahku memang seperti ini?” Kata Ara yang menjawab pertanyaan Laura dengan pertanyaan juga.
“Ya tidak, kupikir karena hari ini kamu mau jalan, jadi ya setidaknya wajah memelasmu itu bisa sedikit terkondisikan”
“Mau jalan kemana, Laura? Tenagaku sudah hampir habis, yang aku gunakan sekarang adalah tenaga cadangan yang sekarang pun sudah sangat krisis” Keluh Ara.
Laura berbalik, menatap Ara yang jalan beriringan dengannya kemudian kembali melayangkan pandangan pada jalan yang sudah tidak asing lagi bagi mereka berdua.
“Apa Revano bermaksud untuk memberi Ara kejutan?” Gumam Laura kembali melirik Ara.
Revano adalah laki-laki yang diketahui Laura, sedang menjalin asmara dengan Ara. Hubungan sahabatnya bersama Revano sudah berjalan dua tahun, dan Laura tahu betul bagaiaman Ara sangat mencintai Revano. Dari apa yang Laura lihat, dari cara Revano memperhatikan Ara dari telfon, Revano yang sering mengirimi Ara paket makan malam jika tidak sempat keluar makan bersama, dan Revano yang siap siaga ketika Ara memanggil, membuat Laura sangat yakin bahwa Revano pun sangat mencintai Ara.
“Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Ara yang menyadari bahwa sahabat perempuannya itu tengah meliriknya dan bertingkah tidak seperti biasanya.
“Aku pikir, kamu ada janji dengan Revano hari ini?” Meski sebelumnya Laura sedikit ragu-ragu untuk menanyakan perihal apa yang ada dalam kepalanya saat ini, namun akhirnya dia tetap menanyakannya.
“Kenapa kamu berpikiran begitu?” Tanya Ara yang menangkap bahwa Laura sedang mengetahui sesuatu saat ini.
“Aku tidak tahu, apa hal seperti ini bisa aku bilang sama kamu”
“Bicara langsung intinya saja, Laura. Kamu membuatku penasaran sekarang”
“Sepertinya aku harus meminta maaf pada Revano setelah ini” Kata Laura menghembuskan nafas. “Mungkin saja Revano sedang menyiapkan sesuatu untukmu hari ini, seperti surprise misalnya”
Dahi mulus milik Ara yang terpampang tanpa poni, berkerut. Ara tidak cukup mengerti dengan apa yang dikatakan Laura.
“Siang tadi, aku melihat Revano datang ke toko bungaku dan membeli satu buket bunga mawar. Aku kira dia sudah mengatur janji sama kamu dan akan memberimu surprise hari ini”
Ara tediam sejenak, berusaha memahami apa yang baru saja Laura katakan.
“Benarkah? Revano mau memberiku surprise?” Gumam Ara tak yakin.
“Kamu yakin kalau itu Revano?” Tanya Ara memastikan. Ya, meski Laura adalah sahabatnya, namun terhitung hanya beberapa kali Laura melihat Revano secara langsung. Membuat Ara harus benar-benar memastikan bahwa yang dilihat oleh Laura itu, benar adalah Revano.
“Ck, jangan hanya karena aku cuman melihat Revano beberapa kali saja, lantas kamu sampai meragukan ingatanku” Gerutu Laura sedikit kesal, melihat Ara yang meragukannya.
Wajah lusuh yang sedari tadi Ara perlihatkan, seketika berubah. Apa yang baru saja dia dengar dari Laura barusan, memberinya cukup tenaga untuk mengubah ekspresi lusuhnya, juga memberikan tenaga pada kakinya sehingga bisa berjalan lebih semangat.
Ara yang sedari tadi berjalan dengan lunglai, kini berjalan mantap dan tegas dengan langkah yang lebih cepat.
“Hey, tunggu..” Laura berusaha mengejar keterlambatannya. “Kamu kenapa tiba-tba berjalan dengan cepat, sih?”
Ara berbalik dan menatap Laura dengan mata yang berbinar-binar. “Bukannya aku harus cepat sampai dirumah dan siap-siap ya?”
Laura hanya menatap Ara bingung, yang kemudian tertawa kecil setelah mengerti dengan apa yang Ara maksud.