6. De Javu

706 Words
Chris melangkahkan kakinya menyusuri area perkebunan anggur yang dihias dengan dekorasi bunga dan pita. Di depannya, Scarlett berjalan dengan anggun mengenakan dress tipis hitam yang menampakkan siluet tubuhnya. Scarlett membawa tubuhnya menghampiri kedua orang tuanya yang telah datang terlebih dahulu. Ia mengecup kedua pipi orang tuanya sebelum ikut duduk di samping ibunya dengan Chris yang berdiri tak jauh di belakangnya. Acara berlangsung meriah, semua tamu menikmati dansa dan beberapa jamuan ekslusif yang disediakan, terutama minuman anggurnya yang terkenal akan kualitasnya. "Ayo, sayang... Dansa bersamaku." ajak Thomas dikala semua tamu sudah beranjak dari kursi masing-masing ke arah depan yang lebih luas untuk melakukan dansa dengan pasangannya. Scarlett menggelengkan kepalanya, "No... Ayah seharusnya membawa ibu berdansa, bukan diriku." Perempuan itu merasa tak percaya diri karena merasa tak ada pengalaman dalam berdansa. "Ibumu sudah bosan ribuan kali berdansa dengan ayah, dan aku ingin berdansa denganmu kali ini." ujar Thomas seraya membawa lengan Scarlett untuk berdiri. "Aku tidak bisa, ayah..." tolak Scarlett beberapa kali, namun Thomas tak menghiraukannya dan terus menyeret sang putri ke kumpulan orang-orang yang tengah berdansa bersamanya. Dengan gugup, Scarlett memeluk leher sang ayah dan mulai mengikuti gerakan kakinya. Matanya menatap manik sang ayah yang ternyata tengah memperhatikannya sedari tadi, "Seharusnya kau lihat mataku selama berdansa." ujar Thomas dengan senyumannya. Namun Scarlett merasakan sesuatu yang tak beres, kepalanya tiba-tiba merasa berputar, dan bayangan ayahnya berganti dengan sosok asing yang tak dikenalnya. Kata-kata ayahnya barusan, mengingatkannya akan seseorang. Namun siapa? Scarlett memejamkan matanya beberapa saat menghalau rasa sakit di kepalanya, membuat kening Thomas berkerut, "Kenapa sayang? Kepalamu sakit?" tanya Thomas khawatir. Scarlett kembali membuka matanya perlahan, lalu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, ayah. Aku baik-baik saja." ucap Scarlett menenangkan. "Gerakanmu tak seburuk yang kukira, sayang." ujar Thomas seraya terus melangkahkan kakinya menikmati alunan musik bersama putrinya. Scarlett hanya terdiam membisu, merasakan sebuah de javu. **** Setelah jamuan makan dan dansa berakhir, pemilik pesta, Tuan Fransisco membawa semua tamu ke area barat perkebunan, dimana tak jauh disana, ada sebuah istal kuda yang luas dan terdapat beberapa jenis kuda disana. Scarlett menatap kagum setiap kuda tangguh yang dilihatnya. Lalu, matanya tertuju pada sebuah kuda hitam yang menarik perhatiannya, ia menghampirinya dengan penuh minat. "Aku tidak yakin kau bisa menungganginya, Nona Scarlett. Mengingat masa lalumu yang tak jelas." ujar seorang perempuan paruh baya yang datang menghampirinya bersama seorang gadis muda. "Ibu, jangan bicara seperti itu, aku yakin Nona Scarlett sangat piawai akan segala hal." timpal gadis muda yang pernah menghampiri Scarlett di pesta keluarga Aston. Scarlett terdiam tak menoleh sekalipun, apalagi menanggapi mereka, matanya terus menyusuri bagian depan kuda yang nampak cantik dengan rambut hitamnya yang menjuntai. Perempuan paruh baya itu sedikit mendengus melihat Scarlett mengabaikannya. Lalu mengajak sang anak untuk pergi dari sana. "Aku ingin menaiki kuda ini." ucap Scarlett lantang. Orang-orang di sekitarnya menoleh kepadanya, memandang penasaran dan menantang melihat perempuan anggun seperti Scarlett ingin menaklukkan kuda jantan itu. "Apa yang kau bicarakan, sayang? Kau bisa terluka." timpal Maria mengkhawatirkan anaknya. "Aku sudah berkenalan dengannya, ibu. Dan dia mau aku tunggangi." balas Scarlett menenangkan. "Chris, ambilkan aku ikat rambut!" titah Scarlett kepada Chris yang sedari tadi diam di belakangnya. Chris dengan cepat memberikan sebuah ikat rambut berwarna putih dengan motif polkadot yang melingkar di lengan kirinya. Scarlett menatap heran akan kecekatan Chris yang telah menyediakan ikat rambut untuknya. Namun Scarlett tak ingin terlalu memikirkannya, ia segera mengikat rambutnya sebelum kemudian menaiki kuda itu dengan cekatan. Membuat orang-orang yang melihatnya terpana, tak menyangka putri Harisson itu terlihat pandai menunggangi kuda yang terkenal liar itu. "Chris, ikut naik ke atas kuda! Aku tidak mau putriku terluka!" titah Thomas sedikit panik akan tindakan spontanitas putrinya. "Tidak perlu." tolak Scarlett. "Aku bilang tidak, Chris!" teriak Scarlett melihat Chris yang berancang-ancang menaiki kuda yang tengah ditungganginya. "Ck, siapa sebenarnya tuanmu itu?!" sungut Scarlett yang kesal karena pengawalnya itu lebih menuruti perintah ayahnya. "Aku menuruti perintahmu, namun aku lebih patuh pada perintah ayahmu." "Mereka terlalu berlebihan!" "Mereka hanya mengkhawatirkan mu, nona." "Diamlah! Biarkan aku yang mengendalikan kudanya!" Chris terdiam, membiarkan Scarlett membawa kuda melaju perlahan. Ia hanya ingin melihat seberapa kemampuan Scarlett dalam mengendalikan kuda. Namun tatapan Chris kini tertuju ke belakang kepala Scarlett, sebuah bekas jahitan nampak terlihat di sela-sela rambutnya yang terikat. Membuat benaknya bertanya-tanya apa yang telah dialami sang nona sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD