39 : TEROR

1020 Words

Malam semakin larut, angin berhembus kencang nan menusuk tulang. Ruang tamu yang tadinya sepi senyap berubah ramai seketika. Bukan ramai oleh kebahagiaan, tapi ramai karena kesedihan. Tiga remaja duduk saling berdampingan, mereka menceritakan kronologis yang mereka alami, semuanya tanpa terkecuali. Dinda melirik takut-takut pada Paman dan Tantenya, setelah mendengar kejujuran dari anak-anaknya, Amina tak kuasa menahan air mata. “Lalu bagaimana keadaan kalian selama ini? Kenapa kalian menyembunyikan semuanya, tak bisakah kalian jujur dan terbuka terhadap orangtua?” Ara termenung mendengar kemarahan Mamanya, baiklah ia memang salah selama ini. “Ara! Kamu adalah kakak tertua, kamu panutan untuk mereka. Seharusnya kamu tidak gegabah dan membuat semuanya menjadi kacau, sekarang kakekmu d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD