RESPON CEPAT

1162 Words
“Gua bener, kan! Selama ini mereka membual! Peraturan yang mereka buat tentang larangan pernikahan atau berhubungan lawan jenis mereka langgar sendiri secara diam-diam!” teriak ayah yang seketika emosinya meluap. “g****k, Fer! Mereka g****k banget!” timpal Halim yang sama-sama emosi. “Ini bukti berharga, Lim! Amankan vidionya!” “Beres!!!” Setelah itu, Halim mengunduh vidio tersebut dan menyimpannya di dalam kaset bertuliskan “Bukti”. Tak terasa hari sudah malam. Di luar cuaca sedang tidak baik. Guntur menggelegar dari mana-mana. Hujan nampaknya akan segera turun. “Laper banget gua, Fer!” rengek Halim sambil memegang perutnya yang kurus. “Makan apaan kita?” “Di rumah gua gak pernah ada makanan. Kecuali kalo pesen online. Lu tau sendiri kan gua gak pernah ke luar rumah?” “Iya! Pantes kulit lu kaya kulit orang mati! Pucet! Gak pernah dijemur matahari!” “Gak, apa-apa lah! Yang penting gua bisa makan!” “Terserah, Lu!” ucap ayah sambilmenyulut kembali sebatang rokoknya. “Pesen apa aja, Lim! Bebas! Gua yang bayar!” Halim pun memesan berbagai macam makanan yang ia mau. Selera makannya pedas, maka makanan yang dipesannya pun adalah aneka ragam makanan pedas. Nasinya nasi padang, makanan lainnya adalah seblak, ramen, dan makanan lainnya yang berasa pedas. Kalau ayah tak pernah banayak pilih-pilih soal makanan. Bisa dibilang ia memakan semua jenis makanan. Bukan berarti rakus, tapi tak pilih-pilih. Lima belas menit setelah makanan dipesan, pintu apartemen pun diketuk. Halim dan ayah membukanya, sensor berwujud burung itu kini sudah dinonaktifkan. Karena hari sudah menjelang malam dan ia pun harus diisi daya baterainya. ‘’Berapa, Pak?!” tanya Halim. “Tiga ratus lima puluh ribu!” sahut si bapak sambil terengah-engah. “Kan tadi di aplikasi Cuma tiga raus ribu, Pak!” “Iya! itukan belum termasuk naik tangga setinggi lima belas lantai!” lannjut si bapak yang masih ngos-ngosan. “Yaelah pak! Kenapa gak naik lift?!” “Gak bisa. Gak berani saya naiknya!” “Nih, Pak! Ambil kembaliannya!” potong ayah sambil memberikan uang senilai empat ratus ribu rupiah. “Iya, makasih, ya!” sahut si bapak sambil tersenyum. Halim dan ayah hendak masuk kembali ke kamar. Akan tetapi ketika ia hendak menutup pintunya si bapak kembali memanggil mereka berdua. “Ada apa, Pak?!” “Saya boleh numpang istirahat dulu di depan sini. Capek! Saya harus turun tangga lagi setinggi lima belas lantai!” “Iya, Pak! Silakan!” pungkas mereka berdua. Akhirnya, setelah makanan siap ayah dan Halim pun makan bersama. Sambil makan, mereka juga berbincang mernecanakan tindakan selanjutnya. “Selanjutnya gimana, Fer?! Vidionya mau lu apain?!” tanya Halim sambil menggigit rendang nasi padangnya. “Gua cuma mau mengatakan bahwa mereka semua tak menaati perturan yang mereka buat sendiri!” sahut ayah yang mulutnya masih mengunyah makanan. “Tapi, Fer! Lu sadar gak?! Greg tak ada dalam vidio itu!” Ayah terkejut dan hampir tersedak oleh makanannya. Langsung saja ia meraih minumnya. “Ya, bener! Gua baru sadar! Berarti Greg tak tau hal ini!” “Bisa jadi!” “Pantes! Greg jarang pergi bareng-bareng sama mereka! Ternyata mereka menyembunyikan sesuatu darinya!” “g****k, kan?! Padahal Greg mepercayai organisasi itu sepenuh jiwa!” “Yang lebih kasian lagi, sampe sekarang dia belum pernah berhubungan lawan jenis mungkin!” timpal ayah sambil tertawa. Halim tak bisa menahan tawa, akhirnya ia pun tersedak. Sedangkan ayah semakin sibuk menertawakannya. “Tapi, Lim! Ini serius! Gua harus cepet-cepet ngasih tau Greg! Kasian dia!” “Ya, nanti gua kirim ke HP, Lu vidionya! Vidio yang asli biar gua simpen di sini!” sahutnya. Setelah perut kenyang dan menghabiskan beberapa batang rokok. Akhirnya ia segera bergegas menemui Greg untuk memberinya sebuah kebenaran. *** Sebelum pertengahan malam. Awan sudahmulai memudar dan membiarkan bulanmenampakkan dirinya. Meski pun bukan purnama, langit tetap terang. Saat itu, Danang, Dadang, Dinar dan Julia tengah berkumpul dalam sebuah bar. Mereka mabuk-mabukan bersama. Di atas meja bulat di depan mereka terdapat beberapa botol minuman keras dengan berbagai varian. Selain itu, ada juga makanan lainnya seperti kacang, kitela, kentang goreng dan lainnya. Bersama lantunan musik DJ Remix berdentum menggema di selruh isi bar. Dinar yang setengah sadar dan setengah tidak, mendengar gawainya berbunyi. Sebuah notifikasi muncul di pop-upnya. Ia membaca notifikasi tersebut cukup lama. Ia membacanya berulang-ulang karena kesadarannya belum cukup pulih. Setelah beberapa kali membacanya berulang. Akhinya ia pun bisa memahami isi notifikasi pada gawainya. “Bang, gawat!” teriak Dinar kepada Danang. Danang, Dadang dan Julia pun ikut merespon. Mereka menolehnya bersamaan. “CCTV nya ada yang retas balik, Bang! Seseorang berhasil mengunduh rekamannya!” “Lu ngomong apaan, sih?!” sahut danang yang masih belum sadar. Begitu pun dengan yang lainnya, mereka tak mengerti dengan apa yang disampaikan Dinar karena mereka masih dalam keadaan pusing. Berkali-kali Dinar memberi tahu mereka dengan segala cara. Tetapi respon mereka masih tetap sama. akhirnya, karena kehabisan akal dengan cara baik-baik, ia pun mencoba menyadarkan kawanannya dengan cara yang agak kasar. Ia mengambil beberapa gelas air putih, kemudian menriramkannya ke wajah ketiga kawannya. “Bturrr!!!” Danang, Dadang dan Julia pun tersadar secara tiba-tiba. Mata mereka langsugn terbuka lebar-lebar. “Woy! Apa ni?!” “b*****t!!” “Basah, woy!” “Cuk! Jancuk!” Respon mereka secara spontan setelah disiram oleh Dinar. “Dengerin, semuanya! Kondisi darurat! Sangat darurat!” pekik Dinar menarik semua perhatian teman-temannya. “Kenapa?!” “Ada apa?!” “Seseorang membobol CCTV kamar hotel yang kemarin kita pake buat sewa PL!” “Siapa yang bobol?!” “Belum pasti! Sistem lawan susah dicuri informasinya! Tapi yang pasti orang itu berusaha membongkar rahasia kita. Dan satu-satunya orang yang gak boleh tahu rahasia itu adalah Greg! Jika dia tahu, kita bisa habis! Organisasi bisa kacau!” simpul Dinar. “b*****t! Bener juga! Kita pergi ke rumah Greg secepatnya. Sesuatu mungkin akan terjadi di sana!” seru Danang mengerahkan perintah kepada bawahannya. Setelah itu mereka pun segera berkemas untuk pergi ke rumah Greg. Dadang membawa mobil dengan sangat cepat. Ngebut! Jarum kilo meternya hampir menunjukkan ke angka maksimal. Tak jarang ia melakukan pelanggaran lalu lintas. Seperti lampu merah, perboden dan bahkan jalur orang lain pun ia terabas. Semua yang berada dalam mobil tersebut, kecuali Dadang berteriak sekencang-kencangnya sambil memejamkan mata untuk sesaat, karena mereka tak sanggup melihat mobil atau kendaraan lain yang nyaris bertabrakan dengan mobil yang ditumpanginya. Mobil yang tak jelas bentuknya itu adalah modifikasi Dadang. Ia paling jago urusan otomotif dan permesinan. Mesinnya dan seluruh spare part nya dimodifikasi sehinggga laju dan tenaga mobil tersebut empat kali lebih cepat dari setelan bawaannnya. Selain itu, ia juga memasang turbo di dalamnya. Seperti mobil-mobil balap yang ada dalam film Fast and Forius. Begitu pun juga dengan Dadang sebagi pengendaranya. Ia mirip seperti tokoh Dominic Toreto dalam film yang sama. saat mengendara ia tak banyak gaya dan bicara. Ia selalu fokus ke jalanan dengan mata yang sangat waspada. Dan begitulah, nasib Danang, Dinar dan Julia. Mereka seakan-akan sedang melatih daya tahan jantung mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD