Setelah itu, anaknya kembali ke rumahnya dengan perasaan kesal.
“Berapa, Pak?!” tanya ayah kedua kalinya.
“Tiga ribu, A!” sahutnya. “Maaf, A tadi mah biasalah ada sedikit gesekan gesekan,” lanjutnya sambil cengengesan.
“Ini, Pak! Ambil aja kembaliannya,” ayah menyodorkan uang lembar senilai lima ribu rupiah.
“Waduuh! Makasih, A! Semoga cepet ketemu sama Maria nya…”
“Ya, makasih!” singkatnya. Kemudian, ayah menyalakan motornya untuk segera meninggalkan warung.
Tak terasa, matahari sudah mulai lenyap di ufuk barat. Suasana di Puncak semakin dingin menusuk kulit. Dari ketinggian, terlihat indah lampu-lampu perumahan perkotaan. Seperti berkedip, tapi tidak. Belum lagi dengan pesona bintang-bintang yang terhampar di langit. Jumlah mereka benar-benara tak terhitung. Soalnya, setiap kali aku ingin menghitungnya, beberapa di antara mereka bersembunyi, dengan meredupkan kelipnya. Tapi di samping semua keindahan itu, hanya ada satu pusat keindahan bagiku. Yaitu bulan purnama yang sangat elok, merona, dan cantik begitu sempurna. Ketika sudah melihatnya, aku akan membenci matahari pagi.
Puncak cukup ramai. Motor atau pun mobil masih banyak yang berlalu lalang. Sepanjang jalan, aroma jagung bakar bisa tercium. Warkop-warkop kecil pun juga banyak. Selain itu, ada juga beberapa vila, dari yang cukup mewah hingga yang biasa saja.
Di kedinginan itu, ayah lebih memilih untuk berdiam diri menikmati malam dengan satu buah jagung bakar. Di tepi jalan ia berbaring sambil memikirkan bagaimana cara menemui Maria.
“Maria… Di mana aku bisa menemukanmu?”
Lama ia melamun di tepi jalan seperti itu. Orang-orarng atau kendaraan apa pun yang lewat tak ia hiraukan.
Berbatang-batang rokok telah disulutnya. Sisa tinggal 3 batang lagi dalam bungkus.
Pikirannya, semakin lama semakin semerawut.
“Bisa gila aku terus-terusan mikirin dia. Dasar pembalap jalanan!” sahutnya sambil keluar dari lamunan.
Ayah bangkit dari baringnya, kemudian ia mengambil segelas kopi hitamnya untuk diseruput. Akan tetapi, sebelum gelas kopi itu sampai di bibir, ia terpikir oleh sesuatu yang membuatnya tak jadi meminum kopinya.
“Tunggu, tunggu!” ayah melamun kembali, memikirkan sesuatu. Setelah itu sedikit demi sedikit bibirnya tersenyum.
“Ya! Harusnya aku menyadarinya dari tadi!” lanjut ayah sambil berkemas.
Nampaknya ia mendapatkan sesuatu yang sangat menggembirakan. Apa mungkin ia mengetahui di mana Maria berada? Ya! Mungkin saat ia melamun barusan makhluk ghaib memberi tahunya.
Waktu menunjukka pukul delapan malam. Ia mendatangi kembali warung kopi yang saat sore ia hampiri.
“Pak! Makasih bantuannya! Saya tahu di mana Maria!” ucap ayah sambil melambaikan tangan kepada pemilik warung.
Pemilik warung kebingungan dengan apa yang dikatakan ayah.
“Pak! Jangan melamun! Nggak baik!” lanjut ayah sambil tertawa.
“Oh, iya, A! Kata bapak juga apa…” si pemilik warung kembali melamun. “Kopi bapak téh bisa mengembalikan ingatan, yah, A?!” lanjut pemilik warung yang masih nampak kebingungan.
Ayah tertawa terbahak-bahak. “Udah dulu, ya, Pak! Kan saya mau ketemu Maria.”
“Oh, iya, iya, A! Semoga selamat sampai tujuan!”
Ayah membunyikan klaksonnya, tanda ucapan selamat tinggal untuk pemilik warung.
Ayah mengendarai motornya menuju arah pulang ke Cibinong. Ia mengendarai motornya dengan sangat cepat. Jalanan mulai anggang, tidak macet seperti tadi siang. Membuat ayah semakin leluasa mengendarai motor NMAX-nya.
Alhasil, setelah kurang lebih satu jam setengah, ayah sudah sampai di Cibinong. Akan tetapi, ia tak melewati jalan yang menuju rumah, ia tetap menyusuri jalan nasional hingga mengantarkannya ke sebuah jalanan lebar, lurus dan tak banyak kendaraan berlalu-lalang di sana.
“Maria, aku yakin kamu pasti ada di sini!” ucapnya sambil menatap sebuah kerumunan di dekat lampu lalu lintas. “Cari panci, ya di dapur! Cari pembalap, ya di jalanan! Haha! Bener juga, tuh si bapak!”
Ayah terus menggulirkan bola matanya ke arah kerumunan, mencari-cari Maria. Tapi ia tak kunjung menemukannya. Akhirnya, ia pergi menghampiri kerumunan. berjalan menyisir kerumunan para penonton dan para petaruh. Akan tetapi ia masih belum menemukannya.
Kemudian ia mencoba menghampiri garis finish. Tapi di sana juga tak ada. Akhirnya, ayah kembali menyulut rokoknya dan merenung memikirkan bagaimana cara menemukan Maria.
Setelah beberapa saat, ayah mendapatkan keputusan. Ia hendak mendaftarkan diri menjadi pembalap selanjutnya. Ia membawa motornya ke garis start.
“Bro! Yakin, tuh motor mau diapke balapan?!” ucap laki-laki pemegang bendera, atau wasit.
“Kenapa emang?! Gua pasang satu juta! Kalo gua kalah, gua kasih, nih, motor!” sahut ayah.
Semua penonton riuh bergemuruh membicarakan ayah. Beberapa di antara mereka megetahui bahwa ayah adalah pembalap yang menghantam para bocah-bocah sompral kemarin. Bahkan, ada juga di yang membicarakan sesuatu yang tertempel di pelipisnya. Ternyata, ayah cukup menjadi terkenal semenjak kejadian kemarin.
Di sisi lain, ayah merasa sangat gugup dan khawatir. Bukan karena motornya yang ia pertaruhkan atau karena takut dikeroyok para penonton. Akan tetapi karena hal lain.
Waktu terus berjalan. Akan tetapi masih belum ada yang menyambut tantangan ayah. Pria pemegang bendera sudah sibuk melihat arloji yang dipakainya. “Oke! Hitung mundur dari sepuluh!”
“Satu!” seluruh penonton ikut menghitung. “Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam! Tujuh!”
Jantung ayah berdebar semakin cepat. Keringat bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya.
“Delapan!”
“Berrrr!!!” Seseorang menyalakan mesin motornya dengan suara knalpot yang sangat keras. Hitungan pun terhenti. Ia menggiring motor itu ke garis start, dan kedatangannya cukup membuat ayah tenang. Karena seseorang itu adalah Maria, yang telah ia cari setelah seharian penuh.
Maria sudah bersiap di garis start menaiki motornya. Ia menatap ayah dengan senyuman. Ayah membalas balik senyumannya.
“Jadi, taruhannya motor, nih?!” tanya Maria.
“Ya! Juga nomor HP!” sahut ayah sambil tetap mempertahankan senyumannya.
Maria juga membalasnya dengan senyuman.
“Oh, ya! Alamat juga,”
Maria tambah tersenyum. Bahkan sekarang, giginya sampai terlihat.