Punggung Rena

1105 Words
Entah apa yang ada di pikiran Luke saat ini. Padahal, ia berharap jika dirinya bisa melupakan bayang-bayang mantan kekasihnya yang sudah menikah. Tapi, semakin ia berusaha keras untuk melupakannya. Maka semakin sulit ia melupakan cinta pertamanya itu. Luke mendesah. Membuat wanita yang ada di hadapannya diam-diam memerhatikannya. ‘Apa makanannya nggak enak ya? Jadinya dia tidak memakannya? Aku kan tidak tahu dia suka makanan apa? Masa aku harus tanya dulu sama Rara (Aurora atau biasa dipanggil Rara. Dia adalah mantan kekasih Luke.)’ Rena jadi memikirkannya. “Eummm, Luke. Apa makanannya tidak enak?” “Heh?” Luke membuyarkan lamunannya. “Enak kok. Kamu tahu saja kalau saya sangat menyukai makanan ini.” Jelas saja Luke jujur. Tapi lebih tepatnya Aurora yang sangat menyukai makanan ini. Dan seiring berjalannya waktu, Luke jadi menyukai menu makanan ini juga. Rena menganggukkan kepalanya. “Syukurlah kalau kamu suka. Saya pikir kamu tidak menyukainya. Soalnya …, dari tadi saya lihat kamu hanya mengacaknya saja.” Luke diam mematung. Ia menatap makanannya lalu menatap wanita yang ada di hadapannya. Rasanya ini masih seperti mimpi saja bisa berada dengan wanita yang merupakan sekretaris mantan kekasihnya. Luke menghela napasnya lalu ia memakan makanannya. Seharusnya ia tidak perlu mengingat masa lalunya lagi. Semua kenangan tentang Aurora sudah berakhir. Tapi, Luke merasa jika ia masih ingin menjaga wanita yang dicintainya itu. Walau dengan cara yang berbeda. “Luke, kamu minum obatnya ya terus istirahat. Saya beresin ini dulu,” ucap Rena. Ia lebih dulu menyiapkan obat untuk Luke dan setelah itu baru membereskan sisa makanannya. Luke meminumnya lalu ia mengistirahatkan tubuhnya. Luke menatap kepergian Rena. Punggungnya mirip sekali dengan punggung mantan kekasihnya. Luke menggelengkan kepalanya. “Lebih baik aku istirahat saja,” gumam Luke lalu ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Rena menuju dapur. Ia memerhatikan setiap ruang ini. Rena membuang napasnya panjang. Dan wajahnya berubah menjadi sendu. “Padahal seharusnya aku sedang bersenang-senang sekarang. Tapi kenapa aku malah terjebak di sini. Dasar copet enggak tahu diri. Bisa-bisanya dia ingin mengambil tasku,” gerutu Rena. Usai membereskan semuanya, Rena memilih beristirahat di sofa dan ia pun tertidur di sana. Luke yang merasa bosan mencoba keluar dari kamarnya. Dahinya langsung mengernyit, melihat Rena yang terlihat kelelahan. Luke mendesah lalu ia kembali ke kamarnya. Pria itu mengambil selimut tebal. Luke berjalan keluar, ia melihat wajah Rena yang terlihat sangat tenang sekali. Wanita ini kalau dilihat-lihat cantik juga, batin Luke. Luke menyelimuti tubuh kecil Rena. Ia kembali menatap wajah Rena, memerhatikannya lalu tersenyum. Sebelah tangan Luke terulur, ia menyingkirkan seringai rambut Rena yang menutupi wajahnya. Luke merasakan debaran yang masih tidak ia ketahui, ada apa sebenarnya ini. Kenapa melihat Rena tertidur seperti ini bisa membuatnya berdebar. Luke memegang dadanya, lalu ia memilih mengalihkan pandangannya. Luke tidak ingin Rena tahu kalau sejak tadi ia ada di sana. Dan Luke hampir melupakan tujuannya keluar dari dalam kamar. Luke menuju dapur, ia mengambil air minum dan membawanya ke kamar. Pasalnya air di dalam kamarnya sudah habis dan Luke lupa meminta tolong Rena untuk menambahkannya tadi. Luke melihat keluar jendela dari dalam kamarnya. Ia kembali memegang dadanya. Rasanya benar-benar terasa aneh sekali, ia masih tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. “Apa aku harus menemui dokter lagi?” gumam Luke. Luke menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin memikirkan hal yang aneh-aneh. Saat ini, ia harus bisa fokus dan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Luke kembali ke ranjang tidurnya. Ia mencoba memejamkan kedua matanya dan lagi-lagi bayang-bayang mantan kekasihnya kembali muncul. “Kenapa, kenapa aku belum bisa melupakan kamu?” ucap Luke lirih. Luke memang belum bisa move on dari mantan kekasihnya. Apa lagi hingga detik ini, hubungan mereka masih baik-baik saja. Luke masih suka menemui mantan kekasih tercintanya. Luke jadi membayangkan, andai saja anak yang ada di dalam kandungan Aurora adalah anaknya, sudah pasti ia akan merasa sangat bahagia. Tapi ternyata, semua itu hanya mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Luke menjambak rambutnya sendiri. Kenapa di saat ia pergi jauh dan ingin melupakan segalanya. Justru semua bayang-bayang tentang masa lalunya justru terus menghantuinya. Rasanya pergi jauh pun tak ada gunanya juga. Semuanya sama saja, sama-sama menyakitkan. Esok hari. Rena mulai bergeliat, ia merasakan tubuhnya yang terasa sakit. Rena membuka kedua matanya, mengedipkannya beberapa kali agar bisa melihat dengan jelas. Rena bangun dan melihat selimut di tubuhnya. Pandangannya langsung tertuju ke arah kamar di mana Luke berada. “Apa mungkin tadi malam Luke keluar?” gumam Rena. Rena melipat selimutnya lalu ia merapihkan ikatan rambutnya. Rena harus mulai menyiapkan sarapan untuk Luke. Rena mendesah lalu ia bergegas menuju dapur. Rena mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ada di sana. Ia akan menyiapkan apa saja yang ia bisa. Entah Luke menyukainya atau tidak, yang penting ia sudah membuatnya. Rena terlihat sangat cekatan sekali. Ia terlihat serius dengan pisau yang ada di tangannya. Tanpa ia sadari di belakangnya sudah ada Luke yang memerhatikannya sejak tadi. Luke duduk di balik meja bar yang ada di apartemen ini. Ia terus menatap punggung wanita yang ada di hadapannya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, ia hanya ingin memerhatikannya saja. Apa mungkin karena ia mengingat mantan kekasihnya? Mmm, atau mungkin memang ia sadar jika punggung yang dipandangnya itu adalah punggung Rena. Rena membalikkan tubuhnya dan ia mengerjap kaget. Pisau yang ada di tangannya langsung terjatuh dan mengenai kakinya. “Aaahhh.” Rena merutuki dirinya sendiri. Ia langsung berjongkok untuk mengambil pisaunya dan melihat kakinya yang tergores. Luke yang melihatnya jadi khawatir. “Ren, kamu tidak apa-apa? Kenapa bisa jadi seperti ini?” “Saya tidak apa-apa. Kamu duduk sana, kan masih sakit.” “Ini harus diobati. Biar aku obati.” “Eumm, tidak usah Luke. Ini hanya luka gores saja.” “Rena, jika tidak diobati nanti bisa kena infeksi. Kalau kamu sakit, siapa yang akan bertanggung jawab mengurus saya?” ucap Luke serius. Rena menundukkan kepalanya. Ia bahkan lupa jika saat ini sedang terjebak di sini. Kenapa juga harus lalai seperti ini, kenapa aku jadi ceroboh seperti ini. Lihat Luke, dia lagi sakit tapi dia terlihat sangat cemas. Ya Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini sih? batin Rena. Luke membawa Rena ke sofa. Ia mengambil sebelah kaki Rena. Padahal hanya luka gores saja, tapi wajah Luke terlihat sangat khawatir sekali. Rena yang melihat ini semuanya jadi merasakan sesuatu yang aneh. Apa lagi saat ini Luke menyentuh kakinya. Membuat rambut-rambut halus di tubuh Rena mulai berdiri. Rena merintih kesakitan. Merasakan perih dari lukanya. Padahal hanya goresan yang tidak terlalu besar, tapi cukup sakit juga. “Lain kali hati-hati.” Rena terus memerhatikan wajah Luke. Ia tidak sadar jika pria yang ada di hadapannya sedang mengajaknya berbicara dan rasanya sangat aneh sekali berada dekat dengan Luke saat ini. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD