Larut Dalam Kenangan Masa Lalu

1077 Words
Luke masih terhanyut di dalam lamunannya. Ia mengabaikan Rena yang ada di ruang tamu. Sejak tadi, wanita itu tidak memiliki kegiatan. Rena memilih menonton televisi usai membersihkan diri. Rena sengaja berada di ruang tamu. Ia tidak ingin jika Luke membutuhkan bantuannya, ia tidak ada di hadapan pria itu. Sebagai rasa tanggung jawab atas semua yang terjadi dengan mantan kekasih bosnya itu. Membuat Rena harus siap siaga. Rena melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sudah waktunya ia menyiapkan makan siang untuk Luke. Rena jadi merasa sangat sedih, seharusnya ia bisa menikmati liburan ini. Bukan malah diam di dalam sebuah apartemen ini. Rena mendesah dengan kasar. Menyesal pun tidak ada gunanya juga. Mau bagaimana pun saat ini ia masih hidup dan itu semua berkat bantuan Luke. Jika tidak ada pria itu, mungkin saja Rena sudah tidak ada di dunia ini lagi. ‘Ayo Rena, kamu tidak boleh mengeluh ya. Jangan sampai kamu mengecewakan Luke. Biar bagaimana pun. Pria itu pernah mengisi hati Rara.’ Rena mencoba untuk tersenyum, ia tidak ingin melakukan semua ini dengan setengah hati. Rena harus bisa meninggalkan kesan baik untuk Luke. Biar bagaimana pun, mereka berdua kenal secara baik-baik. Aroma masakkan mulai memenuhi ruang apartemen. Bahkan Luke yang ada di kamar bisa menciumnya. Entah dari mana datangnya aroma itu, tapi indera penciumannya sangat tajam sekali. Luke membuyarkan lamunannya. Sejak tadi pria itu terus memikirkan mantan kekasihnya. Bayang-bayang Aurora terus menghantuinya. Ia sama sekali tidak pernah melupakan semua kenangan manis yang pernah dilakukannya bersama dengan Aurora. Semua hidup Luke sudah ia serahkan ke mantan kekasihnya itu. Jika Aurora pergi, walau ia mengikhlaskannya. Tetap saja, separuh jiwanya pun ikut pergi. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Aurora, tidak ada yang bisa menghapus nama indah itu di dalam hati Luke. Walau ada seribu wanita cantik, tetap Aurora yang selalu melekat di hatinya. Luke merasa sangat tidak berdaya, selama ini ia hanya pura-pura untuk baik-baik saja. Tapi nyatanya ia tidak bisa baik-baik saja. Jika sudah menyendiri seperti ini. Rasanya Luke ingin sekali menangis dan meluapkan semuanya. Luke ini tipe pria perasa dan penyayang. Ia tidak pernah memikirkan untuk mencari pengganti Aurora. Entah sampai kapan, nama mantan kekasih terindahnya itu akan selalu melekat di sana. Luke meletakkan foto Aurora yang masih suka ia bawa ke mana-mana. Foto di mana pertama kali ia mengambil gambar wanita cantik itu. Walau saat ini Aurora sedang hamil besar, kecantikannya semakin terlihat bersinar. Jika mengingat pertemuan terakhir dengan wanita itu, membuat hati Luke menjadi teduh. Senyum manisnya, sinar matanya yang indah, ucapannya yang lembut membuat Luke semakin merindukannya. “Aku bisa gila, lebih baik aku tidak usah kembali saja. Jika melihatnya dengan pria lain, hati ini masih saja seperti ditusuk-tusuk,” ucap Luke sambil menepuk bagian depan tubuhnya yang masih menyimpan sejuta luka di sana. ‘Kapan aku bisa berdamai dengan masa lalu? Sedangkan hatiku masih ingin memilikinya. Walau ragaku tak lagi bersama dengannya, tapi hati ini. Selamanya akan menjadi miliknya.’ Luke masih terus memikirkan mantan terindahnya, sampai akhirnya sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya. “Aurora …” Luke menggelengkan kepalanya. Ia jadi teringan wanita itu lagi. Dulu jika ia sedang sakit, Aurora pasti akan datang kepadanya, wanita itu akan membawakan makanannya dan memasang wajah cemasnya. Rasa rindu di dalam hatinya semakin menggebu-gebu. “Luke, apa kamu sedang tidur?” tanya Rena dari balik pintu kamar Luke. Luke membuyarkan lamunannya lagi. Ia bergegas menuju pintu dan membukanya. “Maaf jika aku mengganggu kamu. Tapi ini sudah waktunya untuk makan siang dan minum obat.” “Kamu ternyata lebih cerewet dari seorang suster di rumah sakit ya.” Rena yang mendengarnya langsung mencebik dengan kesal. Padahal pria itu yang minta diperhatikan, bukan diperhatikan sih. Eummm, apa ya? Dirawat, sama saja itu. Tapi malah mengejekku, batin Rena. Luke mengabaikan Rena yang masih diam mematung, pria itu sudah berada di ruang makan. Entah kenapa saat melihat masakkan Rena, lagi-lagi ia seperti melihat masakkan Aurora. Untuk sesaat Luke merasa terobati. Rindu yang terlalu berat itu mampu mereda saat melihat hasil masakan Rena yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya. Luke mengernyitkan dahinya saat melihat Rena masih diam di depan pintu kamarnya. Apa ada yang salah dengan wanita itu? “Kenapa kamu berdiri di sana?” Rena membuyarkan lamunannya. Ia langsung mendekati Luke. ‘Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku jadi banyak melamun seperti ini?’ pikir Rena. Rena tidak ingin ambil pusing, ia memilih untuk duduk dan menyiapkan makanan untuk Luke. “Kalau seperti ini, aku sudah seperti istrinya saja. Kenapa juga aku bisa berpikir jauh seperti itu ya? Ahh, rasanya aku sudah tidak waras lagi!” ucap Rena di dalam hatinya. Sudah lama memang Rena menyendiri usai putus dari mantan kekasihnya yang sudah menghianatinya. Sejak saat itu juga, Rena menutup dirinya. Ia sengaja menyibukkan diri dengan segala pekerjaannya. Hingga membuatnya tidak pernah berpikir akan mencari cinta yang lain untuk hatinya yang sepi itu. Rena selalu menutup diri, ia selalu tampil ceria di saat yang tepat. Rena akan selalu bersikap professional. Ia tidak akan pernah menyatukan urusan asmara dengan pekerjaannya. Bertahun-tahun bekerja dengan Aruroa membuat Rena merasa senang, ia bisa menjadi Adik dan teman untuk bosnya itu. Jadi Rena tidak pernah merasa kesepian. “Kenapa aku jadi merindukannya? Apa dia baik-baik saja di tempat yang tidak aku ketahui? Kenapa aku masih saja memikirkannya? Padahal dia sudah menyakiti aku berkali-kali,” ucap Rena di dalam hatinya lagi. Hatinya sungguh terasa sangat hampa. Rena melamun, ia hanya mengacak-acak makanannya dengan menggunakan garpu yang ada di tangannya itu. Rena sedang berpikir, kapan ia bisa merubah kehidupannya? Membuka hati untuk seseorang yang bisa menerima apa adanya. Apa lagi kesehariannya selalu disibukkan dengan pekerjaan saja. Luke memerhatikan wanita yang ada di hadapannya. Kenapa ia merasa ada yang aneh dengan Rena kali ini, apa aku sudah menyakitinya tadi? Aku sungguh tidak tahu, dan aku juga tidak yakin jika harus bertanya padanya. Luke mengangkat kedua bahunya dengan acuh. Memang ini yang seharusnya ia lakukan bukan? Lagi pula, ia menolong Rena karena wanita itu adalah sekretaris mantannya. Itulah kata-kata yang selalu terlintas di pikiran Luke. Lagi pula kenapa aku harus memikirkannya? Kita bicara juga hanya sekedar say hallo saja. Lantas kenapa sekarang harus mencemaskannya? Aneh, ada apa dengan aku? Seharusnya aku tidak peduli. Kenapa aku justru memikirkannya sekarang? Luke mencoba menepiskan pikirannya, ia tidak ingin terjadi salah paham nantinya hingga membuat hati mereka terluka. Luke harus bisa kembali ke dirinya sendiri. Walau ia orang baik, tetap saja ia tidak boleh memiliki perasaan pada siapa pun. ‘Apa? Perasaan? Tidak, ini tidak mungkin terjadi pada diriku,’ pikir Luke. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD