Gugup!

1083 Words
Hening … Tidak ada pembicaraan di antara Luke dan Rena usai mereka menyantap makan siang bersama. Luke juga sudah meminum obatnya, pria itu kini berada di ruang televisi. Diam-diam ia mencuri pandang, memerhatikan wanita yang sejak tadi sibuk berada di dapur. Entah apa yang dilakukan Rena. Sepertinya wanita itu sama sekali tidak bisa diam. Kedua sudut bibir Luke terukir, ia seperti sedang melihat mantan kekasihnya di sana. Hari-hari di mana ia masih menghabiskan waktu bersama dengan Aurora. Perhatian wanita itu, punggung wanita itu dan cara bicara Rena yang benar-benar mirip Aurora membuat Luke mengingat terus sosok mantan kekasih terindahnya itu. “Niat hati ingin pergi liburan, tapi tetap saja bayang-bayang kamu selalu saja mengikutiku. Padahal di sana kamu sedang berbahagia dengan suami kamu. Tapi kenapa aku masih saja memikirkan kamu yang tidak mungkin lagi memikirkan tentang aku,” ucap Luke di dalam hatinya. Pria itu sedang menggalau. Ucapan itu selalu saja ada di kepalanya, entah kenapa tidak mau pergi dari pikirannya. Rena menyibukkan diri dengan membuat kue. Keahliannya soal dapur selalu ia tunjukkan di sini. Padahal ia berencana untuk makan dan tidur saja. Tapi sepertinya, ia harus mengatur waktunya lagi nanti. Jangan sampai ada kejadian seperti ini di saat ia menikmati liburannya lagi. Luke mendekati Rena, duduk di meja bar yang ada di dekat dapur. Menuang air mineral ke dalam gelas lalu menenggaknya. Rena yang melihatnya langsung tersenyum. “Anda suka kue cokelat kan?” Luke mengangguk. “Kamu sedang membuatnya?” “Iya, habis iseng juga nggak ada camilan. Di luar juga hujan, hawanya jadi lapar terus,” ucap Rena dengan polosnya. Luke tersenyum tipis. Ia merasa senang jika ada yang membuatkannya makanan seperti ini. Dulu, Aurora selalu menyempatkan diri untuk membuatkannya makanan, entah itu cake atau makanan berat lainnya. Luke akan memakan semuanya hingga tak tersisa. Rindu …, itulah yang sedang Luke rasakan saat ini. Patah hati membuat tingkat kewarasannya berkurang. Semua yang ada di pikiran Luke hanya dipenuhi dengan masa lalu saja. “Jika seperti ini, bagaimana bisa aku membuka hati. Sepertinya, menjadikan Rena sebagai kekasih juga tidak buruk! Wanita itu memiliki sisi yang mirip dengan Aurora. Apa aku jahat jika menjadikan Rena sebagai bayang-bayang Aurora?” ucap Luke di dalam hatinya. Luke menggelengkan kepalanya, ia memerhatikan kue cokelat yang dibuat Rena. Wanita itu ternyata memang pandai memasak. Beruntung semua masakan yang dibuat Rena sangat cocok dengan lidahnya. Rena mengambil cream untuk menghias cake tersebut. Ia juga memberikan potongan buah untuk menghiasi kue tersebut. Luke yang berada di depan Rena pun ikut membantu menghiasnya. Ia merasa sangat senang bisa mengerjakan hal sekecil ini. Entah kenapa hati Luke yang sejak tadi memikirkan mantan kekasih hatinya itu. Kini menjadi sedikit tenang. Luke merasa lebih baik saat bisa menghias cake bersama dengan sekretaris mantan kekasihnya itu. Rena tersenyum. Wajah mereka yang begitu dekat membuat hatinya berdebar. Wanita cantik itu menjadi gugup sendiri. Rena mencoba mengatur napasnya lalu mengambil pisau dan piring untuk memberikan cake itu pada Luke. “Sejak kapan kamu suka membuat kue? Dan semua masakan kamu juga enak,” puji Luke. Rena tersenyum sambil meletakan piringnya di atas meja. Ia memotongnya lalu memberikannya ke Luke. “Sejak masih Sekolah, aku suka membuatnya. Dan setiap aku libur, aku akan membantu Ibu membuat kue dan juga memasak. Hal ini selalu aku lakukan di waktu luang saja.” “Pantas saja kamu jadi pandai memasak ya.” Rena tersenyum saat mendapatkan pujian dari pria tampan yang ada di hadapannya itu. Lama-lama hatinya bisa goyah jika harus berhadapan dengan kelembutan Luke. Biar bagaimana pun, Rena tahu sifat pria yang ada di hadapannya itu. Kisah cintanya dengan atasannya juga ia sangat tahu sekali. Maka dari itu, bagaimana jika Aurora tahu kalau saat ini ia sedang bersama dengan mantannya? Pasti Aurora akan memberikan banyak pertanyaan yang berentet padanya. Rena mengambil potongan cake-nya. Untung saja sudah mulai dingin. Rena memerhatikan Luke yang sedang mencoba cake buatannya. Suasana yang terasa dingin ini kini menjadi lebih hangat. “Bagaimana rasanya?” tanya Rena yang sejak tadi memang menunggu respon dari pria yang sedang duduk di hadapannya itu. “Enak, perpaduan dari manis dan pahitnya itu pas banget ditambah lagi rasa asam dari buah yang buat rasa cake-nya jadi enggak enek. Lain kali boleh aku minta buatkan ini lagi?” Entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Luke. Ia tidak ingin menyudahinya. Cake buatan Rena memang sangat enak dan ia benar-benar menyukainya. Bahkan pria itu tidak sungkan untuk minta tambah lagi. “Syukurlah jika Anda menyukainya. Saya pikir ada yang kurang rasanya. Ini boleh untuk Anda semua, saya cukup segini saja,” ucap Rena sambil mendorong piring cake itu ke hadapan Luke. “Benarkah? Kamu tidak menginginkannya lagi?” tanya Luke yang entah kenapa ia merasa senang sekali. “Hmmm, saya sudah mengambil potongan yang cukup besar, bahkan hampir setengahnya,” ucap Rena sambil memperlihatkan deretan giginya. Luke tertawa, ia mengangguk lalu melihat Rena yang sedang menambahkan lagi cream dan potongan buahnya. “Sepertinya kamu sangat suka dengan cake?” Rena mengangguk. “Iya, cake ini makanan yang sangat enak dan bisa mengganjal perut di saat terdesak.” “Jadi kamu sering telat makan?” Rena tersenyum lalu mengangguk lagi. “Iya, sibuknya pekerjaan yang aku jalani membuat aku harus bisa mengatur waktu. Jika sampai telat makan, maka aku akan sediakan cake yang bisa membantu aku menghilangkan sedikit rasa lapar.” “Apa bos kamu sangat mengerikan sekali? Sampai-sampai kamu melupakan makan?” “Tidak bukan seperti itu, hanya saja saya yang keras kepala. Saya selalu mengabaikan makan siang jika sedang mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Bahkan atasan saya selalu memarahi saya karena telat makan terus. Dia wanita yang baik,” ucap Rena lalu ia menundukan wajahnya. Takut jika ini justru membuka luka di hati Luke. Luke tersenyum, ia tahu bagaimana sifat mantan kekasihnya itu. Wanita itu memang selalu memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Aurora memang wanita yang sangat berbeda. Dia benar-benar perhatian dan penyayang. Tidak peduli sesibuk apa pun dirinya, wanita itu akan selalu mengingatkan orang sekitarnya untuk makan. Tapi dia sendiri justru tidak bisa mengurus dirinya sendiri. ‘Ah, aku jadi semakin merindukannya. Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku harus bisa membiarkannya hidup bahagia. Maka, aku juga akan bahagia.’ Luke memotong cake-nya lagi. Memakannya, menikmati lembutnya kue itu. Pandangannya kembali tertuju menatap wanita cantik yang ada di hadapannya. Membuat Rena yang menyadarinya jadi salah tingkah sendiri. Ia tidak biasa ditatap dengan intens seperti ini. “Mmmm, Pak. Ma-maksud saya Luke, ah tidak. Luke kamu mau--?” tanya Rena yang jadi semakin gugup saja. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD