9. Perdebatan Ayah Dan Anak

1278 Words
Deretan rumah-rumah megah bak istana terlihat dari dalam mobil. Barisan pohon-pohon hijau nan rindang pun menghiasi perjalanan mereka menuju rumah orang tua Yocelyn yang hanya tinggal beberapa blok saja. Sebelum menjadi artis terkenal, keluarga Yocelyn memang merupakan keluarga yang berada. Pekerjaan Papa Yocelyn yang seorang direktur utama sebuah perusahaan suplier makanan ke restoran-restoran terkenal di Jakarta yang membuat keluarga Yocelyn hidup amat sangat berkecukupan. Hanya orang-orang yang memiliki kekayaan di atas rata-rata yang mampu membeli rumah di sini. Blok rumah Yocelyn tepat di samping kantor pemasaran perumahan Pondok Indah ini. Pagar besi yang tinggi dan berwarna emas telah terlihat oleh Yocelyn. Ketika Pak Jo membunyikan klakson terlihat seorang lelaki yang tak lain adalah seorang satpam di rumah Yocelyn berlari kecil segera membukakan pintu gerbang itu untuk nona mudanya. Begitu satpam itu mendekat Pak Jo dan Nadine pun membuka kaca mobil dan menyapa beliau. “Pagi Pak,” sapa Nadine hangat. “Pagi Mbak Nadine, Non Yocelyn, dan Pak Jo,” jawab satpam itu. Hati Yocelyn berdebar sangat kencang begitu Pak Jo mematikan mesin mobil. Berat sekali rasanya untuk turun dari mobil. Jika saja bukan orang tuanya yang memintanya datang kesini, Yocelyn pasti akan mengacuhkan perintah ini. Ingin sekali rasanya dia pergi saat ini. “Kamu sudah siap?” tanya Nadine. “Ya, mau tidak mau aku harus siap kan!” ucap Yocelyn lesu. “Sabar dan tenang ya, apapun yang akan terjadi di dalam aku mohon kamu sabar dan jangan membuat keadaan semakin keruh,” perintah Nadine. Yocelyn hanya mengangguk tak menjawab sedikit pun ucapan Nadine. Di depan pintu Kalila sudah menunggu kehadiran putri kesayangannya itu. Dia tersenyum begitu hangat begitu melihat Yocelyn turun dari mobil. Kerinduannya pada putri semata wayangnya membuat Kalila merentangkan tangannya ingin segera melepas rindu dengan memeluk putrinya sangat erat. “Mama rindu sekali sama kamu Sayang,” ucap Kalila sambil memeluk erat putrinya itu. “Celyn juga sangat merindukan Mama, Mama sehat kan Ma?” tanya Yocelyn masih dalam pelukan ibunya. “Iya sayang, Mama sehat-sehat saja,” jawab Kalila sambil melepaskan Yocelyn. Adegan berpelukan ini sudah seperti mereka tidak pernah bertemu dalam waktu yang lama, padahal mereka masih tinggal dalam satu kota. Setelah sesi pelukan usai kini tiba Nadine yang menyapa Kalila. “Hai Tante apa kabar, sehat?” tanya Nadine. “Halo Sayang, alhamdulillah Tante sehat-sehat saja, terima kasih ya Dine, kamu selalu menjaga Yocelyn dengan baik,” ucap Kalila. “Iya Tante, sama-sama,” kata Nadine sambil tersenyum. “Mari masuk, papamu sudah menunggumu sejak tadi,” ajak Kalila sambil menggandeng tangan Yocelyn. Rumah yang begitu megah ditambah dengan pernak-pernik yang terlihat mahal semakin melengkapi rumah megah yang lebih cocok di sebut istana ini. Yocelyn pun memberi salam ketika dia memasuki rumah itu dan menangkap sosok Mahardika tak jauh dari tempatnya berdiri. Mahardika yang menyadari kehadiran Yocelyn segera menghampiri Yocelyn dan .... Sebuah tamparan yang keras mendarat di pipi Yocelyn yang mulus dan licin itu. Tamparan Mahardika begitu keras hingga membuat tubuh Yocelyn limbung dan segera di tangkap oleh Nadine. Semua orang terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan Mahardika, namun hanya Kalila yang mampu bersuara. “Papa! Apa yang Papa lakukan pada anak kita Pa?” teriak Kalila sambil mengelus pipi putrinya. Yocelyn meringis kesakitan begitu salamnya di sambut tamparan keras dari ayahnya. Nadine yang tak berkutik hanya bisa menunduk dan masih merangkul Yocelyn. Dia memang managernya Yocelyn tapi kalau sudah menyangkut soal urusan keluarga, maka Nadine sudah tidak bisa berbuat seenaknya saja. Terlebih ayah Yocelyn sama sekali tidak menyetujui keputusan putrinya dari awal. “Dia pantas mendapatkan ini Ma,” ucap Mahardika penuh emosi. “Pa, ingat sekalin dia berbuat kesalah tapi dia tetap anak kita Pa. Papa tidak seharusnya menampar Celyn seperti itu,” ujar Kalila. “Papa sudah bilang bahwa Papa tidak setuju dia menjadi artis, berulang kali Papa ingatkan dia bagaiaman dunia entertaiment itu tapi dia tetap saja membangkang malah seolah menantang Papa. Dan sekarang lihat apa yang sudah dia lakukan?” hardik Mahardika. “Tapi setidaknya kita dengar dulu penjelasan dari Celyn, Pa. Kita harus memberi kesempatan pada Celyn untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi bukan langsung dengan kekerasan seperti ini,” ucap Kalila membela anak sematawayangnya. “Sudahlah Ma, jangan terus membela anak ini, semakin dia di bela semakin dia menginjak-injak kita sebagai orang tuanya,” cetus Mahardika. Yocelyn dan Nadine masih tidak bersuara karena mereka benar-benar tidak menyangka kalau papanya Yocelyn akan bertindak sekeras ini. Yocelyn sendiri merasa sangat terkejut akan sikap papanya. Ini pertama kalinya dia mendapat tamparan dari papanya. “Celyn apa semua fasilitas yang papa berikan untukmu itu kurang, sehingga kamu masih saja terjun di dunia yang seperti itu?” tanya Mahardika dengan suara lantang. “Dunia seperti apa yang Papa maksdud, Pa?” seloroh Yocelyn tak kalah galak. Dia merasa tersinggung begitu papanya menyebut kata dunia yang seperti itu. “Ya, dunia keartisanmu yang sama sekali tidak ada artinya, kalau memang kamu butuh uang papa akan berikan kamu berapapun yang kamu minta, bukan malah kamu terjun di dunia yang penuh dengan masalah seperti ini,” cecar Mahardika. “Pa! Ini bukan hanya soal uang, tapi soal hoby dan impian Celyn, tolong lah Papa mengerti,” ujar Celyn. “Hah! Impian! Impian yang bagaimana yang kamu maksud? Impian untuk melakukan hal-hal bodoh di pesta malam seperti yang baru saja kamu lakukan? Atau impian untuk muncul di semua acara gosip?” tanya papanya seolah meledek Celyn. “Pa! Semua itu tidak seperti yang papa lihat dan pikirkan, Celyn akan jelaskan semua yang sebenar-benarnya Pa,” ucapnya. “Papa tidak mau mendengarkan alasan apapun itu, yang papa minta adalah kamu tinggalkan dunia yang tidak karuan itu atau papa akan mengusirmu dari keluarga ini,” ancam Mahardika. Mata Yocelyn seketika melebar seolah ingin keluar dari tempatnya. Ingin sekali Yocelyn menjawab perkataan papanya namun segera di halang oleh Nadine. Nadine meremas tangan Yocelyn supaya dia tidak menjawab perkataan Mahardika barusan. Yocelyn menoleh ke arah Nadine dan menghela napas tanda dia sudah tidak sabar lagi dengan perlakuan papa nya ini. Kalila yang sudah tidak tahan dengan perilaku suaminya ini mulai tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dia begitu syok mendengar perkataan suaminya yang ingin membuang anak kandung mereka sendiri. “Papa! Apa Papa sudah gila? Celyn itu anak kita Pa, anak kita satu-satunya. Bisa-bisanya Papa berbicara seperti itu pada Celyn, Mama kecewa Pa!” Air mata Kalila sudah mulai tumpah. “Dia saja sudah tega mencoreng nama baik kita demi profesinya yang tidak berguna itu Ma, mengapa kita tidak boleh tegas padanya? Dia anak perempuan Ma, apa kata orang kalau kelakuan dia seperti orang yang tidak berpendidikan. Demi ketenaran dia rela melakukan ini semua. Apa dia tidak bisa membuat prestasi lain untuk mendapatkan ketenaran?” kata Mahardika panjang lebar. “Celyn tidak akan meninggalkan dunia keartisan begitu saja Pa, semua itu impian Celyn, apa papa tega menghancurkan impian anak papa ini?” kata Celyn mencoba meluluhkan hati papanya. “Apa kamu lupa siapa Papa?” tanya Mahardika. Tidak, bukannya Yocelyn melupakan strata keluarganya. Hanya saja Yocelyn ingin memilih jalan hidupnya sendiri. “Tapi Pa-" Gadis itu masih berusaha membela dirinya. “Cukup Celyn! Apapun yang papa katakan tidak akan Papa tarik kembali!" cecarnya. “Papa jahat!” ucap Yocelyn dengan suara bergetar. “Ya, Papa memang jahat, itu semua demi kamu. Tapi kalau kamu tetap tidak mau mendengarkan nasihat papa dan menuruti permintaan papa itu berarti kamu sudah siap hidup tanpa Mama dan Papa!” Keputusan Mahardika tidak dapat lagi terbantahkan. “Cukup Pa! Cukuppppp!” teriak Kalila menghentikan perdebatan suami dan anaknya itu. “Mama tak habis pikir Papa masih saja menyalahkan Celyn sampai papa tega mengusirnya, Celyn itu anak kita Pa, dia anak baik, dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya, mama percaya itu Pa,” ucap Kalila berharap suaminya akan mengerti. Mahardika tidak mengatakan apa-apa lagi. Sedangkan Yocelyn sudah mulai menangis melihat situasi ini. Nadine yang sampai detik ini masih diam tidak tahu harus berbuat apa masih terus merangkul Yocelyn menguatkan dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD