Kemudian, Maria menjulurkan tangannya untuk persetujuan.
Ayah pun menyambarnya dengan cepat. Walaupun jabatannya cukup lama.
“Oke! Kita mulai balapannya, Bro! Semuanya siap-siap! Termasuk kalia para petaruh! Tentukan taruhan anda sekarang. Karena sesuatu yang tidak engkau taruhkan tidak akan pernah kau dapatkan! Yo!” Wasit malam ini agak sedikit aktif dari malam sebelumnya.
Sebelum menghitung, ia memutar-mutar terlebih dahulu benderanya. Seperti cherleader dalam permainan bola basket. Barulah setelah itu memulai hitungannya.
“Satu! Dua! Tiga!” semua orang serempak menghitungnya.
Kedua motor sudah mulai menarik gasnya.
“Empat! Lima! Enam!” para joki menatap lurus ke jalanan.
“Tujuh! Delapan! Sembilan!” rem tangan sudah siap-siap dilepaskan.
“Sepuluh!” Wasit melepaskan benderanya. Para pembalap melepaskan rem dan menarik gas hingga hingga penuh.
Jarum penanda kilometer terus bertambah. Dari mulai empat puluh, enam puluh, bahkan hingga seratus lebih. Seperti biasa, Maria berada di belakang lawannya. Ayah memimpin di depan dengan kecepatan maksimal. Perbedaan di antara mereka cukup jauh. Mungkin sekitar tujuh meter. Kedua pembalap nampak sangat serius. Perseneling mereka mainkan, begitu pun juga dengan gas.
Semua penonton jantungnya berdebar. Apalagi para petaruh. Beberapa di antara mereka mengira bahwa Maria sengaja berada di belakang, seperti pertandingan selanjutnya. Dan setelah mendekati garis finish ia akan merebut posisi lawan. Begitu pun dengan Lela, ia kembali bertaruh mempertaruhkan dirinya sendiri. Sebegitu yakinnya Lela bahwa Maria akan memenangkan pertandingan. Akan tetapi, sekarang Lela cukup gemetar, karena perbandingan jarak antara Maria dan ayah sangatlah jauh. Hampir sepuluh meter. Apa mungkin Maria bisa menyusul secara sekaligus dalam jarak seperti itu? Apa mungkin Maria sedang benar-benar berada dalam posisi tertekan?
“Haduh! Gimana, nih kalau Maria kalah?! Gua mau diapain sama bapak-bapak gila itu?” bisik Lela kepada dirinya sendiri.
Tujuh meter lagi ayah mencapai garis finish. Sedangkan Maria masih tujuh belas meter di belakang garis finish. Kemenangan sudah di depan mata ayah. Akan tetapi, yang dilakukan ayah sangat mengejutkan semua orang. Ia malah menarik kedua rem sekencang-kencangnya. Ban motornya memberi bekas hitam di jalanan. Ban depan motor ayah berhenti tepat lima centimeter dari garis finish. Apa yang ayah lakukan? Apa ia tak ingin menang? Apa ia akan merelakan motor kesayangnnya yang selau ia rawat diberikkan kepada orang lain?
Setelah itu, ayah hanya diam di atas motornya. Tak lama kemudian Maria menyusulnya dan melewati garis finish. Semua penonton tercengang keheranan. Akan tetapi bagi beberapa petaruh yang memilih Maria (seperti Lela) bersorak gembira. Dan sebaliknya, petaruh yang memilih ayah berkeluh kecewa.
Setelah motor Maria berhenti, ia langsung berlari menghampiri ayah yang masih duduk di atas motornya di belakang garis finsih.
“Maksudnya apa?!” tanya Maria yang terlihat marah. “Ngeremehin, ya?!”
Dengan tenang, ayah beranjak dari motornya. Kemudian ia tersenyum kepada Maria.
“Kenapa?! Apa yang lucu?!”
Senyum ayah malah semakin lebar. “Kamu ingat apa taruhannya?”
“Apa? Motor? Motor itu gak berharga kalau begini cara dapetinnya!”
“Ya. Tapi bukan itu maksudnya.”
“Terus apa?!”
“Alamat sama nomor HP.”
Maria terdiam.
“Kalo barusan aku menang. Aku gak bisa dapetin nomor HP sama alamat rumahnya.”
Air muka Maria berubah dengan cepat. Dari yang tadinya marah-marah, menjadi merah-merah.
Ayah tertawa kecil. “Gampang banget, ya. Gampang marah-marah sama gampang merah-merah kayak gitu!”
Maria semakin terispu malu. “Hehe…”
“Lagian, serius amat, sih balapannya!”
“Iya, iya, maaf, deh!”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang berteriak, menghampiri mereka berdua. Dan ternyata, orang tersebut adalah Lela. Ketika ia sampai di hadapan mereka berdua, ia memamerkan uang senilai delapan ratus ribu rupiah.
“Untung, lu menang, Ya! Kalo lu kalah, bisa sampai di sini gua perawan!” ucapnya sambil ngos-ngosan.
“Gila, Lu! Emang lu taruhan pake diri sendiri lagi?!” tanya Maria.
“Iya! Abisnya gua lagi gak punya duit banget, sih!”
“Nekat banget, sih, Lu!”
“Biarin, lah! Sekarang gua juga udah gak terlalu peduli kalo gua perawan atau nggak!”
“Hemmm! Pasti gara-gara frustasi diputusin sama si Rei, kan?!”
“Emang, g****k banget, sih, dia!” sahut Lela sangat ketus. “Udahlah! Gak usah bahas-bahas dia!” pungkasnya.
“Kafe, Yu!” ucap ayah kepada Maria.
“Boleh…” sahutnya sambil tersenyum. “Gua. Ehh, aku ambil dulu motor, ya!” lanjutnya gelagapan.
“Jadi gua gak diajak, nih?” tanya Lela.
“Apa pentingnya ngajakin, Lu?!” sahut ayah.
“Yaelah! Gua yang bayar, lah!!!”
“Oke!”
“Giliran mau dibayarin aja…”
“Tapi, lu duduknya harus pisah meja, ya!” canda Maria.
“Ya! Ya! Gua ntar mau cari cowok di sana!” ketus Lela.
Setelah semua siap, mereka pun bergegas pergi ke sebuah kafe yang cukup terkenal di Bogor. Maria dibonceng ayah mengendarai NMAX. Sedangkan motor Maria, Lela yang bawa.
Kafe yang dituju tak terlalu jauh dari tempat balap liar tersebut. Hanya tinggal bergerak menuju timur ke arah pusat kota, kafe tersebut sudah bisa ditemui. Kafe tersebut bernama Kafe Outside. Entah kenapda dinamakan seperti itu. Mungkin, karena memang kafenya berada di luar ruangan., tanpa adanya atap. Kafe tersebut sangat sempurna. Selain dari menu-menunya yang sangat enak, tempatnya pun sangat nyaman. Di area kafe tersebut banyak tumbuh pohon-pohon jati. Kursi dan meja nya pun terbuat dari pohon jati. Penerangan sangat redup dan tenang. Tak ada lampu berwarna putih yang terlalu terang. Yang ada hanyalah lampu bohlam kuning- remang-remang. Benar-benar suasana yang romantis.
Lagu-lagu minor terdengar dari setiap speaker yang ditempelkan di beberapa batang pohon jati. Belum lagi dengan pelayan dan baristanya yang selain cantik dan ganteng mereka juga begitu ramah melayani para pengunjung. Hanya saja, kekurangan dari kafe tersebut hanya satu. Yaitu tidak bisa melayani ketika hujan turun.
“Silakan dilihat menunya…” ucap pelayan dengan ramah kepada ayah.
Pelayan itu adalah laki-laki berkaca mata bulat. Rambutnya lurus berponi, berwarna oren kemerah-merahan. Tingginya sekitar 170 cm. Secara keseluruhan, gaya-gayanya hampir mirip kebanyakan artis Drama Korea. Ya! Mungkin di salah satu penggemarnya. Atau mungkin, dia adalah orang Korea.
Melihat pelayan yang seperti itu, pandangan Lela langsung terpaku kepadanya. Karena kebetulan, Lela juga sangat menggemari Drama Korea. Jadi tak aneh kalau tipe laki-lakinya adalah laki-laki yang mirip artis Korea.
“Mokacino dua, A!” ucap ayah setelah bertanya kepada Maria.
“La! Kamu pesen apa?” tanya Maria.
Lela diam, masih menatap si pelayan.
“Woy! Melamun!”
Lela pun tersadar setelah mendengar teriakkan Maria. “Lela, A!”
“Lela?!” tanya si pelayan keheranan.
“Iya! Nama saya Lela. Lela Asti Jamilah!”
Sontak mereka tertawa terbehak-bahak mendengar jawaban Lela.
“Makannya jangan melamun!” ucap Maria sambil mendorong kepala Lela.
“Apaan, sih, Lu?” sahut Lela sambil memegang kepalanya yang sedikit kesakitan.
Tiba-tiba si pelayan menyodorkan tangannya. “Salam kenal! Juna!”
Lela terkejut dengan jawaban si pelayan yang ternyata menerima permintaan perkenalannya. Dengan cepat, ia menyambar uluran tangannya. “Ya! Salam kenal!”
“Jadi mau pesan apa?!”
“Pesen apa aja, deh. Terserah Juna. Kalau mau Juna juga bisa makan bareng di sini,” sahut Lela sambil cengengesan.
Juna tersenyum. Lantas ia pergi meninggalkan mereka bertiga. Karena ia hendak membuatkan sesuatu yang mereka pesan.
“Anjayyy! Ganteng banget, sumpah! Jauh banget sama si Rei!” ucap Lela dengan bola matanya yang terus mengikuti Juna kemana pun ia pergi.
“Gebet, La! Hajar! Sikat!” ucap Maria.
“Eh, dengerin, Ya! Cowok kayak gitu jangankan digebet, disikat, dihajat. Dikawin gua juga gua mau!”
“Yaelah…. Emang dianya mau?!”
“Pasti mau! Gua kan wanita idaman!” sahutnya sambil mengibaskan rambutnya.
“Bener, tuh!” sambut ayah. “Kalo sama Lela, gua juga mau.”
Maria menatapnya sinis.
“Iya, mau muntah!” sambungnya sambil tertawa.
Maria pun ikut terbahak-bahak.
Rupanya para barista bekerja dengan cepat. Mereka tak mau membuat para pembeli menunggu lama. Begitu pun dengan Juna. Tak lama kemudian ia datang membawa pesanan.
“Juna! Kok, cuma tiga?!” tanya Lela.
“Silakan, dinikmati saja dulu. Saya belum bisa gabung!” sahutnya dengan ramah. Ia pun pergi meninggalkan meja mereka.
“Gimnana mau diajak kawin?! Diajak makan aja gak mau?!” ledek ayah.
“Itu namanya tanggung jawab. Dia gak mau ninggalin pekerjaannya! Keren, kan?! Jadi tambah suka aja sama dia. Udah ganteng! Ramah! Juga tanggung jawab!”
“Sekarang, mending lu ke sana bantuin dia! Sambil sekalian cari-cari perhatian gitu!” ucap Maria.
“Iya, yah! Bener juga! Sekalian gua mau cari-cari info!” sahutnya dengan sangat bersemangat. Kemudian ia pergi meninggalkan meja.
Ayah tertawa kecil. “Jago banget ngusir orang nya!”
“Hehe! Kan biar bisa berdua.”
“Siapa?!”
“Kita!”
“Emang kalo berdua mau ngapain?!”
“Hmm… Nggak tahu!”
Ayah kembali tersenyum mendengar jawaban Maria. Setelah itu, ia menyulut sebatang rokok, lalu dibakar dan diisap.
“Udah lama, ya balapan?” tanya ayah.
Maria mencicipi kapucinonya. “Ya, lumayan.”
“Balapan liar?!”
“Enggak!”
“Terus?!”
“Sebenarnya aku pembalap sirkuit. Udah lama!” sahut Maria yang kembali menyeruput kapucinonya. Kemudian, ia melanjutkan ceritanya.