Untuk Pertama Kalinya Aku Menatapmu 3
***
‘’Rasti selamat ya atas kelahiran anak sedua kamu, dia sama tampannya dengan anak pertamamu’’
‘’iya terimakasih Mita, kapan kamu mau nyusul aku’’
‘’aku sama mas Rudy masih merencanakannya, kami enggak mau terburu buru’’
‘’itu bagus, tapi lebih cepat lebih baik, kamu enggak mau ada tangisan anak kecil di rumah kamu’’lanjut sang suami.
‘’iya pak Dokter Wawan kami akan segera menyusul kalian’’
Tawa mereka terdengar sangat bahagia ketika kedua keluarga ini yang sudah sangat akrab, mereka seperti keluarga besar saling memahami.
***
Pagi ini liburan pertamaku yang sangat melelahkan, ini seperti bukan liburan, aku terlalu sibuk dengan urusan sekolah yang membuat liburanku bukan seperti liburan.
‘’Nda jangan terlalu sibuk, kamu juga harus jaga kesehatan’’
‘’iya’’
Kalimat laki laki itu membuatku merasa aman dan nyaman berada disampingnya, aku tidak ingin jauh darinya walau hanya sebentar saja.
‘’Ka gimana kuliah kamu?’’
‘’baik’’
‘’kamu enggak banyak tugas?ujian kamu gimana?nilai kamu?’’
‘’Nanda, tugasku banyak tapi enggak sebanyak kamu, ujianku berjalan lancar, dan nilaiku tetap yang terbaik’’
‘’benarkah’’
Aku menghentikan aktivitasku saat mendengar kalimat yang terucap dari mulut kekasihku. Melihatnya yang mengangguk tanda setuju.
‘’tentu saja’’
‘’kalau begitu traktir aku’’
Aku menatap wajahnya seakan aku memohon sesuatu darinya.
‘’hmmm…kamu mau apa?’’
Aku melirik matanya seakan dia mengerti apa yang aku inginkan.
‘’baiklah ayo kita berangkat’’
Aku membereskan pekerjaanku dan merapikannya, aku juga mengganti pakaianku.
‘’ma aku mau jalan jalan dulu ya sama Raka’’
‘’iya hati hati sayang’’
Teriak wanita paruh baya itu membuat senyumku tampak jelas.
‘’tante saya pergi dulu ya’’
‘’iya hati hati Raka, jagain Nanda’’
‘’siap tante’’
Raka melajukan mobil putihnya menuju temapt tujuan kami berdua, wajahku masih tergambar senyum kesenangan.
‘’tuhan, jangan ambil dia dariku’’
Kami sampai disebuah kafe dikawasan Jakarta, Raka memarkirkan mobilnya, kami berdua turun dan duduk di meja yang sudah disediakan.
‘’aku pesan dulu kamu tunggu sini’’
‘hu um’’
Beberapa menit kemudian pesanan kami datang, sebuah roti bakar dengan topping keju dan almond ditambah ice cream vanilla menambah kelezatan hidangan ini tidak lupa Raka juga memesan satu porsi roti bakar dengan topping chocolate dan almond ditemani juz melon kesukaanku dan juz mangga kesukaan Raka sudah terhidang dimeja kami.
‘’kamu tau apa yang aku suka’’
‘’iya dong, aku udah tau kamu sayang’’
Kami menyantap hidangan ini dengan lahap, dari dulu aku sudah sangat menyukai roti bakar di kafe ini dengan topping keju dan almond dengan vanilla ice cream diatasnya tidak lupa dengan juz melon.
‘’kamu mau apa lagi’’
‘’hmmm…kita keliling Jakarta yuk’’
‘’ayo’’
Perjalanan yang menyenangkan, didalam mobil kami saling bertukar cerita tak jarang kami tertawa karena cerita kami berdua.
‘’Raka udah malem, kita pulang yuk, papa pasti nyariin’’
‘’iya, kita pulang sekarang’’
Kini mobil ini melaju menuju rumahku, ingin rasanya aku seperti ini selamanya.
‘’makasih ya’’ucapnya saat mobil ini sudah benar benar berhenti.
‘’aku yang makasih, kamu udah traktir aku trus ajakin aku keliling Jakarta’’
‘’Love you’’
Aku tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulut mungilnya disusu senyuman manis yang membuat siapa saja akan terpukau.
‘’Love you to’’
Kalimat terakhirku mengakhiri malam ini, aku sangat bahagia bisa memilikinya.
***
‘’Mita selamat ya, akhirnya kamu nyusul kita juga’’
‘’iya Ras, aku bersyukur bisa ngelahirin bayi cantik ini’’
‘’dia cantik, matanya seperti Rudy dan bibirnya seperti kamu’’
‘’terimakasih’’
‘’terimakasih Wan atas bantuannya’’
‘’iya Rud aku ngelakuin semampuku’’
Sungguh bahagia kedua keluarga ini, bisa memiliki buah hati yang mereka idamkan.
‘’tante anak tante cantik, aku boleh enggak nikah sama dia’’kalimat anak kecil yang masih berumur 2 tahun itu memecahkan tawa kami semua.
‘’adik harus rajin belajar biar bisa nikah sama anak tante Mita’’
‘’iya ma, adik akan belajar dengan giat, iyakan kak’’
‘’iya, kakak akan dukung kamu’’
Sang kakak dari anak kecil itu juga mendukung keinginan adik kecilnya yang sama sama tidak mengerti apa apa.
***
Hari ini aku harus berangkat lebih pagi karena akan diadakan upacara rutin setiap hari senin, aku tidak mau terlambat dan membuatku tidak boleh masuk.
‘’Huh lama banget sih upacaranya?’’
‘’Lis sabar aja ntar juga selesai’’
‘’tapi udah mau patah ni kaki berdiri terus’’
Aku terkekeh mendengar jawabannya yang begitu tidak masuk akal.
Upacara bendera selesai dan berjalan lancar selama 34 menit, walaupun melelahkan inilah tugas anak bangsa untuk mengingat jasa para pahlawan yang sudah mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan Negara tercinta.
‘’eh Nda kok aku enggak keliatan kakak ganteng ya?’’
‘’pindah sekolah kali Na’’
‘’ih, kamu ngaco deh, dia itu udah kelas 3 mana mungkin dia pindah sekolah, lagian aku enggak mau dia sampe pindah sekolah’’
‘’terserah deh’’
Pelajaran berjalan lancar walaupun beberapa murid merasa kesusahan dengan ulangan mendadak yang diadakan guru matematika.
‘’duh pak Joko kok pake acara ulangan dadakan segala sih’’
‘’yaelah, kamu kan udah tau pak Joko suka ngadain ulangan dadakan, pake acara enggak belajar segala lagi’’
‘’kesel, pake dibedain lagi soalnya, kan aku jadi enggak bisa nyontek kekamu’’
‘’Nana kamu harus belajar mandiri, gimana kalo ujian’’
‘’ujian masih lama kali Nda’’
‘’huh….iya deh’’
‘’duh pasti jelek deh nilai aku’’
‘’udah pasrah aja deh’’
Kami berjalan menuju kantin untuk mengisi kekosongan perut kami dan mengistirahatkan otak kami sesudah berfikir keras.
‘’Nda kamu mau makan apa?’’
‘’hmmm…bakso sama es jeruk aja deh’’
‘’bentar ya, biar aku aja yang pesenin’’
‘’oke, makasih ya’’
Aku melihat sekeliling kantin dan melihat temanku yang saling bertukar cerita kepada teman mereka yang lain, sambil menyantap makanan mereka. Pemandangan seperti ini sudah menjadi pemandangan yang biasa menurutku.
‘’heh, kemarin urusan kita masih belum selesai’’
Seseorang ini mengejutkanku, membuyarkan lamunanku.