Kalopsia 2

1703 Words
Aku pasrah dengan takdir. Walau waktu tak banyak membantu, Setidaknya ia menjadi saksi bisu untuk ku. Kadang keterpaksaan membuat kita semakin kuat. Yang bisa meruntuhkan keraguan-keraguan dalam hati. Bukalah mata, dan rasakan masih banyak orang yang peduli. Saat kita terjatuh, percayalah masih ada yang ingin mengulurkan tangan untuk kita. Karena bagi anjing pun, ia memerlukan tangan yang melemparkan tulang, bukan tulang yang di lemparkan oleh tangan. Waktu semakin lama semakin cepat. Tidak peduli walau manusia meresahkannya, dan banyak bertanya bahwa, “kenapa engkau begitu cepat? Padahal aku masih belum berguna kepada orang lain. Belum melakukan itu, belum melakukan ini. Padahal aku sudah merencanakan, nanti aku akan melakukannya, pasti akan ku lakukan. Dan saat itu tiba, aku tahu yang aku rencanakan terlalu membebani ku, dan aku berkata untuk melakukannya nanti dengan rencana yang berbeda.” Pertarungan sudah tidak terelakkan lagi. Lima lawan satu. Secara logika pasti kalian sudah tahu. Tapi Arya tetap memasang kuda-kuda, ia tahu bagaimana memukul tapi tidak dengan bertarung. Empat anak buah preman itu sigap mengepung di setiap sudut arah Arya. Kanan, kiri, depan, belakang. Preman itu juga memasang kuda-kuda. Nana sudah berlari ke arah toko, berlindung bersama Bibi Sati. Nama panik sekali. Entah apa yang akan terjadi kepada kakaknya. Tanpa aba-aba. Salah satu pukulan dari preman itu telak terkena perut Arya, ia tidak sempat menghindar. Ketua preman hanya melihat sambil menyeringai. Tersenyum dan tertawa lebar. Sedangkan Arya masih meringis kesakitan. Teras toko itu sepi, pelatarannya cukup luas, jadi mudah saja bagi empat preman itu menguasai pertarungan. Salah satu preman mencoba untuk menendang dari arah belakang, tapi Arya cepat menyadarinya. Tubuhnya menghindari tendangan itu, al hasil tendangan terkena udara kosong. Preman itu mengumpat pelan. Kesal karena tendangannya tidak kena. Nama menghela napas lega. Tapi jantungnya juga berdegup kencang. Air matanya sedikit keluar, ia tidak ingin Arya kenapa-kenapa. Nama ingin menyusul Arya dalam pertarungan tapi Bibi Sati cepat menarik tangannya. Sangat berisiko jika Nana ikut-ikutan. Tapi ia tidak ingin melihat Arya menjadi bulan-bulanan pukulan. Menjadi samsat empuk bagi empat preman. Arya telah siap kembali. Tangannya menggenggam erat. Wajahnya sudah kelelahan. Tapi preman itu tidak ada ampun, terus saja melancarkan pukulan. Sekali lagi pukulan lepas dari salah satu preman. Arya sigap mengganti posisi kakinya, pukulan itu terkena udara kosong. Dengan cepat, momen yang pas, tinju Arya menghajar ke arah perut preman yang sempat memukulnya tadi, tepat sasaran. Di tambah pukulan ke dua, masih tetap ke arah perut preman tadi. Tepat sasaran. Preman itu meringis kesakitan. Teman-teman nya semakin merasa jengkel. Mereka sama-sama langsung menghabisi Arya di setiap sudut. Tendangan telak terkena pinggang Arya, ia terselungkup. Ketika Arya masih menahan sakit, Kaki-kaki mereka cepat menendangi Arya dari atas. Lebam di sekujur tubuh. Nana menangis melihat itu, tidak ada belas kasihan. Hatinya sangat teriris, sakit sekali melihat kakak tercintanya membela adiknya yang tidak membantu apa-apa. Terpukuli hingga terselungkup seperti tidak berdaya sama sekali, pasrah dengan takdir. Saat itu juga, selama ada keyakinan dalam hati, bahwa tidak ada yang tidak peduli di dunia ini. Pasti keajaiban akan segera datang, seseorang melempar buah tepat ke arah kepala salah satu preman yang sedang sibuk menendangi Arya. Preman itu terkejut, lemparan itu cukup keras. Preman itu menghentikan tendangannya, mencari di sekitar siapa yang telah melemparinya buah bekas gigitan. Dari arah kanan terlihat santai seorang lelaki berjalan menghampiri ke empat preman tadi. Pemuda itu cukup tampan, garis wajahnya yang keras, dan rambutnya yang terpotong rapi. Di lihat dari mukanya, umurnya mungkin lebih muda dari Arya. Ketua preman terbelalak melihat siapa yang datang, begitu juga empat preman tadi. Mereka mengenal pemuda yang sekarang berada di depannya. “Jangan jadi pahlawan di siang bolong, Rosyid. Urus saja masalah mu sendiri. Jangan ikut campur. Apa kau sudah berdamai masa lalu mu? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan hah? Jika semua orang tahu, maka kau tak akan lagi di sukai.” Tak lama dengan cepat, pemuda yang bernama Rosyid tadi berlari cepat ke arah ketua preman tadi, dengan cepat Rasyid melancarkan tendangan cocoran, telak ke arah ulu hati ketua preman itu. Ia kesakitan setengah mati, terbatuk-batuk, mengguling-guling di tanah. Empat preman temannya segera menghampiri ketuanya, meninggalkan Arya yang masih tersungkur di tanah. Nana dan Bibi Sati segera menghampiri Arya, ia masih terbatuk-batuk kesakitan. “Kurang ajar kau!” umpat salah satu anak buah preman tadi. “Sini maju!” kata Rosyid santai. Salah satu preman memikirkan kondisi, menghitung keadaan dengan cepat. Empat lawan satu, mereka menang jumlah. Bisa saja mereka mengeroyok menyerang bersamaan secara langsung, seperti yang mereka lakukan kepada Arya. Tapi wajah Rosyid masih terlihat santai. Tidak ada yang perlu di khawatir kan. Mereka memasang kuda-kuda. Sebentar meninggalkan ketuanya yang masih terselungkup. Tendangan Rosyid tadi benar-benar telak. Rosyid dengan cepat memasang kuda-kuda. Kali ini benar-benar berbeda, kuda-kuda Rosyid sedikit merunduk, tangan kanannya mengapit di pinggang, dan tangan kirinya memasang pertahanan, seperti bunga melati yang sedang mekar. Preman itu tahu siapa Rosyid. Ia kenal betul seperti apa orangnya. Tapi hanya kali ini mereka menghadapi secara langsung. Ia pandai dalam bersilat, ikut dalam Perguruan. Sudah memegang sabuk biru. Preman itu tidak memikirkan semua kenyataan itu, tetap saja sehebat apa pun dia. Lawannya adalah empat orang, sekali lagi lara preman itu meyakinkan dalam hati jumlah lah yang memengaruhi hasil. Salah satu preman maju pukulannya mengarahkan ke wajah Rosyid. Dengan insting yang sudah lama di latih. Rosyid dengan mudah menghindari pukulan itu, menangkisnya dengan cepat, dan melancarkan tendangan keras ke arah bahu kanannya. Satu preman telah tersungkur. Demi melihat itu teman satunya juga berusaha melancarkan tendangan ke arah perut Rosyid. Ia bergerak lihai, tendangan itu tidak di tangkis, melainkan di pegang kemudian sedikit di tarik dan sentuhan terakhir, kaki preman itu di terbangkan dengan keras, sehingga preman itu limbung kehilangan keseimbangan. Itu adalah teknik Shower. Setalah tubuh preman itu mulai menyeimbangkan, dengan cepat dari arah belakang Rosyid mengunci leher preman itu. Preman itu tercekik kesakitan, Rosyid berbisik di telinganya. “Pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu orang lagi. Faham?” Kata Rosyid mengancam. Kemudian Rosyid melepaskan cekikan itu. Dua orang preman yang masih tersisa menimbang keadaan, tak lama mereka mengangkat ketua preman itu dan segera pergi. Yang barusan tercekik juga berusaha membawa temannya yang masih tersungkur karena tendangan Rosyid. Sambil tangan kanannya memang lehernya yang masih sakit. --- Siang itu tidak terlalu ramai di teras Bu Sati. Arya tersadar kan, tapi masih menahan sakit, ia di baringkan di atas kursi panjang di depan toko Bu Sati. Wajahnya lebam san bagian tubuh lainnya. “Apa harus di bawa ke rumah sakit?” Nana panik. Hatinya terus saja gelisah. Bu Sati menengok ke arah Rosyid, meminta pertimbangan. Jika di bawa ke rumah sakit. Takutnya nanti akan malah membuat kerusuhan, Rosyid tahu bahwa mereka berdua adalah urusan dari desa lain. Setidaknya kejadian ini hanya mereka saja yang tahu. Rosyid juga melirik ke arah Bu Sati, ia masih memasang wajah cemas. “Bagaimana kalau di obati dulu di rumah Abah,” saran Rosyid. Bibi Sati langsung mengangguk setuju. Tak lama Bu Sati menyiapkan dua sepeda motor, biar nanti Bu Sati yang membawa Nana dan Rosyid membawa Arya. Nana hanya diam mendengarkan. Wajah cantiknya basah karena tangisan. Ia tidak mengerti apa yang di maksud Bu Sati dan pemuda yang bernama Rosyid itu. Selama untuk keselamatan kakaknya, ia berani rela apa saja. --- Pukul dua siang. Matahari tidak terlalu panas kali ini. Awan tebal menutupi panasnya sebagian. Jadi suasana cukup bagus untuk beristirahat. Rumah yang biasa. Tidak berbeda jauh dengan yang lain. Keramik berwarna kuning dengan nuansa seperti biasanya itu berdiri di samping pohon mangga yang besar. Di samping rumah itu juga ada rumah penduduk lain. Mereka sudah sampai di rumah Abah. Dengan sopan santun Rosyid mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tak lama dari dalam rumah berjalan seseorang, sambil menjawab salam. Rosyid menyalami tangan Abah. Orang tua patih baya itu menggunakan peci hitam dengan sarung coklat dan kemeja batik. Layaknya penduduk biasa. Garis wajahnya seolah menggambarkan bahwa setiap kerutan memiliki arti perjuangan yang besar. Jenggotnya putih dan tampangnya berwibawa. “Ada apa, Rosyid?” tanya Abah. “Ini ada orang yang sedang terluka, Bah. Maaf sebelumnya karena lancang. Ia habis di pukuli oleh Geng Ego. Tobe beserta teman-temannya,” Terang Rosyid. Abah mengangguk-angguk. Segera mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Bibi Sati mengajak juga Nana masuk ke dalam. Rosyid menuntun langkah Arya. Tubuhnya terasa remuk semua. Rumah yang sederhana. Mereka pada duduk di kursi, Rosyid membantu Arya mengikuti Abah. Arya di giring menuju sofa yang sedikit lebih lebar. Arya di tidurkan di sana. Abah menyuruh untuk membuka baju Arya. Dengan segera Arya mengikuti perintah Abah. Terlihat lebam di setiap bagian. Nana meremas jemari, berdoa dalam hati semoga kakaknya sembuh dengan cepat. Abah menyuruh Rosyid untuk memasakkan air panas, dan mencari kain. Di sana juga ada istri Abah, duduk di samping Nana dan Bu Sati, ia sedikit berbincang dengan Bu Sati apa yang telah terjadi. Bu Sati menerangkan apa yang sedang terjadi dan menjelaskan siapa sebenarnya mereka berdua. Istri Abah undur diri. Ia membantu menyiapkan pengobatan, Rosyid mengambil lidah buaya dan rempah lain di depan rumah, yang memang sudah tersedia. Istri Abah memasakkan air panas. “Tenang saja, Abah sangat ahli dalam bidang pengobatan,” Terang Bu Sati, ia meyakinkan Nana agar tidak gelisah terus menerus. Setelah semua sudah siap, Rosyid juga sudah menyiapkan obat herbal. Air panas juga sudah siap, tak lama Abah mengambil kain dan mulai melakukan pengobatan alami. Semua bagian yang lebam di kompres dengan air hangat, kemudian di kompres dingin dengan es. Setelah semua selesai, inilah teknik Abah yang khas. Rosyid dan istri Abah serta Nana dan Bu Sati melihat Abah senang berkutat dengan obat-obatan herbal. Abah mulai menekan bagian tertentu tubuh Arya, seperti d**a dan telapak kaki. Mematoknya dan mengurut agar persendian dan pembuluh darah kembali normal, tidak tegang lagi. Juga untuk berpengaruh dalam cepat lambatnya proses penyembuhan. Arya meringis kesakitan saat Abah mulai mengurut. Arya di suruh untuk memejamkan mata dan menahan sakit. Sentuhan terakhir, Abah mulai memberikan obat herbal alami di setiap bagian yang lebam. Kemudian Arya di suruh untuk beristirahat dahulu. Kita bisa membeli makanan dengan uang tapi tidak bisa membeli nafsu makan. Kita bisa membeli jam dengan uang tapi tidak bisa membeli waktu. Kita bisa membeli pedang dengan uang tapi tidak bisa membeli kemenangan. Kita bisa membeli obat dengan uang tapi tidak bisa membeli kesehatan. Kita bisa membelikan seseorang dengan uang tapi tidak bisa membeli perhatiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD