SELAMAT TINGGAL

968 Words
Di jalanan yang sudah cukup sepi itu ayah tengah mendorong motor NMAX nya. Motornya mogok karena kehabisan bensin. Jalanan saat itu agak nanjak, belum lagi pom bensin masih cukup jauh dan pom bensin mini sudah pada tutup. Akhirnya dalam perjalanan mendorongnya, ayah terpaksa harus beristirahat beberapa kali terlebih dahulu untuk mengisi tenaganya. “Bisa-bisanya habis bensin!” ucap ayah ketus. Sesekali jalanan turun. Ayah pun menaiki motornya tapi setelah itu, jalan kembali dataar atau pun naik. Ayah pun kembali mendorongnya. Setelah tiga puluh menit mendorong motor. Akhirnya sampai juga di pom bensin. Ayah langsung mengisi penuh bensin motornya. Saat motor hendak dinyalakan, motor tidak langsung menyala. Mungkin karena sebelumnya kehabisan bensin. Jadi perlu waktu untuk kembali mengoptimalkan kinerjanya. Dan setelah motor menyala ayah langsung melanjutkan peluncurannya. Pergantian hari telah berlalu. Waktu menunjukan pukul dua belas malam lewat. Ayah baru sampai dan memarkirkan motornya di depan rumah Greg. Ayah menyadari akan terparkirnya mobil Danang dan kawanannya. Ia pun mulai pesimis dan sudah bisa mengira bahwa kemungkinan ayah menceritakan kebenaran kepada Greg tak bisa terlaksana. Setelah memasuki rumah Greg, ayah mendapati kawanan lamanya sedang minum di sofa di ruang tamu. Mereka pun menyambut kedatangan ayah dengan baik. “Fer! Apa kabar?” Sapa Dadang kepada ayah sambil menyambutnya. Ayah digiring oleh Dadang untuk duduk di sofa bersama mereka. Ayah merasa sedikit heran dengan perlakuan mereka. “Join kita, Bos! Party!” ucap Greg mendekati ayah. Ayah sedikit senang saat melihat Greg yang seperti itu. Pikirannya mulai berubah. Mungkin, ini hanyalah acara minum-minum biasa. Kehadiran mereka bukan untuk melakukan sesuatu kepadanya. “Minum, Bos!” Greg menyodorkan segelas minuman kepada ayah. Ayah pun menerimanya. Mereka menndekatkan gelas mereka berdua. Kemudian meminumnya. Tiba-tiba ayah merasa sangat pusing. Lebih dari biasanya. “Minuman apa, ni, Greg!” “Whiskey, Bos! Biasa…” sahut Greg sempoyongan. Kepala ayah semakin pusing. Tapi bukan hanya itu, jantungnya juga mulai berdebar sangat cepat. Pernafasannya tidak berjalan dengan lancar. Ia tersengal-sengal. Kemudian seluruh organ tubuhnya terasa sangat sakit. Perlahan-lahan, satu di antara organ tubuhnya mulai kehilangan rasa dan tak bisa digerakkan. Dari mulai telapak, kaki, kaki, paha, pinggul, perut, d**a, tangan, leher, dan akhirnya kepala. Nafasnya terhenti, jantungnya berhenti berdegup, mulutnya mengeluarkan busa dan matanya terbuka tak bisa berkedip kembali. *** Di pagi buta, saat aku masih tertidur di kamarku sendirian. Selimut hangat bergambar naruto itu membuatku hangat dan terlelap. Apalagi karena semalam hujan pun turun, membuatku nyaman dengan kasur dan selimut hangat itu. Ayah tak pulang semalam. Saat aku sendiri biasanya Bi Idah, tetangga komplek menemaniku dan meberiku makan. Bi Idah sangat baik. Ia adalah seorang ibu yang sudah menikah selama puluhan tahun. Akan tetapi sampai sekarang masih belum dikaruniai anak. Ya, mungkin karena hal tersebut ia jadi mempunyai kehendak untuk mengusrusiku. Sejak saat ibu meninggal, Bi Idah lah berperan sebagai ibuku. Tak jarang juga kalau aku yang menginap dan makan di rumah Bi Idah. Ayah selalu mengzinikanku. Begitu pun dengan suami Bi Idah, yaitu Pak Arif dia juga mengizinkan Bi Idah untuk mengurusiku. Dia juga baik sama aku. Akan tetapi, kemarin Bi Idah memberiku kabar buruk. Sangat buruk. Bahwa hari ini ia akan pindah rumah ke Karawang karena Pak Arifnya yang merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dipindahkan tugas ke Karawang. Ya, apa boleh buat. Jarak antara Bogor dan Karawang bukan jarak yang dekat. Jadi, takbisa ditempuh dengan cara bolak-balik tiap hari. Dan terpaksa mereka pun harus pindah rumah. “Farid bangun!” ucap Bi Idah membangunkanku. Aku yang langsung teringat akan rencana kepergian Bi Idah pun langsung terperanjat. Jam bekerku sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. “Sial! Aku kesiangan!” Aku pun langsung keluar dari kamar dan menemui Bi Idah yang sedang berada di dapur. “Ini sarapannya. Cepet mandi!” “Bi Idah berangkatnya kapan?!” tanyaku yang masih mengantuk. “Setengah jam lagi!” Aku pun langsung terkejut dan melihat ke luar rumah melalui jendela. Ternyata satu mobil bak sudah terisi penuh dengan perabot yang akan dibawa Bi Idah pindah. “Kenapa Bi Idah baru bangunin aku? Aku kan pengen bantuin Bi Idah beres-beres!” “Makan saja cepet! Terus mandi! Gak ada waktu lagi, Bi Idah harus pergi.” Akhirnya aku menuruti apa kata Bi Idah. Karena memang ada benarnya juga denan yang dikatakannya. Aku makan dengan cepat dan lahap meski bukan dengan nasi padang. Setelah itu aku mandi meski pun cuaca dan hawa masih sangat dingin. Setelah itu aku memakai baju dan bersiap untuk menemui Bi Idah dan Pak Arif. Saat aku sampai di rumah Pak Arif, nampak di sana Pak Arif sedang menelpon dengan seseorang. Yang kudengar, pokoknya Pak Arif harus segera sampai di Karawang karena pekerjaan sudah akan dimulai esok hari. Pantas saja, mereka memulai perjalanan sejak pagi. Bahkan untuk memindah-mindahkan barang mungkin mereka memulainya sejak pagi buta. Semua sudah selesai dibereskan. Pintu rumah Pak Arif sudah dikunci, kemudian diberikan kepada seseorang yang sudah membelinya dengan harga tunai. Pak Arif dan Bi Idah pun segera mendekat mobil. Dengan cepat aku pun menghampiri mereka. Aku bersalaman kepada mereka dan mencium tangannya. “Terima kasih Bi, Pak! Selama ini telah memperhatikan saya dan ayah saya. Semoga selamat sampai tujuan!” Mendengar perkataanku, Bi Idah menangis meneteskan air matanya. Ia memelukku kemudian menciumku. “Jadilah anak yang kuat! Kamu pasti bisa, Rid! Kamu anak yang hebat!” ucap Bi Idah sambil tersedu-sedu. Sedangkan Pak Arif, melihatku penuh arti dan penghayatan. Setelah Bi Idah selasai memelukku, sekarang giliran Pak Arif yang memelukku. “Kamu sudah kami anggap sebagai anak sendiri. Suatu saat, kami pasti akan menjengukmu ke sini!” pungkasnya. Aku tak tahan untuk menahan tangis. Air mataku pun juga bercucuran. Kasih sayang mereka yang tulus itu cukup memberi goresan yang akan abadi di hati dan ingatanku. “Selamat tinggal Bi Idah, selamat tinggal Pak Arif,” kataku sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua yang perlahan semakin menjauh dan menghilang dari penglihatanku. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD