Rena terus memandangi wajah Luke yang terlihat mencemaskannya. Yang ia tahu dari atasannya, pria ini memang sangat baik. Dan ternyata memang terbukti benar, bukan hanya ucapan di bibir saja.
Luke mangangkat wajahnya. Kedua manik mata mereka saling bertemu. Beberapa detik mereka masih saling memandang.
Luke seperti melihat Aurora di hadapannya. Wanita cantik yang merupakan belahan jiwanya. Hingga detik ini bayang-bayang mantan kekasihnya terus menghantui pikirannya. Luke sendiri tidak tahu bagaimana cara menghapus nama Aurora dari dalam hatinya itu.
Rena sendiri jadi terpesona oleh ketampanan mantan kekasih bosnya itu. Entah kenapa wajah tampannya sangat menenangkan hati jika di pandang dari jarak yang begitu dekat ini. Semakin dekat lagi dan Luke mulai mendekati bibirnya ke bibir Rena.
Rena yang tersadar bergegas membuyarkan lamunannya.
“Euumm, Luke. A-aku siapkan makanan untuk kamu dulu. Pasti kamu sudah lapar.” Rena jadi tergagap sendiri, ia jadi salah tingkah dan hatinya juga ikut kacau. Jantungnya kembali berdebar dengan hebat. Ia tidak menyangka akan melakukan kontak fisik dengan seorang pria dalam jarak yang sangat dekat setelah sekian lama menjomblo.
Luke yang menyadarinya langsung merutuki dirinya sendiri. Ia baru tersadar jika yang ada di hadapannya bukan Aurora. Dan hampir saja Luke ingin mencium wanita yang ada di hadapannya.
Luke merapihkan kotak obatnya. Ia langsung berdiri dan meletakkan kembali kotak obat itu di tempat semula. Luke benar-benar lupa jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Rena bukan Aurora.
“Sampai kapan aku bisa melupakan kamu, Ra? Apa tidak ada kesempatan lagi untuk kita jalani bersama?” ucap Luke di dalam hatinya.
Luke memilih menunggu Rena di ruang televisi saja. Mungkin dengan menonton televisi ia bisa melupakan apa yang sudah terjadi.
Sesekali Luke melirik Rena, ada rasa tidak enak di dalam hatinya. Luke sedang berpikir, bagaimana caranya meminta maaf pada wanita itu. Rena pasti sudah salah sangka padanya. Wanita itu pasti akan beranggapan jika dirinya merupakan pria tidak tahu malu!
Luke terus memikirkannya. Kenapa ia jadi kacau seperti ini. Rasanya benar-benar tidak bersemangat sama sekali.
Luke memerhatikan Rena yang terlihat sangat cekatan. Punggungnya benar-benar sama seperti punggung Aurora. Sinar matanya juga sangat mirip, makanya tadi Luke sampai terpana saat memandangi wanita itu.
Rena sengaja tidak membalikkan tubuhnya. Ia bisa melihat bayang-bayang Luke dari pantulan kaca yang ada di dapur. Rena tidak ingin aktivitasnya terganggu dan ia tidak ingin menjadi salah mengartikan semua ini.
Rena menata hasil masakkannya di atas piring. Ia tersenyum lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Luke yang sudah menunggunya.
“Luke, makan dulu. Maaf jika membuat kamu menunggu lama.”
Luke menganggukkan kepalanya. Ia berdiri lalu menuju meja makan yang ukurannya tidak terlalu besar.
Sejak tadi Luke bisa merasakan aroma masakkan yang kelihatannya enak. Dan lagi-lagi Luke dibuat terdiam saat melihat masakkan yang Rena buat.
Luke teringat Aurora. Biasanya wanita itu akan membuat sarapan untuknya. Dan menu yang dibuat oleh Rena ini benar-benar sama seperti yang dibuat oleh Aurora. Entah apa Rena sengaja melakukan ini semua. Atau memang Rena tidak mengetahuinya sama sekali.
Rena menaruh kopi yang baru saja dibuatnya di hadapan Luke. Wanita itu menatap sejenak pria yang ada di hadapannya sambil mengernyitkan dahinya.
“Ada apa, Luke? Apa kamu tidak menyukainya?”
Mendengar suara Rena membuat Luke membuyarkan lamunannya. Ia jadi salah tingkah sendiri dan nada bicaranya mulai tergagap.
“A-aku suka.”
Rena tersenyum. “Kalau gitu dihabiskan.”
Rena langsung menikmati santapannya. Menu pagi ini memang agak sedikit banyak dan agak sedikit berat. Menurut Rena, ia memerlukan banyak tenaga untuk mengurus Luke yang sudah terluka karena kesalahannya.
Luke mencoba memakan sarapannya. Omelet, ayam panggang dan brokoli panggang. Semua menu simple ini sering sekali dibuat oleh Aurora. Selain mudah, makanan ini juga cukup menyehatkan.
Luke sangat menikmatinya. Ia jadi merindukan masakkan mantan kekasihnya itu. Bayang-bayang wanita itu tak bisa Luke hilangkan. Ia masih terlalu mencintainya. Hingga detik ini pikiran dan hati Luke masih untuk satu nama yaitu Aurora.
Rena memerhatikan pria yang ada di hadapannya. Entah kenapa hatinya merasa bahagia saat tahu Luke menyukai makanan ini. Padahal, bosnya tidak pernah memberi tahu apa yang disukai oleh mantan kekasihnya ini.
Rena merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Entahlah, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam sana.
Rena mengukir senyum bahagianya. Ia mulai terbawa suasana dan sedetik kemudian. Rena mencoba menetralkan pikiran dan ekspresi wajahnya. Jangan sampai Luke tahu jika ia sedang berbunga-bunga. Bisa-bisa Luke menganggap dirinya wanita tidak waras lagi.
Luke langsung meninggalkan ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata. Hatinya begitu bergejolak. Ia sama sekali merasa jika mantan kekasih yang sangat dicintainya itu ada di sisinya. Tapi, kenyataannya. Rena yang ada di hadapannya. Entah sampai kapan Luke merasakan kegilaan yang seperti ini. Ia merasa dunia ini benar-benar penuh dengan sandiwara dan selalu saja mempermainkannya.
Rena menatap punggung Luke, ia mengangkat kedua bahunya dengan acuh dan bibirnya ikut mengerucut. Rena tidak tahu apa yang membuat Lue tiba-tiba menjadi acuh. Ia juga tidak tahu apa dirinya sudah melakukan kesalahan atau tidak.
Rena memilih untuk merapihkan piring dan gelas kotor yang berada di atas meja makan. Ia membawanya ke dapur lalu mencucinya.
Di dalam kamar.
Luke sedang menatap layar ponselnya. Memerhatikan foto wanita yang selalu ada di hatinya.
“Ra, kenapa kamu tega ninggalin aku? Kenapa harus kamu orangnya? Ra, kamu tahu kan kalau aku sangat mencintai kamu. Dan aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Apa …, jika aku mati kamu akan menyesalinya?”
Luke mendesah dengan kasar. Isi kepalanya sedang tidak baik-baik saja jika menyangkut mantan kekasihnya. Masih ada perasaan tidak rela jika melihat mantannya sudah menikah dengan pria lain.
Luke masih memerhatikan beberapa foto mantan kekasihnya yang masih ia simpan di ponselnya. Foto di mana mereka masih bersama dan foto di mana Luke sering mengambilnya secara diam-diam. Semuanya masih tersimpan dengan rapih di dalam ponsel tersebut. Terutama di hatinya, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Aurora dari dalam hati Luke.
“Aku masih sangat mencintai kamu, Ra. Sangat, sangat, mencintai. Apa kamu bisa mendengarnya? Bagaimana kamu di sana? Apa suami kamu selalu memperlakukan kamu dengan baik?” ucap Luke lirih. Hatinya masih sangat terluka walau ia sudah berpisah berbulan-bulan dengan mantan kekasih terindahnya itu.
“Semua kenangan tidak akan pernah hilang, semua cinta yang aku berikan padamu begitu tulus. Sampai kapan pun akan selalu tertata dengan rapih di hatiku. Aurora, nama yang indah …, nama yang sangat sulit untuk dilupakan. Nama yang akan selalu terkenang di hatiku ini,” ucap Luke di dalam hatinya.
Bersambung