TAGIHAN

1173 Words
Selain itu perilakunya yang jenaka juga sangat gampang membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Oh, ya. Dia juga memiliki anjing yang sangat lucu. Tetapi, di balik kelucuannya ia menyimpan sesuatu yang sangat beringas menakutkan. Karena ia adalah seekor anjing ninja. Saat film berhenti karena iklan, biasanya kami berbincang mengomentari film yang telah ditonton. Akan tetapi, kali ini Heru mengajakku membicarakan hal yang sangat serius. “Rid! Kemarin gua udah bilang sama ayah.” “Bilang apa?!” tanyaku heran. “Aku menceritakan kondisimu sekarang, Rid!” “Maksud, Lu?” “Gua bilang sama ayah, kalo ayah lu meninggal beberapa hari ke belakang. Dan sekarang lu tinggal sendirian.” “Terus apa masalahnya?!” “Terus gua minta izin, kalo lu tinggal sama gua. Di rumah!” “Ini semua gak ada hubungannya sama, Lu! Atau keluarga, Lu!” “Kok, Lu jadi ngegas gitu, sih?! Heran gua!” Aku tak menjawab. “Gini, Rid! Gua udah lama temenan sama, Lu. Gua ngerasa udah deket banget sama, Lu. Bahkan gua angap lu sebagai saudara sendiri. Keluarga gua tau kalo temen deket gua itu, Lu! Dan sekarang, gua dan keluarga gua nawarin lu tinggal di rumah gua. Itu pun kalo, Lu mau!” Aku diam tak menjawab. Film kembali mulai. Obrolan terhenti. Kami kembali menonton film, tapi tidak seperti sebelumnya. Kami saling canggung dan kaku. Tanpa ada tawa dan obrolan. Lalu, tak lama kemudian Heru bergegas pulang. “Semoga yang tadi lu dengar adalah kabar baik!” pungkasnya sebelum membuka pintu rumahku. Nampaknya Heru kesal kepadaku karena sikapku ketika ia menawarkan sesuatu kepadaku. “Terserahlah dia marah atau enggak! Gua gak peduli!” ketusku. Hari berlalu begitu cepat. Kuhabiskan sepanjang hariku di rumah. Dan akhirnya aku bisa tertidur lelap dengan luka-luka yang tetap menjerit. Keesokan harinya, rintik hujan membasahi kota hujan. Angin bertiup begitu kencang menerpa apa saja. Hawa terasa sangat dingin, membuatku tak mampu untuk mandi pagi hari. Rasanya, selimut dan kasur di ranjangku adalah tempat terbaik yang pernah ada di saat seperti ini. Aku pun menahan diri di ranjang, menunggu hawa kembali normal dan semoga mentari segera mengakhiri permainan petak umpetnya. Kulihat jam bekerku, sudah menunjukkan pukul delapan. Tapi hujan masih tak kunjung berhenti. Yang, ada, hawa semakin dingin. Hujan tetap saja gerimis. Saat ku coba buka sedikit selimutku, langsung terasa dingin menusuk. Suhu di dalam dan du luar selimut nampaknya sangat jauh berbeda. Aku kembali masuk ke dalam selimut. Ku lihat, luka-luka yang kubuat kemarin sudah mulai tertutup. Akan tetapi, jika ditekan, rasanya tetap sama menyakitkan. Tanpa disengata, aku kembali terlelap. Waktu terus bergulir. Saat jam bekerku menunjukkan pukul setengah sebelas pagi, aku kembali terbangun. Dan kulihat, hujan masih belum reda. Kata orang, hujan rintik seperti itu memang lama. Banyak pengawetnya. Dan benar, sampai sekarang hujan itu masih belum berhenti. Tak sengaja, kulirik Flash yang sedang terdiam di atas batu. Mungkin ia menginginkan sinar matahari. Akan tetapi, tak ada sinar matahari hari ini. Oh, ya! Aku juga lupa, belum memberinya makan. Kasihan dia. Akhirnya kupasakan saja kakikku ini melangkah keluar dari selimut. “Brrrrr! Dingin banget!” ucapku sambil menggigil. Aku mengambil pelet untuk Flash. Setelah itu aku memberikannya makan. Dan lagi, selain itu aku juga menyeret lampu belajarku yang berada di meja sebelah. Lalu sorotkan lampu itu kepada kandang Flash. Lampu itu berwarna kuning. Cahayanya remang tapi hangat. Sengaja aku melakukan itu, sebagai pengganti sinar matahari bagi Flash. Flash itu adalah reptil berdarah dingin. Maka dari itu ia membutuhkan sinar matahari setiap harinya. Atau kalau tidak, ia butuh kehangatan. Setelah selesai memberi makan Flash, aku berjalan ke luar untuk memberi makan ikan-ikan hias. Saat aku membuka pintu, aku teringat sesuatu yang selalu mengagetkanku saat aku membuka pintu di hari-hari sebelumnya. Dan itu adalah nasi padang. Biasanya, di pagi hari nasi padang itu sudah berada di lawang pintu. Tapi sekarang tak ada. Tak apalah, aku tak peduli. Heru marah padaku, aku pun tak peduli padanya. “Lupakanlah!” tegasku. Aku langsung melanjutkan langkah menuju kolam ikan untuk memberi makan ikan. Sesampainya aku di sana. Aku memegang air kolam tersebut. Dan rasanya sangat dingin sekali. Aku heran mengapa ika-ikan itu bisa bertahan di dalamnya. Apa mereka tak kedinginan? Lalu kucoba mengangkat salah satu dari mereka ke daratan, barangkali ia kedinginan. Akan tetapi setelah aku mengangkatnya, ia langsung terperanjat, tak mau diam. Sirip dan ekornya terus ia kepakkan. Sedangkan mulutnya membuka dan menutup berulang-ulang. Ia persisi seperti manusia saat tenggelam kehabisan nafas di air. Hanya saja jika dibandingkan dengan ikan, konteks nya agak berbeda dan terbalik. Langsung saja kumasukkan kembali ikan tersebut ke dalam kolam. Dan setelah itu, ia langsung kembali sehat karena mendapatkan kembali nafasnya. “Kan, ikan...!” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setelah usai memberi makan ikan, aku kembali ke dalam rumah dan menyalakan TV. Tayangan kali ini adalah film Doraemon. Aku tak terlalu suka dengan film itu. Entah kenapa alasannya. Pokoknya aku tak terlalu suka. Meski demikian, aku tetap tak mematikkan TV. Karena setelah Doraemon berakhir, ada film yang sangat seru. Yaitu Spongebob yang selalu membuatku tertawa dengan ketidak jelasannya. “Assalamu’alaikum!!!” Seseorang mengetuk pintu depan rumahku. Siapakah ia? Kuintip dari jendela. Pengetuk pintu itu adalah seorang pria yang belum pernah kutemui sebelumnya. Apa mungkin ia pencuri? Atau mungkin… penculik? Aku ketakutan oleh pikiranku sendiri. “Assalamu’alaikum!!!” panggilnya yang kedua kali. Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk membuka pintu. “Waalaikumsalam!” sahutku setelah membuka pintu. Pria itu tersenyum ramah kepadaku. “Ada apa gerangan, Pak?” tanyaku sopan. “Apa benar ini rumahnya Pak Ferdi?” “Iya benar, Pak! Saya anaknya. Farid!” “Pak Ferdinya ke mana?” Aku terdiam sejenak. “Ada di dalam. Lagi sakit, Pak!” sahutku gelagapan. “Oh, ya. Ini saya dari PLN. Mau nagih bayar listrik bulanan. Sama Wifi nya juga kebetulan belum dibayar!” Aku terkejut dan kebingungan. Apa yang harus kulakukan? “Berapa, Pak bayarannya?!” Pria itu memberikku lembar bon. Di sana tertulis pembayaran listrik dan wifi perbulan adalah seratu dua puluh ribu rupiah. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Celenganku belum penuh. Walau pun sudah penuh, mungkin isinya tak mencapai jumlah sebesar itu. Mungkin hanya lima puluh ribu. Bagaimana aku bisa membayarnya? Apa mungkin aku jual saja beberapa perabot rumah?! “Dek!” tegur pria itu memecahkan lamunanku. “Itu diberikkan saja sama bapak! Minggu depan saya ke sini lagi untuk minta tagihannya! Makasih, Dek!” pungkas pria PLN itu sambil meninggalkanku mengendarai mobilnya. Setelah itu aku menutup pintuku kembali lalu duduk di atas sofa di ruang tamu menatap lembar tagihan yang diberikkan pria PLN beberapa menit yang lalu. “Bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini?” gumamku. Dan sekarang, aku jadi teringat pada ayah. Andai saja ayah ada di rumah. Andai saja ia masih hidup. Hidupku pasti akan berjalan baik-baik saja. Hidup akan terasa sangat menyenangkan. Kini, aku harus memikirkan bagaimana cara melakukan segala sesuatu sendiri. Hari ini, tagihan listrik datang. Mungkin beberapa hari ke depan, giliran tagihan air yang mendatangiku. Dan semoga saja tidak ada tagihan-tagihan aneh lainnya. “Ayah, kenapa engkau pergi begitu cepat?!” Air mataku pun menetes.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD