Para petaruh riuh. “Wuhhhh!!!”
Petaruh itu berdeham. “Lumayan,” ucapnya pelan, sambil meperhatikan tubuh wanita tersebut dengan detail. Kemudian ia menghampiri wanita itu sambil mengulurkan jemari ke pipinya.
“Balapannya belum, b*****t!” ucap wanita tersebut sambil menepis tangan si petaruh.
Di kejauhan, Maria menyaksikan temannya bertaruh. Lantas, ia pun tersenyum melihat temannya berlaku seperti itu.
“Oke, nyalakan mesin kalian. Balapan akan dimulai!” ucap laki-laki pemegang bendera.
Para pembalap menaiki motornya, kedua motor dinyalakan.
“Satu… dua… tiga!” teriaknya sambil mengarahkan bendera yang digenggamnya ke bawah dengan cepat.
Pada saat yang sama, kedua motor melaju sangat cepat meninggalkan garis start.
Arya memimpin, Maria berada satu meter di belakangnya. Jarak itu terus terjaga sampai di dekat garis finish. Kemudian, setelah garis finish berada tujuh meter dari Maria, ia menekan kopling dan persenelingnya.
Keadaan pun berubah. Maria memimpin balapan. Arya berada di belakangnya dengan jarak dua meter. Dengan begitu, Maria bisa memenangkan balapan.
Penonton yang berada di garis finish riuh bersorak. Tak jelas apa yang mereka teriakkan. Sedangkan penonton di garis start sibuk menunggu pernyataan laki-laki pembawa bendera yang sedang menelpon temannya di garis finish.
Penonton tambah penasaran melihat raut muka pembawa bendera yang nampak terlihat sangat terkejut.
“Baiklah, pemenangnya, adalah…”
Jantung si petaruh nampak berdebar sangat cepat. Sedangkan teman Maria terlihat biasa saja. Sekan ia tak peduli apa hasilnya. Kalau menang, ya untung. Kalau pun kalah, ya gak apa-apa. Ia sudah sering mempertaruhkan dirinya saat taruhan. Dan buktinya, ia masih bisa hidup, kok.
“Oke, pemenangnya adalah Maria!!!” Teriaknya.
Semua yang hadir di sana riuh. Mereka semua terkejut dengan hasil balapan tersebut. Mereka tak menyangka bahwa wanita yang hanya menonton saat balapan ternyata adalah seorang pembalap yang sangat profesional.
Wanita temannya Maria langsung mengambil uang taruhan yang digenggam lawan taruhannya. Setelah itu ia pergi meninggalkannya.
Berbeda dengan kawanan Arya. Salah satu di antara mereka mendapat panggilan dari Arya yang masih berada di garis finish. Setelah panggilan berakhir, mereka segera menaiki motornya untuk menghampiri Arya.
Melihat kondisi seperti itu, teman Maria cukup gelisah. Pikirannya mulai tak waras. Dengan segera, ia pun menyusulnya di garis finish.
Sesampainya di sana, ia mendapati Maria yang tengah dikerumuni oleh Arya dan kawanannya.
Melihat perawakan Arya dan kawanannya yang terlihat tangguh, tak ada seorang pun di antara para penonton yang berani ikut campur. Tapi tidak dengan satu temannya “Heh! Ngapain, Lu?!” teriaknya. “Maria mau diapain?!” lanjutnya.
“Wah, nambah satu lagi,” ucap Aria sambil memberi isyarat kepada kawanannya.
Setelah itu, dengan cepat teman Maria berada di sampingnya, dikerumuni Arya dan kawanannya.
“Kita apain, nih, Bos?!”
“Bakar aja, Bos motornya!”
“Orangnya juga, Bos!”
“Jangan! Dia montok, Bos! Orangnya gak usah dibakar!”
Ucap beberapa kawanan Arya.
“Diem, Lu!” bentak Arya.
Arya menatap tajam Maria, begitu pun sebaliknya.
“Apa, Lu! Berani lu sama gua?!” Gertak Arya.
Dengan tenang, Maria menyeringai. “Gua kira pembalap benera. Eh, ternyata bocah!” bentaknya sambil meludahi Arya.
Sontak, kemarahan Arya dan kawanannya langsung meningkat. Mereka pun hendak memukuli Maria dan temannya. Akan tetapi, pada saat yang tepat. Pada saat Maria dan temannya akan dipukuli, seseorang menghajar Arya dan kawanannya dari belakang. Ya, dan pria itu adalah ayahku.
Ayah menghajar mereka dengan tangan kosong. Ia berdiri tegap di depan Maria dan temannya.
Kemudian Arya dan kawanannya melawan ayah. Sepuluh lawan satu. Akan tetapi, kehebatan mereka tak sebanding dengan kehebatan ayah. Mereka babak belur dihajarnya. Mereka semua benar-benar seperti bocah. Apalagi setelah mereka kabur terbirit-b***t menggunakan motor mewahnya.
“Haha! Dasar bocah!” maki teman Maria.
Kemudian, ayah menghampiri Maria yang sedang menatapnya.
“Makasih, jotosnya…” ucap Maria sambil tersenyum.
“Gak ada apa-apanya,” sahut ayah sambil menyeringai.
“Biasa aja, Lu bilang makasihnya…” timpal teman Maria sambil mendorongnya.
“Yaelah…! Dasar Lela, gak ada akhlak emang, Lu! Harusnya lu juga bilang makasih!”
“Iya… iya… sorry.” Sahut Lela, temannya Maria. Kemudian ia pun menghampiri ayah. “Makasih, ya! Padahal kurang bonyok, tuh tadi mereka. Harusnya hajar aja sampe mati…! Biar tau rasa!” lanjutnya sambil tertawa.
Ayah menghiraukannya. Matanya terkunci dengan paras Maria yang begitu menawan.
“Malah dikacangin!” ketus Lela. “Yaudahlah, yang penting makasih banyak, dah!”
Perempuan yang satu itu memang banyak bicara. Mulutnya satu, tapi seakan-akan dia memiliki lebih dari itu.
“Ya, ya. Gua pergi, dah!” lanjutnya. Akan tetapi, tak ada satu pun di antara mereka yang menghiraukannya.
“Woy! Gua pergi, nih!”
Masih tak ada respon.
“Woy! Yakin, nih gak ada yang peduli kalo gua pergi?!”
Tetap tak ada respon.
Akhirnya, Lela pun menyerah untuk mencari perhatian temannya. “Gini, nih… kalo udah ketemu cowok ganteng. Bukan jatuh cinta lagi, tapi kecelakaan cinta!” ketusnya.
Setelah lama bertatapan, ayah mengulurkan tangannya. “Gua Farhan!”
“Maria…!” sahutnya sambil menjabat tangan ayah.
“Udah tahu,” lanjut ayah sambil menyeringai.
Maria tersenyum. Ada rona merah di pipinya. Nampaknya, ia sedang tersipu malu.
“Tadi itu luar biasa! Balapan yang hebat dan mental yang kuat!”
Maria semakin tersipu.
“Gak ada apa-apanya,” sahut Maria meniru jawaban ayah.
Mereka pun tertawa ringan bersama-sama.
“Main balapan udah lama, ya?!”
“Hem, lumayan, lah.”
“Tinggal di mana?”
“Deket puncak.”
“Alamatnya di mana?” tanya ayah yang sedikit gugup.
“Ehh, alamatnya di jalan…”
Belum sempat selesai Maria berbicara. Tiba-tiba terdengar suara riuh motor di garis start. Mereka menyalakan mesin motornya dengan cepat lalu pergi meninggalkan jalanan. Persis seperti orang ketakutan. Saking paniknya, bahkan ada yang sampai lari terbirit-b***t meninggalkan motornya sendiri.
Setelah dilihat. Ternyata ada mobil polisi mendekati garis start. Dan sekarang, di dekat garis finish pun ada. Pantas saja kedatangannya tak diketahui. Sirine dan lampu mobilnya dimatikan. Setelah semua orang menyadari dan mulai berhamburan melarikan diri. Barulah sirine dan lampu tersebut dinyalakan.
“Eh, aku tahu kau pasti bisa menemukanku!!” pungkas Maria sambil berlari meninggalkan ayah. Setelah itu ia pergi bersama Lela menggunakan motornya dengan kecepatan tinggi.
Ayah sedikit dibuat bingung dengan perkataan terakhir Maria. Tapi ia tak sempat lama-lama memikirkannya. Ia harus cepat-cepat kabur dari arena balapan. Karena kalau tidak, ia bisa tertangkap.
Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menyelamatkan dirinya terlebih dahulu sebelum memikirkan apa yang dikatakan Maria sebelumnya. Ia mengendarai motornya menuju arah yang sama dengan arah yang dituju Maria. Harapannya, semoga saja ia bisa bertemu kembali dengannya. Akan tetapi, dengan banyaknya persimpangan, Maria tak bisa disusul atau pun ditemukan.