“Greg! Gimana hasilnya?!” tanya Danang sambil mengepulkan asap rokoknya.
Greg yang nampak lelah melemparkan dirinya ke sofa. “Belum ada jawaban, Bang!”
Danang kembali mengisap dan mengepulkan asap rokoknya. “Terakhir. Beri dia waktu tiga hari untuk memutuskan. Kalau masih belum ada jawaban… gorok kepalanya!” pungkasnya sambil menggerakkan jari jempolnya melintasi leher.
“Siap, Bang!”
Greg langsung menelpon ayah saat itu juga. Namun tak diangkat. Akhirnya ia mengirim pesan melalui w******p. Tak lama kemudian, ayah menjawab. “Dua hari juga cukup!”
Greg menyampaikan apa yang ayah sampaikan kepadanya. Setelah itu Danang, Dinar dan Dadang pun bergegas pergi meninggalkan rumah Greg.
“Kita tunggu keputusannya!” pungkas Danang sambil mematikan rokok dengan cara menempelkan puntung di lidahnya.
Mereka pergi menggunakan mobil yang tak jelas segalanya. Dilihat dari luar, mobil tersebut seperti travel. Tapi dari dalam, terdapat banyak senjata tajam dan seperangkat komputer, lengkap bersama partisi-partisi pendukungnya.
Dadang duduk di depan sebagai pengendara mobil, Danang duduk di sampingnya. Sedangkan Dinar duduk di belakang, di depan komputer.
***
Tak jauh dari Cibinong, di pusat kota, di sebuah apartemen mencakar langit. Halim tinggal di sana, di lantai llima belas. Halim adalah teman lama ayah yang sangat mahir dengan urusan teknologi. Jika orang awam melihatnya, ia seperti tak punya kerjaan. Tapi penghasilannya cukup banyak. Ia tak pernah ke luar apartemen. Untuk kebutuhan makannya, ia memesan makanan secara online. Sedangkan untuk mencuci, ia menelpon tukang laundry. Pokoknya ia tak pernah ke luar apartemen. Mungkin hanya ada satu hal yang bisa menyebabkannya ke luar apartemn. Yaitu, gempa bumi.
Halim berkulit putih pucat karena kekurangan sinar matahari. Matanya sipit seperti orang China, sedangkan kaca matanya berbentuk persegi panjang. Rambutnya panjang, gimbal tak terurus. Mungkin karena ia tak bisa memanggil tukang cukur online, jadi rambutnya gak pernah dicukur. Pola tidurnya, hampir sama seperti ayah. Ia tidur dua belas jam, dari jam tujuh pagi hingga jam tujuh malam. Kecuali kalau pekerjaannya sedang banyak, ia bisa tak tidur seharian penuh.
Saat itu, tepat setelah ayah menerima pesan dari Greg untuk segera memutuskan pilihannya, ia pergi menemui Halim. Ya, karena ia datang siang hari, Halim tengah tertidur. Tapi untungnya, pintu apartemen itu tidak dikunci. Hanya saja, memasuki kamar terdapat mesin sensor dalam bentuk menyerupai burung. Mesin itu menyensor semua bagian tubuh ayah, terutama pada bagian wajah. Jika sensor itu mendeteksi orang yang tidak dikenalinya maka alarm akan menyala dan otomatis Halim bangun dari tidurnya. Tapi, jika sensor itu mendeteksi orang yang sudah dikenalnya maka ia akan membiarkan pendatang lewat begitu saja.
Mesin sensor itu hanya akan diaktifkan ketika Halim tertidur. Karena jika ia tidak tertidur, Halim bisa menangani bahaya yang datang dengan sendirinya.
“Selesai! Anda adalah saudara!” ucap mesin sensor tersebut.
Ayah pun memasuki kamar Halim. Kemudia ia membangunkannya.
“Lim! Bangun!” ucap ayah sambil menepuk badannya.
Halim belum juga bangun. Ia terlelap dalam tidurnya. Ia mendengkur dengan sangat keras. Ayah melanjutkan usaha selanjutnya dengan mencipratkan air ke wajahnya. Tapi ia belum juga bangun. Akhirnya ia menyemburkannya kepada wajahnya.
“Byurr!!”
Halim bangkit dari tidurnya. Namun matanya masih terpejam. Hanya tahan beberapa detik, setelah itu ia tidur kembali.
“Lim! Lim! Dasar kebo!” ketus ayah.
Akhirnya ia terdiam dan memikirkan cara yang terbaik. Ia memandang seluruh benda yang ada di kamar, mencari peluang terbaik yang bisa didapatkan.
Ayah tersenyum. Sepertinya, ayah mendapatkan sesuatu yang luar biasa.
Ia menggunakan penutup kepala terlebih dahulu, lalu mengambil sensor burung kemudian menodongkan pisau kepadanya. Sensor tersebut lalu membunyikan alarmnya yang sangat memecah telinga.
Halim kelimpungan, badannya terbangun, matanya yang sipit langsung terbuka lebar. Ia langsung memasang kuda-kuda untuk bertarung. “Siapa, lu, g****k!” gertaknya kepada ayah yang masih menggunakan penutup kepala.
Ayah hanya diam tak menjawab.
“Jawab! Atau gua bunuh, lu sekarang juga!”
Ayah tertawa terbahak-bahak, kemudian melepaskan penutup kepalanya.
Kemudian Halim tercengang. Tenyata yang berada di hadapannya adalah sahabatnya sejak kecil.
“g****k, Lu, Fer! Ngagetin gua aja!” ucap Halim semabil mengadu tinju bersama ayah.
“Bukan gua yang ngagetin. Tuh robot burung, lu!”
Halim mematikan alarm yang berada pada sensor.
“Ada apa, Fer?!”
“Gini, Lim…!” ayah mulai menjelaskan maksud kedatangannya kepada Halim. Tapi Halim malah terkantuk-kantuk, tak mendengarkan apa yang diutarakan ayah.
Ayah pun menamparnya. Halim meresponnya dengan refleks. “g****k!!!”
“Cuci muka, dulu!” sahut ayah.
Halim pun menuruti apa yang diperintahkan ayah. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan muka malas. Setelah itu ia kembali duduk di dekat ayah untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan ayah.