Siang yang menegangkan. Tapi saat itu Nana sedikit ditenangkan. Kondisi Arya sudah mulai membaik. Tapi tubuhnya perlu istirahat lebih lama lagi.
Istri Abah duduk di sebelah Nana. Mumpung istri Abah di sini, Bu Sati izin untuk undur diri, masih banyak pekerjaan toko yang belum ia selesaikan. Begitu juga Rosyid, ia harus mengantarkan sepeda motor Bu Sati, Rosyid juga harus undur diri.
Setelah berpamitan dengan Abah dan istri Abah, Rosyid sebentar melirik ke arah Nana untuk pertama kalinya. Nana tak sengaja juga menatap mata Rosyid, kedua pandangan itu saling bertemu. Dengan cepat Rosyid memalingkan wajah dan mulai menghidupkan sepeda motor.
Setelah semua mengiringi kepergian Bu Sati dan Rosyid, Istri Abah dan Nana kembali masuk ke dalam rumah.
Istri Abah mengajak Nana untuk melihat ruang tamunya. Nana mengikuti arahan istri Abah, karena ia sebagai tamu, Nana tahu soal itu. Ia harus sesopan mungkin.
Ruangan itu bernuansa klasik. Tembok kokoh menutupi ruangan. Di tembok-tembok terdapat banyak bingkai pigura, terpajang rapi dengan fotonya yang beraneka ragam. Nana menyapu pandangannya, mendongak dan menyipitkan mata berusaha melihat lebih jelas lagi. Seperti tahu apa yang ada di pikiran Nana, istri Abah menjelaskan bahwa itu adalah foto Abah bersama teman-teman dan para muridnya, mereka membawa seragam Perguruan Tapak Suci. Terlihat juga foto Abah yang masih muda sedang berangkulan dengan seorang pria yang wajahnya tidak beda jauh dengan Abah, mungkin itu kerabat atau bahkan saudara. Yang di rangkul Abah seperti tidak asing bagi Nana, ia memutar otaknya apa ia pernah menjumpai pria ubah sama? Di mana? Kapan? Entahlah?
Semakin ke kiri terlihat foto Abah sedang menerima penghargaan kejuaraan lomba sabung. Medali tergelantung di lehernya dengan riang Abah tersenyum saat itu mungkin usia Abah masih cukup muda.
Dan tepat berada di pojok ruangan terdapat lemari kayu dengan berbagai piala dan penghargaan. Tepat di atas lemari itu bendera lambang Tapak Suci besar terlihat. Di bawah bendera itu menyilang kosegu, s*****a serba guna milik Tapak Suci. Banyak sekali prestasi yang di raih oleh Abah, masa muda yang gemilang itu akan tetap terus terkenang sampai kapan pun. Lemari yang berisi piala dan penghargaan itu mengingatkan Nana ketika berkunjung ke rumah Sakinah. Bedanya rumah sakinah terpajang beraneka ragam piala lomba mata pelajaran. Dan juga di rumah Sakinah terdapat sedikit tentang Tapak Suci.
“Nama kamu Nana kan?” tanya istri Abah memperjelas.
Nana mengangguk. “Iya, Bi.”
Istri Abah tahu namanya dari Bu Sati, ia yang menjelaskan semua kejadiannya hingga memberi tahu status baru mereka berdua ke istri Abah.
“Sementara kalian bisa menginap di sini. Masih ada kamar kosong. Biarkan sementara Kakak mu pilih dengan sempurna. Baru kalian boleh pulang,” Tawar istri Abah.
Nana mengangguk itu keputusan yang bijaksana. Ia tidak mungkin bisa merawat di rumah penginapan sendirian. Awalnya Nana ingin menghubungi ayahnya, tapi urung. Abah mencegahnya, nanti malah ada salah sangka dari kedua belah pihak. Biar desa ini yang mengurus semuanya, meminta maaf apa yang sedang terjadi terhadap tamunya. Karena juga mereka sedang bertugas di desa ini, siapa pun mereka jika di ganggu dengan geng Tobe, itu juga hak atas tanggungjawab desa ini.
---
Siang mulai hilang. Di ganti dengan sore yang sejuk. Nana masih duduk di samping Arya. Abah dan istrinya ada keperluan, meninggalkan sepasang saudara itu sendirian di ruang tamu.
Nana menatap wajah lebam Arya. Ia memegang lembut tangan Arya, mengelus-elus. Jika ia tidak ikut pergi ke toko, mungkin kakaknya tidak akan sampai seperti ini. Nana menyalahkan dirinya dalam hati. Lihatlah, kakak tercintanya berbaring tidak sadarkan diri sambil sesekali meringis menahan sakit. Nana mulai mengumpat dirinya dalam hati. Seolah kehidupannya tidak berharga, ia hidup hanya menyusahkan orang lain. Tidak ada artinya. Jika pemuda yang bernama Rosyid itu tidak datang, entah apa yang selanjutnya terjadi dengan kakaknya.
Perlahan matanya mulai menitikkan air mata. Ia sangat sedih sekali. Tidak ada yang ia punya sekarang ini. Hanya kakaknya saja. Keluarganya jauh berpuluh kilo meter di sana. Toh jika Nana kembali bersama keluarganya mungkin juga tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Hanya Aryalah yang tahu kesedihan dalam hati Nana. Kedua saudaranya di rumah mungkin tidak memberi pengaruh besar terhadap dirinya.
Ruangan itu sepi. Cahaya sore berpendar menembus celah jendela dan pintu. Membuat suasana semakin syahdu. Gadis cantik itu masih dalam posisinya. Tertunduk pilu. Hingga ia tidak sadarkan diri, sama sel lain tidak sadar. Kehadiran seseorang yang sudah lama berdiri di belakangnya.
Ketika Nana mulai menitikkan air matanya lagi, ada sebuah tangan menyodorkan tisu di sampingnya. Dengan cepat Nana mendongak, berusaha melihat siapa sosok itu.
“Jangan terus menangis. Itu tidak akan memperbaik keadaan,” Kata Rosyid. Sejak tadi ternyata pemuda itu berdiri di belakang Nana. Menyaksikan Nana sedang menangis. Entah kapan ia sudah kembali dari mengembalikan sepeda motor Bu Sati, dan kenapa ia di sini? Apa ia tidak pulang? Apa mungkin pemuda yang bernama Rosyid ini anak Abah?
Nana sedikit kikuk mengambil tisu di tangan Rosyid, ia mengusap matanya yang basah. Rosyid melihat wajah Nana yang lebih baik, lebih ceria lagi. Itu mendingan dari pada melihat Nana terus bersedih.
Rosyid masih memasang muka dingin. Memang sejak bertemu dengan Nana ia tidak terlalu tertarik dengannya. Berbeda dengan kebanyakan orang yang terpesona melihat Nana yang cantik dan putih. Nyaman di mata.
“Setidake panjenengan ados sek, cek seger,” kata Rosyid dengan bahasa daerah. Demi mendengar apa yang barusan yang di katakan Rosyid, Nana memasang wajah tidak mengerti.
“Hah, setidaknya kamu mandi dulu sana, biar segar. Mungkin istri Abah punya pakaian yang cocok untuk mu. Biarkan kakak mu beristirahat, jangan ganggu dia. Jika dia tahu bahwa kamu terus bersedih, ia juga nanti ikutan sedih,” terang Rosyid.
“Kamar mandi di sebelah kiri samping dapur. Aku mau ke depan dulu.” Rosyid melangkah menuju teras, tatapannya tetap dingin. Kedua tangannya masuk saku. Seolah ia habis berbicara kepada teman lama yang sudah saling kenal, biasa saja.
Nana masih menatap punggung Rosyid, dan kemudian hilang di balik pintu. Dalam benaknya ia berpikir, benar juga apa yang di katakan pemuda yang bernama Rosyid barusan. Tangisan tidak akan mengubah kenyataan, jika terus bersedih maka itu sama saja membuat orang yang kita sedihkan juga ikut sedih. Baiknya ia juga mandi, menyegarkan tubuhnya. Biarkan kakaknya beristirahat dahulu.
Entah kenapa kali ini hatinya sedikit tersentuh dengan orang lain. Biasanya ia tidak ingin menerima siapa pun dalam hatinya, salah satu alasannya adalah karena ia takut suatu saat orang yang di terimanya itu malah membenci dirinya. Malah membuat mereka sengsara. Siapa pun orang itu.
Setalah melihat wajah Rosyid yang dingin seolah seperti tidak terlalu memedulikan orang lain, tapi rasa khawatirnya besar. Bisa dilihat dari matanya yang selalu redup. Dan bertingkah dengan santai dan hati-hati. Serta mengambil keputusan yang bijaksana.
Cahaya matahari sore membuat seisi ruang tamu itu di balut dengan nuansa yang agung. Hati Nana sedikit tergerak. Ia ingat ketika dulu waktu kecil ia pernah di selamatkan dengan seseorang yang ingin melindunginya, namun orang itu tertusuk, bahkan yang paling Nana sesali sampai saat ini adalah ia tidak sempat mengucapkan “Terima kasih” kepadanya. Dan sekarang, kejadian yang sama terulang, Nana telah di selamatkan oleh pemuda yang tidak ia kenali, datang begitu saja tanpa di panggil, dan seolah seperti pahlawan menumbangkan tiga orang preman sekaligus. Nana belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya, pemuda yang bernama Rosyid itu, yang telah merubah kenyataan pahit hidupnya, walau tidak sepenuhnya, tapi setidaknya hati kecilnya sedikit terobati.
Entah kapan Nana akan mengucapkan terima kasih kepada Rosyid. Biarkan waktu yang menjawabnya. Sejatinya karena keadaanlah kita bisa berubah, bukan karena usia.
---
Malam mulai matang. Arya belum juga sadarkan diri. Masih berbaring di sofa ruang tamu milik Abah. Beberapa kali Abah mengganti obat herbal yang menutupi lebam di sekujur tubuh Arya. Menggantikannya dengan yang baru.
Nana sudah segar, ia mengganti pakaian dengan milik istri Abah yang masih layak di pakai. Cocok di kenakan oleh Nana, ia juga tidak keberatan. Pakaian itu milik istri Abah yang dulu di kenakan saat ia masih di jenjang SMK. Nana tampak cantik menggunakan pakaian itu. Rambutnya tergerai lurus ke bawah, poninya bergoyang anggun. Kulitnya putih bersih seperti biasa, menurun dari ibunya yang juga manis dan cantik.
Nana keluar mencari udara segar. Pelataran rumah Abah cukup luas. Rumput hijau memenuhi setiap sudutnya. Di ujung terdapat jalan. Di samping rumah Abah terdapat rumah penduduk lain. Pelataran luas itu hingga ke depan rumah mereka.
Suasana pedesaan yang asri. Nana teringat ketika dulu berada di rumah, kampung halamannya. Suatu ketika ia berjalan dengan ayahnya melihat perbukitan yang meliuk serta pegunungan yang menjulang tinggi. Saat itu sore tiba, tepat ketika sekarang Nana saksikan saat ini. Matahari mulai tumbang membawa keindahan yang tiada tara. Kadang orang menyebut pemandangan indah matahari terbenam ini dengan sebutan swastamita, itu adalah sebutan bagi keindahan yang tiada tara. Langit berwarna jingga, awan-awan berarak membentuk barisan.
Nana mendongak, sebentar menutup mata. Dan menghela nafas panjang. Merasakan indahnya sore itu.
“Apa kau suka pemandangan seperti ini?”
Nana terkejut. Ia mencari sumber suara. Ternyata di belakangnya berdiri Rosyid, entah dari kapan ia berdiri di situ. Nana membenarkan anak rambutnya, menundukkan kepala, sedikit malu-malu.
Nana tidak menjawab, ia mengangguk-angguk. Ini adalah kesempatan baginya untuk mengucapkan terima kasih.
Rosyid memandang Nana tidak paham, kemudian kembali menatap cahaya matahari senja, matanya masih redup. Seolah menyimpan kengerian yang hebat. Tinggi Nana sebahu Rosyid, rambut Rosyid yang lurus dan tapi terpapar cahaya kemerahan.
“Ada juga yang indah selain pemandangan matahari terbit ini,” Kata Rosyid datar.
Nana tidak paham apa yang di bicarakan Rosyid. Ia melanjutkan, “Kau tahu kan nanti malam adalah malam apa?”
Sekali lagi Nana mengangguk. Sekarang adalah hari minggu, jadi malam nanti adalah malamnya.
“Malam nanti akan ada pemandangan indah yang akan menghiasi malam. Lebih hebat dari pemandangan sore ini, lebih merah dari warna matahari saat ini. Lihat saja nanti, kau akan tahu. Mumpung kalian ada di sini, jadi aku anggap kalian tamu,” Terang Rosyid. Kemudian ia kembali ke dalam rumah.
Nana tidak mengerti arah pembicaraan Rosyid. Nanti malam? Ada apa? Bukannya malam minggu adalah hati istimewa untuk orang berpacaran? Apa itu yang di maksud Rosyid? Apa pun itu yang terpenting ia tidak sempat mengucapkan “Terima Kasih”.