Ketiga remaja itu bersembunyi dibalik semak-semak belukar ditengah gelapnya malam, matanya terus mengamati gerak-gerik seseorang yang kini menjauh dari bangunan reot. Ara memincingkan mata, berusaha mengingat siapa orang itu. Dari tadi mereka tidak kembali ke rumah, melainkan memutar mencari pintu belakang agar tidak terpergoki. Seorang pria paruh baya seumuran dengan Ayahnya ternyata masuk ke dalam ruangan tempat Putra dipasung, mereka hanya melihat dari siluet hasil terangnya bulan. "Siapa orang itu?" Tanya pemuda yang tak lain adalah Aris, ia menepuki pipinya yang sempat di hinggapi nyamuk. Ara menggeleng. "Entahlah, aku susah mengingatnya." "Berarti kakak sempat tahu dong?" Kini giliran Dinda yang berbisik. "Ya, wajah itu seperti tidak asing bagiku." "Coba kak Ara ingat-

