Merawat Luke

1094 Words
“Kamu cerewet sekali. Mirip seperti Rara,” ucap Luke spontan.   DEG!   Degup jantung Rena terus berdebar dengan hebat. Ia merasa seperti ada getaran yang aneh di dalam dadanya.   Rena membantu Luke minum. Ia tersenyum sambil meletakkan gelas air itu ke atas meja nakas lagi.   “Tapi saya bukan Rara Pak.”   DEG!   Kali ini jantung Luke yang berdebar dengan hebat. Ia tahu dan sadar jika Rena bukanlah mantan kekasihnya. Luke jadi berpikir, apa mungkin Rena tersinggung dengan ucapannya tadi?   “Bapak tinggal di mana? Saya harus menghubungi siapa?”   “Kamu tidak perlu menghubungi siapa-siapa. Apa kamu ada pekerjaan pergi ke sini?”   “Tidak, saya sedang liburan. Maaf sudah membuat Bapak jadi terluka. Kalau saja Bapak tidak menolong saya tadi malam. Pasti Bapak tidak akan terluka.”   Luke terkekeh. “Bisa panggil saya Luke saja? saya bukan Bapak kamu!”   Rena tersenyum. “Tapi Pak—”   “Kamu cerewet sekali. Aku sedang sakit! Dan kamu harus bertanggung jawab untuk merawatku!”   “Iya iya, saya minta maaf. Saya akan minta tambahan cuti nanti. Untuk memastikan anda sembuh total.”   Luke tersenyum senang. Ia merasa hatinya sangat tenang. Entah kenapa melihat senyum di wajah Rena membuat hatinya menjadi berdebar.   “Pak, bapak mau makan apa? Kok malah melamun terus!”   “Apa saja,” jawab Luke singkat. Ia belum berani banyak bicara. Karena setiap ia berbicara, perutnya akan terasa sangat sakit. Seperti ada yang ke tarik.   Rena memutar otaknya. Ia bingung harus membeli makan di mana. Dan ia juga belum pergi ke mana-mana. Tadi malam ia baru saja sampai. Dan memilih mencari makan di luar hotel. Niatnya ingin menghirup udara malam yang segar, tapi malah membawanya ke sebuah musibah ini.   “Saya belikan dulu ya Pak.”   Luke hanya mengangguk. Ia memerhatikan punggung kecil Rena yang berjalan meninggalkan ruang rawatnya.   Luke mengatur nafasnya. Ia menatap langit-langit ruang kamarnya yang aromanya sangat khas sekali.   Luke menyentuh dengan hati-hati perutnya yang terluka. Lalu ia memanggil dokter, ingin berbicara secara pribadi dengan dokter biar Rena tidak mencemaskannya.   Dokter datang ke ruangan Luke. Ia diperiksa dan Luke terlihat sangat tenang sekali.   “Apa saya bisa pulang dengan cepat?” tanya Luke. Bukan karena ia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit. Tapi di sini ia memikirkan rena yang tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jika mereka tinggal di hotel atau apartemen mungkin akan lebih nyaman untuk Rena melakukan kegiatan yang tidak membosankan.   “Kita lihat besok, kalau lukanya sudah mulai membaik. Maka saya akan menizinkan anda untuk melakukan rawat jalan,” ucap Dokter dan Luke langsung menganggukkan kepalanya.   Luke mencoba menghubungi rekannya yang berada di sana. Luke tidak membawa anak buah, sekretaris atau asisten saat pergi ke negara ini. Ia memang benar-benar ingin sendiri dan terbebas dari segala pekerjaan atau apa pun yang mengganggunya.   Luke meminta temannya untuk mencarikan apartemen yang memiliki dua kamar tidur. Luke ingin yang besar. Dan Luke juga meminta temannya untuk membelikan isi dapur, mulai dari buah-buahan serta kebutuhan pangan yang bisa mereka makan nanti.   Luke sedang menonton televisi saat melihat Rena kembali. Ia sebenarnya merasa kasihan dengan Rena karena harus pergi sendiri. Semoga saja besok Rena mau jika ia mengajaknya untuk tinggal di apartemen yang sama. Dengan begitu Rena bisa merawatnya juga.   “Pak makan dulu ya. Tadi saya sudah tanya suster makanan apa saja yang boleh anda konsumsi. Jadi jangan protes ya Pak. Kalau nanti rasanya sedikit hambar. Pokoknya Bapak tinggal nikmatin saja, anggap saja Bapak sedang memakan pizza yang lezat atau membayangkan apa saja deh pokoknya.”   Rena terus mengoceh dan Luke terus memerhatikan wajah cantik Rena yang terlihat kelelahan itu.   Luke terus mengedipkan kedua matanya. Ia tidak bisa memungkiri jika cerewetnya Rena benar-benar sama seperti mantan kekasihnya.   Rena menyiapkan makanannya, lalu ia melihat Luke yang terus menatapnya.   “Ada apa Pak? Apa benar bapak tidak menyukai makanan ini? saya tadi lupa bertanya sama Bapak.”   “Panggil saya Luke!” ucap Luke sambil memberikan tatapan mengintimidasi ke arah Rena. Sejak tadi ia merasa tidak enak jika mendengar kata Bapak. Memangnya dirinya sudah sangat tua apa sampai-sampai Rena sangat bersemangat sekali mengucapka kata Bapak.   Rena memperlihatkan deretan giginya. “Iya Pak, maaf saya lupa. Kan Pak lagi. Maksud saya Luke,” ucap Rena pelan.   Luke ingin sekali tertawa. Tapi ia tidak bisa, jadi ia menahannya.   Luke menerima suapan demi suapan dari Rena. Sesekali mereka berdua saling mencuri pandang.   Luke merasa sudah lama sekali ia tidak disuapi oleh seorang wanita. Ia merasa sangat nyaman sekali.   Luke tak henti-hentinya melihat wajah Rena. Dan Rena merasa sangat gugup. Ia jadi ingin sekali kabur dari tempat ini. Rena tidak terbiasa diperhatikan seperti ini. Dan sudah lama tak ada pria yang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam seperti ini.   Rena merasa bisa melihat ada sesuatu yang aneh dengan Luke. Ah, tidak mungkin. Lagi pula mana mungkin mereka memiliki rasa. Mereka saling mengenal karena pekerjaan. Tidak lebih dari itu.   Luke sudah menghabiskan makanannya. Rena memberikannya minum dan juga membersihkan bibir Luke.   Luke diam mematung. Ia menatap Rena dan bayang-bayang Aurora justru yang terlihat di wajah Rena.   “Ra …,” ucap Luke dan Rena pun langsung terdiam. Tangannya yang sedang memegang tisu, masih menyentuh bibir Luke.   “Ma-maaf Pak,” ucap Rena yang langsung membereskan sampah makanannya.   Luke memejamkan kedua matanya. Kenapa? Kenapa ia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu. Banyak wanita yang mendekati dirinya. Tapi Luke tetap menutup hati dan sama sekali tidak tertarik dengan para wanita itu.   Luke tahu, pasti Rena tersinggung. Biar bagaimana juga dia adalah wanita yang sedang merawatnya. Walau tidak memiliki perasaan apa-apa. Tapi yang namanya seorang wanita, ia tahu jika hati wanita itu sangat lembut.   Entah apa yang dirasakan Rena. Ia merasa hatinya tertusuk. Tercabik-cabik seperti seorang wanita yang sedang cemburu saja. Tidak mungkin juga aku tertarik dengan seorang bos. Dan siapa aku? aku hanya seorang wanita sederhana yang sedang meniti karir, batin Rena.   Rena mencoba mengabaikannya. Berusaha bersikap sewajarnya. Layaknya seorang adik yang sedang mengurusi kakaknya yang sedang sakit.   Rena jadi berpikir, kenapa liburan yang sudah ia nantikan sejak lama. Jadi harus berantakan karena ulah kecerobohannya sendiri. Andai saja waktu bisa diputar kembali. Ingin rasanya kembali ke masa sebelum ia memutuskan untuk liburan panjang.   Rena tidak bisa menyesalinya. Ini semua sudah terjadi. Mau tidak mau, ia harus melaluinya. Melewatinya bersama dengan Luke yang merupakan mantan kekasih bosnya.   “Pak, eh Luke. Diminum dulu obatnya. Biar cepat sembuh.”   Luke mengangguk dan ia meminum obat yang diberikan oleh Rena.   “Ren.”   Rena menatap Luke yang terlihat sangat serius sekali.   “A-ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?”   “Hmmm, besok kita tinggal di apartemen bersama mau?”   DEG!   Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD