Malam semakin gelap, desiran angin mengajak orang-orang untuk merapatkan selimut tebal mereka. Tapi tidak bagi Dinda yang kini sedang menelan ludah susah payah, kini dihadapannya ada lima sampai tujuh orang yang bertugas mencekal gerak-geriknya. Jangan lupakan tombak dan obor api yang menyala-nyala seakan ingin melahap tubuh mungilnya, menoleh pun leher terasa kaku. Ia menghitung pergerakan, matanya mengawasi gerakan Algojo yang bersiap memutuskan tali jeratan dan membiarkan seseorang diatas sana jatuh ke bawah di telan oleh panasnya air kuali. Sedangkan tak jauh dari tempat dimana kuali besar itu berada, Vivian merapalkan mantra-mantra sekte untuk segera menumbalkan putranya sendiri. Dinda berlari mencari celah agar bisa menghentikan pergerakan Algojo, tapi ia lebih dulu t

