Ara keluar dari ruangan Putra, gadis itu mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang. Setelah mendapati orang yang ia cari, Ara mendekatinya. "Ndi, ada yang ingin aku bicarakan." Andi mengangguk menatap gadis itu. "Ada apa?" Ara mengambil napas dalam-dalam, ia menatap lekat mata Andi. "Aku pernah melihat jenazah anak-anak korban pemujaan di kuburkan ditempat yang tak layak, tak jauh dari desa ada sebuah tempat yang jalannya dipenuhi semak belukar dan jalanan yang tak layak pakai. Kenapa mereka disemayamkan disana?" Ara ingat saat masih awal-awalnya mereka disini, dia dan Dinda membuntuti warga yang hendak mekakamkan jenazah. Bukannya di kubur pada pemakaman umum, korban itu malah di kuburkan ditempat entah apa namanya. "Sebenarnya tempat itu adalah tempat khusus yang diperuntukk

