Degupan jantung Rena kembali tak normal, sangat cepat sekali. Rena sampai tidak bisa mengaturnya. Padahal ia tidak pernah berpikir akan merawat Luke di dalam satu apartemen yang sama. Apa lagi Rena tahu, jika pria yang sedang terbaring lemah itu adalah mantan kekasih dari bosnya di tempat ia bekerja.
Luke memerhatikan Rena yang berdiri di dekat tempat sampah Luke tahu, pasti ia sudah melakukan suatu kesalahan. Bagaimana cara Luke agar ia bisa melupakan mantan terindahnya.
Bayang-bayang Aurora terus menghantui dirinya. Bahkan ia melihat Rena seperti melihat Auroranya. Wanita yang tidak pernah bisa dilupakannya.
Rena mencoba membuyarkan lamunannya. Ia memilih menuju kamar mandi saja. Rena akan mencoba menenangkan hatinya lebih dulu. Ia sendiri tidak tahu kenapa merasa berdebar seperti ini.
Luke jadi cemas, kenapa Rena lama sekali berada di dalam kamar mandi. Luke ingin menghampirinya dan baru saja ia duduk, Rena keluar dari dalam kamar mandi.
“Pak, apa Bapak ingin sesuatu? Kenapa anda duduk? Apa tidak sakit?” tanya Rena hingga membuat Luke merasa telinganya sangat sakit.
Rena sangat cerewet sekali. Rasanya ingin sekali ia mengocehi wanita yang ada di hadapannya itu. Tapi tidak mungkin karena Rena adalah sekretaris mantan kekasihnya.
“Tidak, saya pikir kamu kenapa-kenapa. Makanya saya ingin samperin.”
Rena kaget, ia tidak menyangka jika Luke mengkhawatirkannya. Luke ternyata memang sangat baik, benar seperti yang diucapkan oleh Aurora saat itu. Tapi masa iya Luke mencemaskannya, ah sudahlah. Kenapa aku terus menghayal yang tidak-tidak.
“Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu. Kalau saya kembali ke hotel dulu tidak apa-apa kan? Saya akan mengambil pakaian saya dulu di sana.”
“Tidak masalah, biar aku minta seseorang untuk mengantar kamu ke sana.”
“Tidak perlu Luke. Ini masih siang juga. Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu ingin aku bawakan apa?”
“Apa saja. Yang penting kamu harus kembali. Ingat tanggung jawab kamu Ren!”
Rena jadi semakin merasa bersalah. Seharusnya semua ini tidak terjadi. Dan saat ini ia merasa sedang berada di dalam sebuah penjara saja.
“Ya sudah kalau gitu saya jalan sekarang saja. Biar saya cepat kembali ke sini. Kamu istirahat ya, jangan enggak,” ucap Rena dan Luke hanya mengangguk.
Ya seharusnya memang seperti ini. Luke yang ia kenal memang baik dan tidak banyak bicara dengan wanita asing. Kadang pria ini terlihat dingin, dan kadang Luke juga terlihat sangat baik. Rena sampai tidak bisa menebaknya.
Rena pergi meninggalkan Luke sendirian. Begitu keluar dari ruangan Luke, Rena bisa bernafas dengan lega. Andai saja ia bisa menikmati liburannya. Tapi rasanya semua ini hanya mimpi. Niat hati untuk bersenang-senang ternyata malah menjadi sebuah mimpi buruk baginya.
Rena mencari taksi. Ia langsung menuju hotel. Rena tidak ingin berjalan kaki di sembarang jalan atau ke tempat yang sepi lagi. Ia masih trauma dengan kejadian tadi malam.
Di sepanjang perjalanan menuju hotel. Rena terus menatap bangunan-bangunan yang dilewatinya. Rena melihat ada sebuah rumah makan yang sangat ramai. Ia pun bertanya dengan sopirnya.
“Sepertinya aku harus mencobanya. Aku akan membungkusnya nanti,” ucap Rena di dalam hatinya.
“Pak, nanti bisa tunggu saya sebentar. Saya hanya ingin mengambil koper saja. Nanti kita pergi ke rumah makan tadi bisa?” tanya Rena. (Anggap saja selama berada di Jepang, ia menggunakan Bahasa Inggris.)
“Baik Nona,” jawab sopir.
Rena senang, dengan begitu ia tidak perlu susah-susah mencari kendaraan lagi. Lebih baik ia membayar mahal sekalian dan sudah tahu seperti apa juga sopir yang mengantarnya.
Sesampainya di hotel, Rena langsung menuju kamarnya. Ia merapihkan semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya.
Rena langsung check out dari hotel. Ia harus merawat Luke sampai benar-benar sembuh. Rena yang sudah berada di taksi lagi pun langsung mengeluarkan ponselnya. Ia akan mengirimkan pesan ke bosnya jika ia akan meminta tambahan cuti.
“Maafin aku Ra, tapi nanti jika sudah kembali ke Jakarta, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu,” ucap Rena di dalam hatinya.
“Nona, biar saya pesankan saja. Biar cepat. Kalau Nona yang turun takut nanti lama menunggunya.”
“Ah begitu ya, boleh deh. Tolong pesankan yang enak saja ya Pak,” ucap Rena dan sang sopir langsung mengangguk. Ia juga menerima uang dari Rena untuk membeli makanannya.
Rena memerhatikan rumah makan yang ada di hadapannya itu. Tidak terlalu besar. Tapi sangat ramai. Terlihat ada yang menunggu antrian di depan restoran yang Rena tidak ketahui menjual menu makanan apa. Yang ia lihat pasti sangat enak.
Benar saja sopir itu terlihat sudah kembali setelah Rena menunggu kurang lebih empat puluh menit. Rena tersenyum dengan sangat senang sekali.
“Cepat juga ya Pak,” ucap Rena.
“Iya, di sini kalau sopir yang beli ada layanan khusus. Jadi antriannya beda,” ucap sopir dan Rena menganggukkan kepalanya.
Sang sopir langsung melajukan mobilnya. Mereka kembali ke rumah sakit. Dan Rena memberikan uang lebih untuk sopir yang sudah mengantarkannya itu.
Sesampainya di rumah sakit, Rena langsung masuk ke dalam. Ia menarik kopernya sambil menenteng kantong makanan yang tadi ia beli. Aromanya sangat menggoda. Rena berharap jika Luke menyukainya. Rena tidak tahu apa Luke menyukainya atau tidak.
Rena membuka pintu ruang rawat di mana Luke berada. Rena melihat Luke yang sedang tidur. Ia pun dengan hati-hati masuk ke dalam. Rena menaruh kopernya dan meletakkan kantong makanannya di atas meja.
Rena memerhatikan raut wajah Luke. Pria ini terlihat sangat tampan sekali. Rena jadi tersenyum sendiri. Entah kenapa ia merasa tenang melihat wajah teduh Luke saat tertidur.
Rena larut dalam lamunannya. Ia masih berdiri sambil menatap wajah Luke. Dan tanpa Rena sadari jika Luke sudah membuka kedua matanya.
“Ren …, kenapa berdiri saja? Apa telah terjadi sesuatu?”
Rena membuyarkan lamunannya. Ia langsung tersenyum. “Anda kapan bangunnya? Ah …, saya hampir lupa. Saya bawakan anda makanan. Saya juga tidak tahu apa namanya. Tadi ramai sekali. Dan sopir yang antar membantuku untuk memesan makanannya,” oceh Rena.
Luke hanya terdiam mendengar ucapan Rena yang sejak tadi mengoceh saja. Luke sendiri tidak mengerti apa yang diucapkan Rena. Kenapa para wanita sangat berisik sekali. Luke sampai berpikir jika ia ingin menutup bibir wanita ini dengan kain atau lem perekat.
Luke menggaruk telinganya. Ia mencium aroma masakkannya yang sangat harum. Perut Luke yang tadinya tidak lapar, kini ia menjadi sangat lapar sekali.
Saat melihat makanan yang dibuka oleh Rena. Mata Luke sangat senang, ia jadi ingat jika Aurora sangat menyukai jenis makanan ini. Luke melihat ada sushi dan yakitori. Makanan ini memang sangat terkenal di kota ini. Luke jelas menyukainya. Ia sangat ingat jika memesan menu ini, ia dan Aurora akan selalu rebutan.
“Luke, hello … Pak, makan dulu ini. Kenapa malah melamun?” tanya Rena dan Luke membuyarkan lamunannya. Ia menatap jika wanita yang ada di hadapannya ini adalah Rena bukan Aurora.
Bersambung